Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Menantang Angin di Puncak Payo Rapuih

Pernah kah Anda merasakan hembusan angin yang kencang yang membuat Anda seakan-akan bisa diterbangkan oleh angin? Bukan dari wahana Roller Coaster atau pun Gondola, hembusan angin yang dimaksud adalah hembusan yang benar-benar berasal dari alam. Jika belum ada baiknya Anda mengunjungi Puncak Puncak Payo Rapuih atau Puncak Pusaran Angin. Bukan hanya hembusan angin, di puncak ini Anda akan disuguhkan bentangan Keindahan Danau singkarak.

            Puncak Payo Rapuih ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Padang, tepatnya berada di Jorong Payo Rapuih, Nagari Batipuah Baruah, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar di Provinsi Sumatera Barat. Oleh masyarakat sekitar, puncak ini disebut juga dengan Puncak Pusaran Angin. Puncak ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut atau 350 m dari permukaan Danau Singkarak.
            Lokasi ini dapat ditempuh dengan mudah, jika dari kota Padang bergeraklah ke arah kota Bukittinggi. Setibanya di kota Padangpanjang silakan berbelok menuju ke arah Danau Singkarak di Kabupaten Tanah Datar.  Selepas batas kota Padangpanjang dengan Kabupaten Tanah Datar berbelok ke arah jorong Gunuang Rajo. Dari sini Anda tinggal mengikuti jalanan beraspal yang cukup sempit dan bergelombang naik turun karena melewati daerah perbukitan.
            Selama perjalanan di jorong Gunuang Rajo, Anda akan disuguhkan pemandangan lembah dan sungai yang terbentang di bawah Anda. Di dasar lembah itu terhampar bentangan sawah milik masyarakat sekitar yang dihiasi tingginya beberapa pohon kelapa. Landscape Danau Singkarak terkadang mengintip di balik jajaran perbukitan.

            Berikutnya sekitar 5 kilometer terakhir jalanan akan menanjak terus hingga mencapai puncak Pusaran Angin. Jika berkendara dengan mobil harus ekstra hati-hati karena jalanan yang ditempuh adalah pendakian tajam nan sempit, untungnya jalanan sudah diaspal seluruhnya. Namun tidak ada salahnya juga jika ingin merasakan sensasi hiking dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer mendaki hingga sampai puncak.
            Di Sumatera Barat daerah ini terkenal dengan duriannya yang enak dan nikmat, sehingga tak heran jika di sisi kiri kanan jalan akan banyak muncul pohon durian. Beruntunglah jika berkunjung pada musim durian.    
            Jika Anda sudah melihat portal pembatas dan menemukan sebuah telaga, itu artinya Anda sudah dekat dengan tujuan Anda. Tersisa 500 meter lagi dari portal ini hingga ke puncak Pusaran Angin. Kawasan ini dikelola oleh warga sekitar sehingga tak heran jika belum ada fasilitas penunjang. Untuk masuk dikenakanan biaya Rp 5 ribu per sepeda motor.

            Sesampainya di puncak, terhampar luas pemandangan Danau Singkarak dari keseluruhan sisinya. Nampak danau seluas 12 ribu hektare ini dikelilingi sawah-sawah hijau dan untaian perbukitan yang kokoh. Terlihat juga kapal-kapal wisata dan kapal-kapal nelayan melintasi permukaan danau. Bukan hanya itu, Anda juga bisa menyaksikan gagahnya Gunung Marapi dan Gunung Singgalang di sisi utara. Puncak ini juga sering dijadikan sebagai titik start atau landasan pacu bagi pencinta olahraga paralayang.
            Dan, tentu saja yang membuat puncak ini berbeda dari puncak lainnya adalah kencangnya hembusan angin yang terjadi di puncak. Bahkan hembusan anginnya menimbulkan bunyi-bunyian yang seakan berlomba dengan suara manusia untuk menunjukkan suara siapa yang paling keras. Hembusan angin tersebut serasa berputar dan tidak pernah berhenti, oleh karenanya puncak ini lebih terkenal dengan Puncak Pusaran Angin.
            Karena hembusan angin itu pula maka area ini terasa begitu sejuk. Walaupun siang hari ketika matahari sedang terik tak akan terasa panas. Area puncak juga masih alami dan bersih, ditumbuhi rumput-rumput yang tebal. Dengan pemandangan dan suasana yang seperti itu dijamin siapapun bakal terpikat dan akan lebih menikmati makanan apapun yang mereka bawa untuk dijadikan bekal. Tak heran banyak pengunjung yang datang untuk menikmati suasana di puncak setiap harinya, terlebih lagi ketika hari libur.


