Rabu, 20 Februari 2013

2015 Indonesia Pecah?


Djuyoto Memprediksi Tahun 2015 Indonesia Pecah. Beragam reaksi dan tanggapan muncul ketika wacana tentang masa depan Indonesia, yang juga dijadikan judul buku oleh Djuyoto Suntani, itu muncul dalam acara Dialog Kebangsaan berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok sekaligus peluncuran buku tersebut. Komentar bernada pesimis, optimis, hingga rasa tidak percaya silih berganti diberikan oleh berbagai pihak yang hadir di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial kemarin. Mungkinkah Indonesia benar-benar akan ‘pecah’ pada tahun 2015?

Djuyoto Suntani, sang penulis buku, menyatakan dalam bukunya paling tidak ada tujuh faktor utama yang akan menyebabkan Indonesia “pecah” menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil di tahun 2015. Kepingan negeri-negeri kecil itu sendiri menurutnya didirikan berdasarkan atas: 
    1. Kepentingan rimordial (kesamaan etnis),
    2. Ikatan ekonomis (kepentingan bisnis),
    3. Ikatan kultur (kesamaan budaya),

    4. Ikatan ideologis (kepentingan politik), dan

    5. Ikatan regilius (membangun negara berdasar agama).
Penyebab pertama adalah siklus tujuh abad atau 70 tahun. Dalam bukunya ia menuliskan;
“Seperti kita ketahui, semua yang terjadi di alam ini mengikuti suatu siklus tertentu. Eksistensi suatu bangsa dan negara juga termasuk dalam suatu siklus yang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum alam. Dia mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. 

Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah. Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). 

Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″. Dia pun menyatakan,“Selama ini saya selalu optimis, tapi melihat perkembangan di lapangan, apa yang terjadi pada sesama anak bangsa, sungguh mengenaskan. Irama perpolitikan nasional dewasa ini mengisyaratkan hitungan siklus bersatu dan bubar dalam tujuh abad, 70 tahun tampaknya kembali terulang. Berbagai fenomena alam yang menguat ke arah bukti kebenaran siklus sudah banyak kita saksikan. Pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik, tidak kunjung selesai, tulis Djuyoto. 



Penyebab kedua, Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa. Setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto, tidak ada tokoh nasional yang benar-benar bisa mempersatukan bangsa ini. Masing-masing anak bangsa selalu merasa paling hebat, paling mampu, paling pintar, dan paling benar sendiri. Para tokoh nasional yang memimpin negeri ini belum menunjukkan berbagai sosok negarawan karena dalam memimpin lebih mengutamakan kepentingan politik golongan/kelompok daripada kepentingan bangsa (rakyat) secara luas. Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan”. Katanya tegas.
 
Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana/uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan jadi Presiden; merupakan penyebab ketiga Indonesia akan pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Masing-masing tokoh ingin menjadi nomor satu di suatu negara. Fenomena ini sudah menguat sejak era reformasi yang dimulai dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah. 

Salah satu penyebab Indonesia akan pecah di tahun 2015 karena adanya konspirasi global. Ada grand strategy global untuk menghancurkan keutuhan Indonesia. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia atau bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai negara bangsa, tegasnya. Konspirasi global ini, Djuyoto Suntani melihat, terus bergerak dan bekerja secara cerdas dengan menggunakan kekuatan canggih melalui penetrasi budaya, penyesatan opini, arus investasi, berbagai tema kampanye indah seperti demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, kebebasan pers, kemakmuran, kesejahteraan, sampai pada mimpi-mimpi indah lewat bisnis obat-obatan terlarang dengan segmen generasi muda.
 
Penyebab utama kelima Indonesia akan”‘pecah” dalam penilaiannya adalah faktor nama. Apa yang salah dengan nama? Ternyata, nama Indonesia sesungguhnya berasal dari warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur alias Hindia Belanda. Kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas malah sering menyebut Indonesia dengan singkatan: In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau kalau diartikan secara bebas nama Indonesia sama dengan singkatan Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Pemberian nama Indonesia oleh Belanda memang memiliki agenda politik tersembunyi sebab Belanda tidak rela Indonesia menjadi bangsa dan negara yang besar. 

Nama orisinil kawasan negeri ini yang benar adalah Nusantara, yang berasal dari kata Bahasa Sansekerta Nusa (pulau) dan Antara. Artinya, negara yang terletak di antara pulau-pulau terbesar dan terbanyak di dunia sebab negara kita merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Bila para anak bangsa tahun 2015 mampu menyelamatkan keutuhan negeri ini sebagai satu bangsa, salah satu opsi adalah dengan penggantian nama dari Indonesia menjadi Nusantara. Nama Nusantara lebih relevan, orisinil, berasal dari jiwa bumi sendiri dan lebih membawa keberuntungan, pesan Djuyoto. Namun, karena perpecahan sudah di ujung tanduk, salah satu agenda dalam membangun komitmen baru sebagai bangsa dalam pandangannya adalah dengan cara (perlu direnungkan) mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Karena, nama memiliki arti serta memberi berkah tersendiri. 

Tidak hanya nama Indonesia yang bisa menjadi penyebab negeri ini pecah, nama Jakarta pun ternyata ikut berpengaruh terhadap keutuhan republik ini. Nama Jakarta, Djuyoto mengungkapkan, memiliki konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat. Bila kita ingin menyelamatkan Indonesia dari ancaman perpecahan serta punya komitmen bersama untuk membawa negara ini menjadi negara besar yang dihormati dunia internasional, maka nama ibukota negara seyogianya dikembalikan kepada nama awalnya yaitu Jayakarta. Nama Jayakarta lebih tepat sebagai roh spirit Ke-Jaya-an Ibukota negara daripada nama Jakarta, sarannya.  

Penyebab terakhir pecahnya Indonesia adalah gonjang ganjing pemilihan Presiden tahun 2014. Dia menyatakan dalam Pilpres 2009 bisa saja sejumlah tokoh yang kalah masih mampu mengendalikan diri tapi gejolak massa akar rumput yang berasal dari massa pendukung tidak mau menerima kekalahan jago pilihannya. Mereka lalu mempersiapkan diri untuk maju bertarung lagi pada Pilpres 2014. Pilpres 2014 adalah puncak ledakan dashyat gunung es yang benar-benar membahayakan integrasi Indonesia. 

Menurut Djuyoto dari informasi yang ia peroleh di seluruh penjuru Tanah-Air, indikasi karena gengsi kalah bersaing dalam Pilpres Indonesia lantas mengambil keputusan radikal dengan mendeklarasikan negara baru bukanlah sekedar omong kosong tapi akan terbukti. Pergolakan alam negeri ini seperti gunung es yang tampak tenang di permukaan namun setiap saat pasti meletus dengan dashyat. Djuyoto Suntani menjelaskan, pada Pilpres 2014 bakal bermunculan figur dari berbagai daerah yang mulai berani bertarung memperebutkan kursi RI-1 untuk bersaing dengan tokoh nasional di Jakarta. Para tokoh daerah sudah dibekali modal setara dengan para tokoh nasional di Jakarta. Jika mereka kalah dalam Pilpres 2014, karena desakan massa pendukung, opsi lain adalah mendirikan negara baru, melepaskan diri dari Jakarta. Gonjang ganjing Indonesia sebagai bangsa akan mencapai titik didih terpanas pada Pilpres 2014. Jika kita tidak mampu mengendalikan keutuhan negeri ini, tahun 2015 Indonesia benar-benar pecah. Para Capres Indonesia 2014 yang gagal ramai-ramai akan pulang kampung untuk mendeklarasikan negara baru. Mereka merasa punya kemampuan, punya harga diri, punya uang, punya jaringan dan punya massa/rakyat pendukung. Perubahan dan pergolakan politik nasional pada tahun 2014 diperkirakan bisa lebih dashyat karena tidak ada lagi figur tokoh pemersatu yang dihormati dan diterima oleh seluruh bangsa.  

Agar Indonesia tidak pecah, dia menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersatu. Dia berharap seluruh bangsa menyadari ancaman yang ada di depan mata dan kemudian saling bergandengan tangan bersatu untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Djuyoto bilang buku ini ditulis sebagai peringatan dini, sebagai salah satu wujud untuk berupaya menyelamatkan Indonesia dari ancaman kehancuran. Dengan adanya buku ini diharapkan semoga anak-anak bangsa mulai menyadari bahwa hantu Indonesia pecah sudah berada di depan mata. Kalau sudah paham, diharapkan mulai tumbuh kesadaran dari dalam hati lalu secara bersama-sama mengambil langkah untuk mencegah.  

ke 17 negara itu antara lain.
1.Naggroe Atjeh Darrusallam : Banda Atjeh

2.Sumatra Utara : Medan

3.Sumatra Selatan : Lampung

4.Sunda Kecil : Jakarta
5.Jamar (Jawa Madura) : Surakarta
6.Yogyakarta : Yogyakarta
7.Kalimantan Barat : Pontianak
8.Kalimantan Timur : Samarinda
9.Ternate Tidore : Ternate
10.Sulawesi Selatan : Makassar
11.Sulawesi Utara : Manado
12.Nusa Tenggara : Mataram
13.Flobamora & Sumba: Kupang
14.Timor Leste : Dili
15.Maluku Selatan : Ambon
16.Maluku Tenggara : Tual
17.Papua Barat : Jayapura
18. Negara Riau Merdeka

Well, sebuah buku yang cukup menarik untuk dibaca. Mari kita lihat bagaimana perkembangan arah bangsa ini.

Sumber: http://15desember2011.blogspot.com/2010/07/ramalan-indonesia-pecah-tahun-2015.html





 @anakostteXas

Dua Presiden RI yang Tak Tercatat dalam Sejarah

Dua tokoh yang terlewatkan itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja.
Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal Agresi Militer II, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat Republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan Agresi Militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

1. Sjafruddin Prawiranegara
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Iboe Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".

Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).
Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".

Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan". Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinet-nya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

2. Mr. Assaat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).
RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

Nah para sobat pembaca, dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8.
Urutan Presiden RI yang "kronologis" adalah sebagai berikut : Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, (Alm.) KH. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


sumber: http://15desember2011.blogspot.com/2010/07/2-presiden-indonesia-ri-yang-tak.html


@anakostteXas

Buruknya Kualitas Acara TV Kita

 

Oleh: Gio Ovanny Pratama

Dalam beberapa tahun belakangan ini rangkaian acara yang disuguhkan di televisi (TV) sangat beragam. Mulai dari sinetron, FTV (Film TV), kuis sampai reality show bergiliran mucul di layar kaca. Beberapa acara bertahan lama namun tak sedikit acara yang sekedar numpang lewat.
Acara yang bertahan lama tersebut tak lepas dari tingginya rating yang didapat oleh acara yang bersangkutan. Jika banyak pemirsa yang sedia menonton acara tertentu maka tinggilah rating acara tersebut.

Namun, tingginya rating suatu acara tak selalu berbanding lurus dengan kualitas acara yang dipertontonkan. Tingginya rating juga tak mencerminkan seberapa bagus acara tersebut untuk dikonsumsi semua kalangan umur.

Banyak acara TV akhir-akhir ini tak mempedulikan kualitas dari acara mereka sendiri. Contohnya sinetron. Sinetron menjadi primadona karena ceritanya yang membuat penonton penasaran. Namun layakkah sebuah sinetron dikonsumsi oleh kalangan umur tertentu?

Mari kita teliti unsur-unsur yang pasti ada disebuah sinetron. Biasanya sebuah sinetron berkisah mengenai kehidupan sehari-hari. Unsur pertama yang biasanya menjadi bumbu utama cerita adalah konflik. Bisa dipastikan konfllik dari sebuah sinetron adalah masalah percintaan, kalau tidak masalah perebutan harta warisan, atau bisa dikombinasikan antara keduanya. Yang pasti kedua konflik yang dibangun tersebut dihiasi dengan berbagi penyakit hati seperti iri dengki dan berbagai akal licik. 

Sudah menjadi ciri khas sebuah sinetron di Indonesia iri dengki dan berbagai trik-trik licik menghiasi sebuah sinetron. Istilahnya bagai sayur tanpa garam, kalau tak ada iri dengkinya sebuah sinetron tak akan menjual. Nah masalah yang muncul disini adalah masyarakat yang menjadi penonton sedikit demi sedikit diracuni dengan konflik yang ada di sinetron tersebut.
Mari kita renungkan, ada peran antagonis dan protagonis. Antagonis merupakan tokoh jahat yang berhadapan dengan protagonis si baik hati. Umumnya cerita akan selalu memojokkan si baik diposisi yang seakan-akan dia adalah orang jahat, si jahat lah yang selalu berusaha membuat keadaan seperti itu, biasanya ini dilatar belakangi oleh cinta atau kalau tidak harta. Selalu begitu di semua sinetron.

Si jahat selalu menganiaya si baik, anehnya si jahat selalu menang dan si baik selalu buruk di mata orang lain, yang semakin anehnya si baik malah ikhlas diperlalukan seperti itu. Begitu terus sepanjang episode. Namun ada kalanya juga si baik akan menang tetapi cuma satu episode yaitu satu episode terakhir.    

Hal ini bisa membentuk opini publik bahwa kejahatan akan selalu berkuasa atas kebaikan karena sepanjang episode kejahatan lah yang selalu menang. Ini tak hanya ada di satu sinetron saja, tetapi hampir disemua sinetron pada semua stasiun TV. 