            Area puncak ini juga luas, Anda bahkan bisa membawa sepeda motor atau mobil ke area puncak ini, namun tentu saja harus berhati-hati karena tidak ada pembatas jalan. Area ini sebenarnya sudah dikenal lama, namun hanya dikelola oleh warga sekitar. Tidak ada tanda-tanda sentuhan pemerintah di area ini. Sepintas area ini bukan seperti area wisata karena ketiadaan pengelolaan yang profesional dari pemerintah atau pihak swasta. Padahal potensinya tidak kalah dengan Puncak Lawang yang berada di Puncak Danau Maninjau Kabupaten Agam.

*Terbit di Medan Bisnis Edisi Minggu

Rabu, 16 Maret 2016

Sensasi Ketenangan dari Alaminya Negeri Suah

Hamparan sawah hijau terbentang luas di lembah itu. Di pertengahan sawah tersebut mengalir  sungai yang jernih, saya turun untuk mencoba airnya, ternyata sejuk. Beberapa pohon kelapa berbaris rapi di pematang sawah, dari kejauhan terlihat bukit-bukit yang dengan kokoh mengawal lembah ini dari pengaruh luar.
            
            Dari Sibolangit di Desa Bandar Baru kami berbelok ke arah kiri menelusuri jauh ke dalam pasar yang selalu ramai. Jalanan yang awalnya aspal tiba-tiba berubah menjadi susunan paving block yang cukup rapi. Hingga akhirnya kami menemukan kembali jalanan beraspal namun terdapat tanjakan dan turunan tajam yang diselingi lubang-lubang di sisi kiri-kanan jalan.
            Setelah satu jam lebih berkendara dari Bandar Baru kami belok kanan di sebuah pertigaan dan seketika jalanan yang awalnya beraspal berubah tanah dan kerikil. Namun ada juga jalanan yang disemen membentuk dua jalur yang masing-masing selebar sepeda motor. Dari sini jalanan semakin menanjak, saat itu juga kami harus hati-hati berkendara karena sempitnya jalan dan licin karena saat itu baru saja hujan.
            Semakin jauh kami menemukan beberapa rumah panggung yang masih tradisional. Suasananya juga sepi, tak banyak penduduk yang berada di luar rumah. Ada pun itu hanya beberapa orang yang sudah tua dan anak-anak kecil seumuran sekolah dasar. Kami berhenti di sebuah teras beratap milik sebuah rumah panggung. Pemiliknya mempersilakan kami untuk parkir di sana. Kami putuskan untuk memarkir sepeda motor di sana karena perjalanan berikutnya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
            Setelahnya kami berjalan menyusuri jalan setapak melewati hutan kecil menuruni lereng bukit. Tak jauh kami berjalan, hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari lokasi parkir kami sudah menemukan sebuah air terjun yang menuruni lereng yang landai. Kemiringan lereng tersebut sekilas mirip air terjun Mursala bedanya air terjun ini tidak langsung ke laut, tapi ke sungai. Air terjun tersebut oleh masyarakat sekitar disebut dengan Sempuren Suah atau Air Terjun Suah.
            Sensasi dinginnya air terjun bisa dinikmati jika menuruni terus hingga ke dasar air terjun. Karena lerengnya landai maka airnya jatuh tidak terlalu deras. Dari sini pun mulai terlihat pemandangan lembah yang menghijau karena dipenuhi sawah. Air sungai seakan membagi lembah tersebut menjadi dua sisi. Arus sungainya lumayan deras dan terlihat dalam hingga ke dasar.
 