Hal lain yang patut dicermati dalam sebuah sinetron adalah adanya kata-kata yang merendahkan harga diri seorang manusia. Meskipun terselingi humor, namun tetap saja intinya adalah merendahkan harga diri manusia. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah sering menegur ini, Beberapa komedian sempat dicekal akibat kata-kata yang tak enak didengar. Namun tampaknya taring KPI tak sanggup untuk menegur sinetron yang secara frontal mempertontonkan berbagai penyakit hati.

Unsur berikutnya adalah latar belakang penokohan. Kalau dulu sinetron-sinetron menjadikan tokoh utamanya adalah seorang yang sudah dewasa, namun belakangan tokoh utama sudah mulai menjamah pelajar SMA, SMP bahkan SD. Yang jadi permasalahan disini adalah konflik yang dibangun dengan tokoh utamanya. Bayangkan saja konflik iri dengki berhasil dibawa seara apik oleh seorang pelajar SMP disebuah sinetron yang sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta. 

Secara kemampuan memang acting-nya patut dipuji, namun pihak production house atau yang dikenal dengan PH tak memikirkan dampak psikologis yang diakibatkan oleh sinetron tersebut. Hal ini efektif meracuni otak anak-anak mengingat sinetron tersebut memang sengaja ditujukan untuk anak-anak.

Inilah gambaran buruknya kualitas acara TV di Indonesia. Belum lagi reality show yang katanya sudah dibuat skenarionya namun dikemas secara apik sehingga terkesan skenario tersebut terjadi secara alami. Perlu penegasan reality show yang dimaksud di sini adalah reality show yang mengumbar aib seseorang. Baik diskenario ataupun tidak yang pasti acara seperti demikian tak ada etikanya karena menyebarluaskan aib seseorang yang semestinya tak disebarluaskan, hal ini dilakukan demi mengejar rating semata.

KPI sebagai lembaga yang berwenang mengurusi perizinan berbagai penyiaran di pertelevisian Indonesia diharapkan mampu melarang berbagai bentuk acara-acara yang tak sesuai dengan moral dan adat istiadat ketimuran khas Indonesia. Jangan memblokir pemainnya, sebab itu merupakan langkah yang salah. Pemain tak bisa disalahkan karena mereka cuma mencari nafkah.

Langkah tepatnya KPI harus berani menindak PH-PH yang nakal memproduksi film yang tak sesuai moral. Dengan sikap tegas KPI diharapkan tak ada lagi yang berani memproduksi film yang tak sesuai dengan moral dan etika.

Pihak PH juga dituntut kesadarannya untuk memproduksi film yang lebih berkualitas. Mereka harus sadar bahwa mereka punya tanggung jawab sosial dan moral untuk pembentukan moral anak bangsa. Telah terbukti masyarakat kita sudah cerdas. Jadi tak ada gunanya memproduksi film-film yang tak bermutu seperti itu

Kita juga tak lupa harus mengapresiasi acara-acara yang berkualitas, walaupun kalah dari segi kuantitas namun inilah pekerjaan kita bersama bagaimana caranya mengupayakan agar acara tersebut menang tak hanya dari segi kualitas tapi juga kuantitas.


@anakostteXas
 

Film yang Menghina Indonesia

Mungkin Terlalu kasar kalo pake kata 'menghina', mungkin lebih tepatnya film barat yang di salah satu ceritanya berbicara soal 'keburukan-keburukan' yang ada di indonesia .... sebagian fakta, sebagian dilebih-lebihkan, namanya juga pilem, mungkin karena si pembuat pilem bukan orang Indonesia jadi gak faham dengan keadaan di indonesia, atau .... mungkin juga karena mereka benar-benar memahami indonesia ... Berikut 7 Film Hollywood Yang Menghina Indonesia, yaitu :
1. House (Serial TV)



Film seri di Starworld. Si dokter House lagi ngobatin anak yang sakit parah banget dibilang sama si dokter, kira-kira begini, “anak sakit parah begini tinggalnya pasti di Indonesia”.
2. Looking For Jackie Chan



Film yang menceritakan anak indonesia keturunan china fans berat jackie chan hingga akhirnya ketemu sang idola. Anak ini memiliki sikap khas indonesia, "MELANGGAR ATURAN", diantaranya saat menerobos satpam & lari dari rumah (pergi ke rumah neneknya di beijing tapi malah ga sampe tempat).
3. In The God Hand


Film tentang selancar dari Hawai ke Bali. Waktu itu ada peselancar2 muda dari Amerika yang nyoba semua ombak yg ada di dunia. Saat itu di Lombok/Bali, ceritanya mereka ketangkep polisi Indonesia, trus polisinya disuap dengan cara “salaman dengan nempelin duit ke tangan polisi”. lolos deh mereka.
4. Lethal Weapon 4

Dalam salah satu adegannya, Danny Glover memaki-maki dengan mimik khasnya, “Kapal bodoh ini dibuat oleh seorang yang berasal dari Indonesia”. Wah, ngeselin banget ya. Ceritanya imigran china yang diselundupkan pake kapal yang diatasnamakan sebuah perusahan di Indonesia, (tapi fiktif). Coba deh perhatikan waktu Mel Gibson and the geng lagi ngobrol di markas sebelum menyerbu Uncle Benny. 'Jadi, Indonesia digambarkan sebagai negara yang selalu bikin kacau”.
5. The Year Of Living Dangerously 


Film ini berkisah tentang seorang wartawan yang dikirim untuk bertugas di Jakarta pada tahun 1965-1966. Saat itu, Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno sedang mengalami krisis politik dan ekonomi.Tak heran, situasi Jakarta digambarkan sangat kacau, lengkap dengan embel-embel penduduk yang merana karena kelaparan. Dimeriahkan oleh akting dari Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Syutingnya sendiri dilaksanakan di Bangkok,  karena tidak diijinkan pemerintah di Jakarta. (tanya kenapa?). Hehehe. Akibatnya meski ada beberapa dialog menggunakan Bahasa Indonesia, namun karena aktornya adalah orang bangkok, maka ucapannya terdengar aneh di telinga. Adegan yang paling terkenal sewaktu temennya Mel Gibson, Billy Kwan (ni artis cewek cuman di film ini main jadi cowok) ngegantungin spanduk di hotel Indonesia (ceritanya) dengan tulisan SOEKARNO FEED YOUR PEOPLE. Saat Oscar 1982, film ini menang untuk artis terbaik Linda Hunt.Fim ini gak cuman nyebutin indonesia tapi tentang Indonesia. Jadi, dalam film ini, Indonesia digambarkan sebagai negara penuh konflik.
6. West Wing


Sebuah serial tv yang bersetting gedung putih, dengan tokoh presiden Amerika fiktif President Bartlett (Martin Sheen) beserta stafnya. Salah satu episodenya menceritakan tentang kesibukan gedung putih dalam menerima kunjungan presiden Indonesia (tentu fiktif juga) namanya Siguto (mungkin maksudnya Sugito, hahaha). Dari awal film iniIndonesia terus dijelek-jelekkan, sehingga sempat bikin kesel waktu nonton (hehehe), masa ada kalimat begini yang diucapkan seorang staf gedung putih kepada seorang staf gedung putih lainnya: “Hati-hati jangan bikin orang indonesia tersinggung, atau kepalamu akan dipenggal dan diarak keliling kota”. Staff yg memperingatkan itu bilang dia lihat di internet, trus staff yang satu lagi enggak percaya.

Jadi untungnya yang nonton West Wing juga emang gak diarahkan untuk percaya kaloIndonesia seprimitif itu. Belum lagi informasi yang salah tentang Indonesia. Digambarkan juga bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang bodoh dan tak bisa berbahasa Inggris. Trus, ceritanya presiden Indonesia datang (dan lagi-lagi berwajah Jepang) namun gerak-gerik dan tata bahasanya mengingatkan kita sama presiden Gus Dur (Hehehe, gak tau sengaja apa enggak). Si pemeran bapak dan ibu Siguto sebagai Pres RI ini cuman kebagian disorot dari belakang, yang penampilannya jadul abisss. Pak Presiden pake peci, istrinya pake kebaya dan dikonde hehehe. And mereka sipit bangetss, mungkin cari muka melayu susah, jadi sutradara menyamaratakan orang Asia gitu aja. Diceritain disini staff gedung putih kebingungan nyari translator karena mereka bilang Indonesia speaks in 300 different languages, dan dibilang kita gak punya bahasa nasional. Disini ngaconya! Tambahan lagi staff Indonesia itu ceritanya orang Batak, dan kacaunya lagi namanya: Rahmahidi Sumahijo Bambang (lucunya waktu tuh bule ngucapin nih nama), mana nama bataknya? Kayaknya gak pernah denger ada orang Batak namanya Rahmahidi Sumahijo, orang Jawa aja kayaknya ga ada.

Ketika presiden sedang konferensi pers, para stafnya pun melakukan pertemuan informal dan mereka pusing nyari translator karena ada 1 orang yang bisa Bahasa Batak, dan dia orang Portugis, tapi tuh orang ga bisa Bahasa Inggris, jadi di film ini ceritanya mereka nyari 2 orang akhirnya buat translate Inggris->Portugis, Portugis-> Batak. Mereka berusaha menjelaskan jika mereka akan membantu perekonomian Indonesia dengan syarat beberapa tahanan politik dibebaskan. Untungnya, ending film ini bagus. Ketika mereka bersusah payah berbicara Batak dan Portugis, tiba-tiba, staf indonesia yaitu si Bambang ini (yang ini mukanya emang melayu..ga tau apa indonesia beneran..) itu bicara bahasa Inggris dan memaki-maki para staf gedung putih “Anda pikir kami bangsa yang bodoh?

Anda pikir kami tak tahu anda anggap apa bangsa kami dan apa anda pikir kami tak bisa berbahasa Inggris? Kami mengerti semua perkataan anda bahkan arah pidato presiden anda kami sangat paham. Tapi kami bangsa yang berdaulat. Jangan mentang-mentang anda negara kuat seenaknya saja mengatur kebijakan dalam negri kami. Urus saja urusan dalam negeri anda. Dan satu hal, daripada kami mengikuti kemauan Anda, lebih baik kami tak usah dibantu sama sekali”. Bagus banget endingnya.
Sayang cuma di film ya…
7. The Silence Of The Lambs


Dalam film yang thriller psikologi yang dibintangi Jodie Foster ini ada adegan dimana di sweater orang yang diculik kanibal itu tertulis “MADE IN INDONESIA”. Apakah imageIndonesia sudah sebagai negara yang banyak penculikan atau karena kita produsen tekstil?
 
well, mungkin ini mungkin jadi bahan introspeksi bagi bangsa kita. Sebagian cerita yang disinggung pada film tersebut memang realitanya ada di Indonesia, namun kita juga tak boleh tinggal diam ketika negara kita dihina. HIDUP INDONESIA!!!
sumber: http://cariuang-belajar.blogspot.com/2011/10/7-film-hollywood-yang-menghina.html
 
 

@anakostteXas
 

Persiapan Menjelang Kiamat 2012 di Seluruh Dunia

Astronesia-Kiamat yang diprediksi suku Maya, yang akan terjadi pada 21 Desember 2012, sudah dibantah oleh para tetua sukunya. Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun sudah membuat aneka bantahan berikut dengan kajian ilmiah.

Tapi bukan berarti semua itu bisa diterima sebagai jawaban bagi orang-orang yang mempercayai kedatangan akhir dunia ini. Berikut ini adalah persiapan orang-orang dari seluruh dunia demi menyambut 21 Desember.

1. Turki
Menurut legenda atau anggap saja rumor, hanya orang-orang Sirince di Provinsi Izmir, Turki, yang masih hidup ketika kiamat datang. Dan dikisahkan pula ada kapal Nabi Nuh yang muncul di saat banjir besar di Kota Sirince. Kapal itu akan memilih beberapa orang saja untuk bisa ikut berlayar. Dan kini, dengan adanya rumor itu, para pemilik hotel di kawasan Sirince melaporkan bahwa semua kamar sudah dipesan sekitar 21 Desember 2012.

2. Prancis dan Jerman
Tinggal di hotel jelang kiamat jauh lebih baik ketimbang di bungker Perang Dunia II Schoenenbourg di Alsace, Prancis. Bungker ini merupakan tempat penampungan dengan biaya sekitar 7 euro, termasuk anggur dengan roti.

Tak hanya bungker di Prancis yang laris. Bungker di Jerman pun ikut ketiban rezeki. Sebuah penyedia bungker swasta memanfaatkan kesempatan dengan menawarkan bungker yang bisa bertahan ketika terjadi kiamat. Ahli bungker profesional Jerman, Karl Hillinger, melaporkan bahwa sekarang terjadi kenaikan permintaan terhadap pemasangan sistem penyaringan udara, roti dalam kaleng, hingga makanan penyimpan energi untuk bertahan hidup.

Persiapan untuk akhir dunia juga semarak di sebuah desa kecil di kawasan selatan Prancis. Desa bernama Bugarach itu diperkirakan menerima 20 ribu hingga 100 ribu pengunjung pada 21 Desember 2012. Bugarach disebut bakal selamat dari kiamat karena memiliki ketinggian 1.230 meter dan mirip tempat pendaratan alien.

3. Australia dan Rusia
Perdana Menteri Julia Gillard muncul di televisi dua pekan lalu untuk menyatakan komentarnya tentang kiamat suku Maya. Perempuan yang menyatakan tak percaya adanya Tuhan ini mengatakan percaya ramalan suku Maya. "Akhir dunia akan datang, ternyata kalender suku Maya benar, apakah akhir dunia akan ditandai dengan kemunculan zombie pemakan daging, bangkitnya monster negara, atau kemenangan musik K-pop. Jika Anda tahu satu hal tentang saya, saya akan selalu berjuang untuk kalian hingga akhir."

Sementara itu, dari Rusia, Menteri Kondisi Darurat membantah semua ramalan tentang kiamat 21 Desember. "Dunia tidak akan berakhir bulan ini. Itu hanya sebuah sentimen yang dikumandangkan imam dari Gereja Nasional Ortodoks," tulis The Independent.

4. Cina
Dari negara terpadat sedunia, pembahasan akhir dunia di Internet justru banyak mengenai capaian hidup. Forum-forum di Internet mengulas impian yang tak terpenuhi dan makna hidup bagi manusia. Tampaknya warisan filsafat, sejarah, dan tradisi Cina masih dipegang teguh penduduknya hingga akhir dunia.

Banyak ulasan di Cina tentang nama di batu nisan, daftar harapan terakhir, atau kalimat tentang pandangan hidup. Harapan-harapan terakhir para penduduk negara kawasan Asia Timur ini. Harapan itu mulai dari membuat sarapan untuk orang tua hingga menjadi Superman, sang penyelamat dunia.

Beberapa perusahaan di Cina telah memberikan hari libur mulai 20-21 Desember 2012. Di Provinsi Sichuan, sejumlah warga terlihat panik dengan membeli lilin karena takut terjadi pemadaman. Bahkan Lu Zhegai, warga Zinjiang Uygur, telah menghabiskan waktunya untuk membangun bahtera yang menampung 20 orang sebagai antisipasi banjir. 

Sumber: Tempo.co
Dikutip dari: http://astronesia.blogspot.com/2012/12/persiapan-menjelang-kiamat-2012-di.html

@anakostteXas

Rebutan Bola Antara "Penegak" dan "Penyelamat"


Sejak masa kepemimpinan Johar Arifin Husein di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pertengahan 2011 lalu, banyak sekali yang terjadi pada iklim persepakbolaan di negeri ini. Bermula dari memecat seluruh orang-orang yang terlibat dengan ketua umum sebelumnya (NurdinHalid),  memecat pelatih tim nasional kala itu dan mengubah format liga dari Liga Super Indonesia (LSI) menjadi Liga Primer Indonesia (LPI). Hal ini mengindikasikan nakhoda baru PSSI benar-benar ingin membersihkan PSSI dari pengaruh kepemimpinan sebelumnya.

Namun langkah Johar ini mendapat banyak pertentangan dan cenderung kontroversial. Banyak rakyat yang mulai meragukan kepemimpinan Johar. Para birokrat pun sering kali mempertanyakan langkah-langkah yang diambil PSSI. Saat itulah muncul sebuah pergerakan yang menamakan diri sebagai Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia(KPSI) yang dipimpin La NyalaMataliti.

La Nyala Mataliti ialah salah seorang anggota dalam kepengurusan PSSI masa Nurdin Halid. Ia menilai PSSI pimpinan Johar sudah banyak melenceng jauh, untuk itu lah ia membentuk komite penyelamat sepakbola nasional. Sebagian orang menyebut KPSI sebagai PSSI tandingan.

Tindakan La Nyala dengan membentuk PSSI tandingan semakin nyata dengan dibentuknya liga tandingan yang bernama Liga Super Indonesia (LSI). Padahal liga yang sah adalah LPI. Sebanyak delapan belas klub ambil bagian dalam liga ini. Mayoritas klub adalah peserta liga tahun lalu dengan materi pemain-pemain nasional dan sarat pengalaman. Sedangkan sisanya adalah klub-klub baru.

Adanya dualism kepengurusan dan liga ini memancing Asian Footbal Confederation (AFC) dan Federation International Football Association (FIFA) untuk bertindak.FIFA dan AFC telahmewanti PSSI untuk segera menyelesaikan konflik internal sebelum Indonesia terkena sanksi.

Buntutnya Kementrian Pemuda dan Olahraga (kemenpora) tak mengucurkan dana untuk timnas yang akan berlaga mulai di piala Asean Federation Football (AFF CUP). Timnas yang telah dibentuk dengan terpaksa berlaga dengan uang seadanya. Bahkan para pendukung setia timnas melakukan aksi dana melalui gerakan koin untuk timnas. Melalui gerakan ini mereka berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 50 juta lebih untuk keperluan timnas. PSSI juga tak tinggal diam, mereka berhasil menghimpun dana mencapai Rp 1 miliar lebih melalui gala dinner yang diadakan 26 November 2012 di Hotel Mulia, Jakarta.

Pihak yang tak seharusnya bermasalah malah mendapatkan imbas yang tak seharusnya mereka terima. Mengapa pemain yang ingin membela nama negara malah dihalang-halangi oleh kepentingan satu pihak?

Sepakbola merupakan olahraga yang benar-benar digemari oleh seluruh masyarakat Indonesia. Rakyat jelata sampai konglomerat menggilai olahraga yang satu ini. Hal inilah yang benar-benar dimanfaatkan oleh satu pihak untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Hal ini jelas tergambar di masa kepemimpinan PSSI masa Nurdin Halid. Aroma politis juga tercium dari masa Nurdin, kala itu sewaktu timnas hendak melakoni laga final piala AFF 2010 malah di ajak bersantai di rumah salah seorang petinggi partai politik yang cukup disegani. Seharusnya timnas harus latihan kondusif dan jangan sampai ada agenda yang bakal merusak konsentrasi timnas.

Memang akhirnya Timnas yang dilatih Nilmaizar gagal lolos ke putaran final AF Cup 2012 ini. Harusnya hal ini menjadi moment bersatunya kembali insan-insan sepakbola nasional untuk mengakhiri perseteruan ini. 10 Desember lalu PSSI mengadakan kongres di Palangkaraya. Menurut perwakilan FIFA dan AFC kongres ini sah karena mengacu pada statuta, akan tetapi terjadi sebuah insiden yang membuat kongres diadakan di loby hotel karena ruangan yang dipakai sebelumnya dikunci dan diblokir oleh pihak kepolisian. Kepolisian beralaskan penguncian ruangan tersebut akibat tak adanya izin dari Polisi daerah (Polda) Kalimantan Tengah dan tak ada anjuran dari kementerian Pemuda dan Olahraga (kemenpora).

Tak mau kalah KPSI pimpinan La Nyala juga mengadakan kongres tandingan di Hotel Sultan Jakarta. Entah kenapa mereka ikut-ikutan mengadakan kongres yang jelas-jelas KPSI itu ilegal. Dan yang anehnya kongres PSSI yang sah malah dihalang-halangi pemerintah, sedangkan kongres KPSI yang nyatanya ilegal malah dibiarkan pemerintah.

Tampak pemerintah mendukung KPSI yang didukung La Nyala. Jika dilihat dari latar belakang pemimpin KPSI dan dekingannya di pemerintahan mereka adalah orang-orang partai politik tertentu. Yang pasti sepakbola mereka jadikan alat untuk kekuasaan dan jalan pintas menuju persaingan di 2014.

Pemerintah harus bersikap dan bertindak tegas dalam dualisme ini. Mudah saja yang sah di mata hukum dan statuta FIFA adalah PSSI yang dipimpin oleh Johar sedangkan KPSI oleh La Nyala adalah ilegal dan tak punya hak dalam mengambil alih PSSI. Berdasarkan kongres PSSI di Palangkaraya lalu PSSI bisa memaafkan La Nyala dan teman-temannya juika yang bersangkutan sadar dan mau minta maaf. Namun dilain pihak, KPSI malah mengupayakan usaha pengambilalihan kantor PSSI dan Kepengurusan PSSI. Tampaklah siapa yang berniat buruk disini.

Sekali lagi pemerintah harus tegas dalam menentukan sikapnya. Jangan terbawa suasana politis dan kesamaan latar belakang, walaupun pemerintah kita susah bersikap profesional, kita harus paksa orang-orang yang berkuasa di atas untuk membuka mata, hati dan telinganya. Kita sudah pengalaman mulai dari menurunkan Soeharto dulu sampai menurunkan Nurdin Halid 2010 lalu. Baik KPSI maupun PSSI sama-sama merasa benar, kitalah yang harus menghakimi kedua kubu ini.

 *Juga dimuat di suarausu.co

@anakostteXas
 

Pangku Laptop Akibatkan Kemandulan


Penggunaan laptop di era teknologi ini sudah tak dapat dielakkan lagi. Berbagai kalangan dari pelajar hingga pebisnis kelas atas menggunakan komputer jinjing ini. Bahkan anak-anak yang tak mengerti penggunaan laptop pun sering menggunakannya, walaupun sebatas untuk bermain game.
 
Hadirnya laptop sebagai minimisasi kehadiran komputer desktop tentunya membuat berbagai kalangan suka menggunakannya. Selain praktis dan efisien, laptop juga tak memakan banyak ruangan untuk mengoperasikannya. Bahkan paha pun bisa digunakan sebagai alas untuk menggunakan komputer lipat ini.

 Secara ergonomisnya mengoperasikan laptop dengan memangku di paha memang terasa nyaman. Apalagi bagi mahasiswa yang sering berada diluar gedung, penggunaan laptop dengan cara dipangku merupakan satu-satunya posisi yang nyaman untuk bekerja.
Namun ternyata penggunaan laptop dengan memangkunya di paha berakibat negatif bagi kesuburan seorang pria. Hal ini merupakan akumulasi dari radiasi panas kerja mesin laptop secara terus menerus.

Sebuah penelitian dari State University of New York yang dipimpin oleh Yefim Sheynkin menemukan ada kenaikan suhu testis sebesar 2.8 derajat celcius jika memangku laptop yang sedang beroperasi. Sedangkan memangku laptop dalam keadaan mati saja tetap bisa menaikkan suhu testis sebesar 2.1 derajat celcius. 

Testis yang dilindungi oleh skrotum (pembungkus) merupakan pabrik produksi sperma. Untuk menghasilkan sperma yang berkualitas, testis dirancang untuk bekerja pada suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh yaitu dibawah 36 sampai 37 derajat celcius. Ketika udara dingin maka skrotum akan tertarik ke atas sedekat mungkin dengan tubuh dengan tujuan menghangatkan suhu, sebaliknya jika suhu panas maka skrotum akan mengendor untuk menurunkan suhu. 
Sebuah riset menjelaskan hubungan antara kenaikan suhu di skrotum dengan kualitas sperma, kenaikan suhu satu derajat saja mengakibatkan penurunan konsentrasi jumlah sperma hingga 40 persen.

Sebab itulah seorang laki-laki dianjurkan untuk tidak berendam di air panas, mandi sauna bahkan memakai celana ketat, sebab hal ini akan memicu kenaikan suhu testis sehingga menurunkan kualitas sperma.

Sperma yang tak berkualitas bisa berupa jumlah yang kurang, serta gerak dan bentuk yang tidak normal. Sehingga hal ini akan berdampak pada proses fertilisasi (pembuahan) ovum oleh sperma. Sperma yang mulanya berjumlah banyak dan bersama-sama berenang untuk membuahi ovum namun malah menjadi sedikit dan bergerak sedikit demi sedikit untuk mencapai ovum (bukan berenang). 

Sebenarnya dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan suhu testis ini bersifat sementara, namun mengingat intensitas penggunaan laptop yang sering hingga berjam-jam dalam satu hari tentu akan berakibat permanen dan fatal bagi kesuburan pria. Hal ini juga pasti berulang untuk keesokan harinya dan berulang terus menerus selama bertahun-tahun dan pastinya mengakibatkan infertilitas atau kemandulan

Solusi satu-satunya tentu menggunakan meja sebagai penghalang radiasi panas dari mesin laptop yang menyala. Tindakan ini bukan hanya menghindarkan dari radiasi panas, namun ternyata juga menjaga agar tulang punggung tetap lurus karena secara ergonomi ini merupakan posisi kerja yang terbaik dan ternyaman.

*juga dimuat di suarausu.co


@anakostteXas
 


Harapan Palsu, Para Imigran Bisu


Sejumlah imigran asal Arkhan, Myanmar, berbincang-bincang di salah satu kamar di penampungan imigran di Jalan Bunga Cempaka No 4 Pasar III, Padang Bulan Medan. Selasa (2/10). Meski tak bebas bepergian, para imigran dibebaskan mengakses internet. (Foto: Ridha Annisa Sebayang)


Oleh: Gio Ovanny Pratama, Debora Blandina Sinambela, Ipak Ayu H Nurcaya, Rida H Pasaribu


Mereka tinggalkan kampung halaman demi kehidupan lebih baik.Namun, di tengah perjalanan mereka hanya menemui harapan palsu.

Kala itu telah lewat tengah malam.Namun Zakir tak mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Mongdow Buthidang, sebuah perkampungan di Myanmar. Lelaki usia 20 tahun itu sudah siapkan segala keperluan mulai dari pakaian, beras, dan pakaian. Bersama tujuh orang lelaki sekampungnya, ia bergegas naik perahu kayu menuju dermaga. Di sana telah menunggu sekumpulan pria dari kampung lain. Usia mereka sekitar 17-50 tahun. Malam itu, 129 orang tersebut akan berangkat meninggalkan kampung halaman mereka dengan kapal kayu. Perjalanan tanpa arah dan tujuan yang jelas.Zakir bilang, mereka mau pergi ke negara yang aman dan bisa bekerja layak.Impian mereka, hanyalah ingin punya kehidupan yang lebih baik.
Konflik yang semakin parah di Myanmar adalah alasan kuat kepergian Zakir. Sebagai penganut agama minoritas, ia merasa tak mendapat perlakuan layak dari pemerintah setempat. Dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja, diskriminasi itu tampak nyata.Ada dua jenis KTP yang diberlakukan pemerintah, Merah dan Putih.Zakir dapat jatah KTP warna merah, yang berarti penduduk sementara.Hanya mereka yang ber-KTP putih yang diakui sebagai warga negara.
Dampaknya, Zakir tak bisa mendapat pekerjaan yang layak.Mayoritas perusahaan menolak mereka yang ber-KTP merah, hingga mereka hanya bisa bekerja sebagai buruh kasar atau petani.Kepergian Zakir juga terinspirasi dari abangnya yang pernah melakukan hal serupa.Kini abangnya jadi pedagang di Bangladesh.Ia pun berhasil mengantongi izin orang tuanya untuk mengikuti jejak abangnya.
Selama 17 hari mereka terkatung-katung di laut.Tanpa makan dan minum.Awalnya mereka pikir di kapal bisa masak.Namun kapal terlalu kecil dan tak ada yang bawa kompor.”Kami nekat.Peluangnya 90 persen mati, 10 persen hidup,” ujar Zakir.
Untuk mengemudi kapal, mereka bergantian.Mereka hanya mengandalkan informasi dari orang-orang yang sebelumnya sudah berhasil mencari jalan.Beruntung, mereka berhasil tiba di perairan Thailand. Namun, kapal polisi Thailand menangkap mereka karena tak punya  izin berlayar dan surat-surat penting lainnya. Mereka ditarik jauh ke tengah lautan oleh polisi tersebut hingga keluar dari wilayah teritorital Thailand.
Selepas itu, kapal mereka terbawa sampai ke perairan Indonesia, tepatnya di Aceh.Lagi, mereka kembali ditangkap, kali ini oleh polisi perairan Indonesia.Mereka diberi pilihan ke Indonesia atau ke Malaysia. Kalau di Malaysia, mereka bisa dapat uang namun harus bekerja. Sementara di Indonesia, mereka tak boleh kerja namun dapat uang saku dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka juga dijanjikan akan diurus ke negara tujuan mereka, Australia. Dijanjikan lamanya pengurusan memakan waktu hingga setahun.
Akhirnya, rombongan itu pecah haluan.Ada 69 orang memilih ikut ke Indonesia, termasuk Zakir. Selebihnya ke Malaysia dan beberapa negara lain. Babak baru kehidupan Zakir dan kawan-kawannya pun dimulai.Awalnya mereka dibawa ke Pelabuhan Malahayati Aceh. Selama dalam proses keimigrasian, mereka dikumpulkan di sel, khusus para pendatang gelap.
Kemudian dipindahkan ke Medan, ditampung di Hotel Pelangi.Seperti yang dijanjikan sebelumnya, mereka mendapat uang saku setiap bulan, dan penginapan mereka juga dibayar.Semua ditanggung PBB.
Selain Zakir, ada pula Muhammad Zubair yang bernasib serupa.Ia adalah penduduk kota Arkhan, yang terletak di bagian barat Myanmar. Kota itu lebih sering disebut Rakhaine oleh kaum mayoritas Budha Myanmar. Selain itu, kota itu juga dihuni etnis keturunan Rohingya, etnis muslim minoritas.
Sebagai bagian dari muslim minoritas tersebut, Zubair tak pernah sekali pun mendapat toleransi antarumat beragama.Kebebasan beribadah menjadi suatu kebutuhan rohani yang tak bisa terpenuhi.Mesjid-mesjid yang mereka bangun banyak yang dibakar oleh kaum mayoritas. Ibadah shalat Jumat harus dilalui dengan perasaan was-was, sebab kaum mayoritas selalu menunggu di depan mesjid mengawasi mereka. Bahkan, sehabis menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan,  Zubair dan penduduk lainnya tak bisa berlebaran. Kebahagiaan di hari Besar Islam itu terasa terenggut nikmatnya dengan larangan dari kaum mayoritas.
Puncaknya adalah saat kota Arkhan dihabisi, semua gedung dibakar termasuk mesjid. Nyawa etnis Rohingya terancam, Zubair bahkan kehilangan orang tuanya akibat kebakaran tersebut. Alhasil, kini ia sebatang kara.
Nurul Amin, teman seperjuangan Zubair memiliki video mengenai kerusuhan tersebut. Video yang berdurasi selama dua puluh empat menit itu memperlihatkan kondisi Kota Arkhan yang sudah rata dengan tanah setelah pembakaran habis-habisan.Sepertinya peristiwa ini disengaja oleh pemerintah Myanmar. Hal itu tampak dari dialog antara seorang wartawan dengan narasumbernya.
“They don’t prevent the Rakhaine People, some shot people, they shots a lot of muslims,” ungkap salah satu petikan wawancara di video tersebut. Ada pula petikan lain yang berbunyi ,“Only Buddhists can live there, Muslims can not stay there.”
Keadaan ini membuat Zubair memutuskanuntuk meninggalkan tanah kelahirannya demi mencari kehidupan yang lebih layak.Iapun ke Bangladesh untuk kemudian naik kapal ke Thailand.Senada dengan Zakir, Zubair pun tak punya tempat tujuan. Dari Thailand ia lanjut ke Malaysia lewat jalur darat, melewati bukit dan pegunungan.
Sesampai di Malaysia ia bekerja sebagai pedagang. Ia berjualan kelapa. Namun, Malaysia ternyata belum mampu membuat hidupnya membaik, sebab statusnya sebagai warga negara asing yang tak mendapat pengakuan pemerintah membuatnya menjadi incaran petugas imigrasi Malaysia.Ia harus berpandai-pandai menghadapi petugas imigrasi, sebab kalau tak demikian, ia bisa tertangkap.
Meskipun begitu,  ia pernah juga tertangkap tiga kali, bahkan dipenjarakan selama setahun. Ia pun harus membayar denda sebesar dua ribu ringgit Malaysia. “Tujuh tahun di Malaysia tak mengubah apa-apa pada hidup saya,” ucapnya.
Tahun 2008 ia pun meninggalkan Malaysia dan berhasil sampai di Tanjung Balai, Sumatera Utara dengan kapal. Lalu, ia langsung naik pesawat dari Medan ke Kupang untuk selanjutnya ke Australia. Namun sesampainya di Kupang, ia lagi-lagi tertangkap oleh pihak imigrasi Kupang dan kembali ia masuk bui selama setahun. Oleh pihak imigrasi ia dipindahkan ke Medan sebab etnis Rohingya juga banyak yang berada di Medan.

Wisma YPAP I di Jalan Bunga Cempaka no 4, Pasar III Padang Bulan, Selasa (2/10). Wisma  ini menampung 119 Imigran asal, Afghanistan, Srilanka, Irak dan Myanmar. (Foto: Ridha Annisa Sebayang)
***
Edy Firyan sedang sibuk di ruangannya, nampak tiga berkas keimigrasian tengah ia tandatangani. Sepertinya itu berkas-berkas warga Indonesia yang tengah mengurus izin visa untuk berangkat ke luar negeri. Pria setengah baya ini adalah Kepala Seksi Informasi Kantor Imigrasi Kelas I Polonia Medan.
Dengan wajah yang sumringah ia menjelaskan, ada semacam Memorandum of Understanding (MOU) antara pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Imigrasi dengan International Organization for Migrations  (IOM) yang berada dibawah naungan PBB. MOU itu berisi pernyataan, pemerintah Indonesia bersedia  menampung  para imigran sementara, sampai mereka mendapat status kewarganegaraan di negara ketiga. Adapun segala kebutuhan dan fasilitas yang diperlukan para imigran ditanggung oleh IOM sendiri.
Jika proses mendapatkan kewarganegaraaan ketiga berhasil, maka imigran tersebut akan dikirim ke negara yang dituju. Akan tetapi jika gagal mereka akan dikirim kembali ke negara asal. “Peran Indonesia di sini hanya mengawasi, sebab sudah ada lembaga yang menaungi mereka,” ungkapnya.
Edy juga mengaku, umumnya proses untuk mendapatkan kewarganegaraan itu susah. Negara tujuan pasti menyeleksi dulu imigran yang berminat. Edy bilang negara-negara besar seperti Australia misalnya,  tentu tak mau menerima sembarang orang. Mereka hanya menerima imigran yang pintar danpunya bakat.
Mengenai para imigran yang sering tertangkap petugas imigrasi ketika hendak menuju Australia, dikatakan Edy itu adalah salah satu bentuk pengawasan pada imigran, “Kita tak menangkap, akan tetapi menampung para imigran tersebut untuk kemudian mendatanya,” kata Edy.
Di Medan sendiri, ada beberapa tempat penampungan para imigran. Zakir dan 89 imigran lainnya berada di Hotel Pelangi, Jalan Jamin Ginting, Medan Tuntungan, sedangkan Zubair dan 119 imigran lainnya ditampung di Wisma (YPAP) I, Jalan Bunga Cempaka, Pasar III, Medan Selayang. Tercatat ada 396 orang imigran yang ditampung di enam tempat yang berbeda di kota Medan. 31 orang di Wisma YPAP II Medan Selayang, 45 di Hotel Top Inn Medan Tuntungan, 83 di Wisma Shandy Putra Simpang Selayang, dan 29 di Hotel Sentabi Medan Tuntungan. “Untuk alasan kemanusiaan, Indonesia bersedia menampung para imigran, kita tak bisa main asal tendang gituaja,” ujar Edy.
Jumlah santunan yang dicairkan oleh pihak IOM cukup untuk menghidupi mereka di penampungan.Satu orang dapat Rp 1.25 juta perbulan.Mereka tak diperbolehkan bekerja di Indonesia sebab mereka tak mengantongi dokumen resmi untuk bekerja.“Jangankan bekerja, untuk mendapatkan status WNI saja mereka tak akan bisa,” tambahnya.Hal ini berdasarkan UU No 12 tahun 2006 tentang status kewarganegaraan yang mengatur tentang syarat-syarat menjadi WNI.
Meskipun demikian, Edy berpendapat negara juga diuntungkan dengan kehadiran mereka.Santunan yang mereka dapatkan dari IOM dibelanjakan di sini untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tentu akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
Selain mensubsidi para imigran, IOM juga membayar orang untuk mengajar Bahasa Inggris pada imigran.Nardus adalah salah satunya.Nar sudah dua setengah tahun mengajar anak-anak imigran belajar Bahasa Inggris, dan mendapat gaji sesuai jumlah waktu dia mengajar.
Nar mendapat informasi dari temannya yang juga mengajar anak-anak imigran.Dia merasa terpanggil hatinya untuk ikut mengajar, lebih karena kasihan terhadap anak-anak imigran yang mengungsi tersebut. Bahkan awalnya ia tidak mengetahui akan digaji.
Beragam imigran dia ajar, seperti dari Myanmar dan Filipina.Mulai dari anak-anak umur 4 tahun sampai 50 tahun.Khusus untuk pengungsi yang berada di Pasar III, ia mengajar selama dua jam perhari pada hari Senin hingga Kamis. ia mengajar sepuluh orang.
Nar bilang, mengajar Bahasa Inggris anak-anak imigran jelas berbeda dengan mengajar anak-anak Indonesia, “Kalau anak Indonesia kita kan bilang makan itu “eat”, tapi kalau mereka terkadang kita harus memperagakan cara makan, agar mengerti, karena biasanya kami mengajar campur anak-anak imigrannya,” jelas Nar.
***

Siang itu Zubair tengah beristirahat di kamarnya yang berukuran empat kali lima meter. Ia mengenakan kaos merah dengan bawahan sarung.Iamengaku sama sekali tak berniat untuk kembali ke kampung halamannya di Myanmar. Meskipun masih terkatung-katung dengan ketidakjelasan status kewarnegaraannya, ia mengaku nyaman tinggal di Indonesia.  “Walaupun tak diperbolehkan bekerja tapi kami tetap mendapat uang per bulannya,” ujar Zubair.
Selain mendapat santunan dari IOM, mereka juga acap menerima berbagai santunan dan bantuan dari masyarakat ataupun pihak-pihak tertentu yang peduli dengan kehidupan mereka.“Lebaran kemarin kita dapat bantuan berupa beras, lauk pauk, dan buah-buahan dari Indosat,” ucap Zubair sambil memperlihatkan kotak bantuan tersebut.Ia juga mendapat kesempatan kursus komputer di Tricom, dengan jatah tiga kali seminggu tanpa biaya sepeser pun.
Mengenai proses untuk mendapatkan status kewarganegaraan, hingga detik ini masih belum bisa mendapatkan kepastian. Selama tiga tahun di Indonesia status sebagai warga negara tak kunjung juga didapatkan.
Begitu juga dengan Zakir, sudah 17 bulan sejak penangkapan mereka, hingga kini proses yang mereka jalani pun belum jelas. Beberapa imigran gelap lain di penginapan mereka sudah di urus ke negara tujuan. Namun nasib 69 warga Myanmar tersebut belum jelas. “Sabar saja, masih dalam proses. Kami mau dimana saja, yang penting nanti punya KTP,” harap Zakir.

Tulisan ini juga di muat di rubrik Laporan Khusus Tabloid Mahasiswa SUARA USU edisi 89, Oktober 2012. 


@anakostteXas




sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com