             Suasananya begitu tenang, alami dan asri. Tidak ada suara hiruk pikuk kendaraan seperti di perkotaan, yang ada hanya suara angin, aliran air sungai dan kicauan burung-burung pemakan biji-bijian. Seolah kami berada di tempat lain, jauh dari teknologi dan modernitas, perbukitan hijau di sekeliling sawah seakan menjaga kealamian Desa Negeri Suah ini. Di sisi sungai yang berbatu kami mulai membuka bekal makan siang dan menikmati makan dengan lahapnya. Sepertinya ada pengaruh keindahan alam dengan nikmatnya santapan makan siang.
            Puas menyusuri sungai dan sawah kami bergerak ke arah hulu sungai. Kami hendak menuju sungai dua rasa, disebut dua rasa karena dalam satu sungai tersebut bertemu  aliran air yang memiliki dua suhu yang berbeda, panas dan dingin. Untuk mencapai sungai itu kami harus memutari lokasi parkir sepeda motor tadi. Perjalanan menuju sungai dua rasa didominasi jalan setapak yang ditumbuhi ilalang-ilalang di sisi kanan-kirinya. Sesekali ada beberapa jalan setapak yang becek.
            Tak sampai setengah jam kami sampai di sungai yang dimaksud. Aliran airnya masih deras namun sudah mulai dangkal, setinggi lutut hingga paha orang dewasa. Namun begitu masih ada beberapa sisi sungai yang dalam. Cukup sulit untuk menjelajah sungai karena jalan setapak di pinggir sungai tidak mengikuti aliran sungai, jika terus diikuti malah masuk ke hutan.
            Suhu air sungai di tempat kami berdiri masih dingin, namun sudah tercium bau belerang. Jika diperhatikan secara seksama kita akan melihat sedikit asap yang mengepul dari sisi sungai yang lain. Kami coba menyebrangi sungai karena air sungai yang bersuhu panas tersebut tidak bisa ditempuh pada sisi yang sama. Semakin dekat dengan sumber asap tersebut semakin jelaslah bahwa asap tersebut berasal dari sebuah kawah kecil, air sungai pun sudah mulai terasa panas. Namun karena arus sungai yang deras dan sungai yang semakin dalam kami hanya bisa memandang dari jauh kawah tersebut.


            Puas bermain air di sungai kami kembali ke lokasi parkir sepeda motor untuk kembali pulang. Suasana tenang, kesejukan dan kenyamanan yang dihadirkan di desa ini membuat siapa saja akan merasa betah untuk berada di Desa Negeri Suah. Apalagi untuk mendapatkan ketenangan tersebut tidak perlu pergi jauh dan mengeluarkan biaya yang banyak. Cukup pergi saja ke Sibolangit dan kunjungi Desa Negeri Suah.   

Senin, 15 Februari 2016

Perjalanan Spiritual di Tanah Suci Batak

Gunung Pusuk Buhit di Kecamatan Sianjur Mula Mula Kabupaten Samosir dianggap keramat oleh masyarakat Batak. Dipercayai di Gunung ini lah asal mula suku Batak lahir dan berkembang. Saking keramatnya banyak calon-calon pejabat di Indonesia yang datang guna berdoa dan memohon ridho untuk maju dipilkada. Bagaimana rasanya mendaki di gunung keramat ini?

Danau Toba dari puncak Pusuk Buhit
             Libur panjang akhir tahun lalu saya bersama delapan teman lainnya berkesempatan untuk mendaki Gunung Pusuk Buhit yang memiliki ketinggian sekitar 1900 mdpl. Kami berangkat dari Medan Rabu tengah malam menggunakan angkutan umum menuju Parapat. Esok paginya setelah sarapan, kami menyeberang ke Tomok dengan kapal penyeberangan yang sudah menunggu. Sesampainya di Tomok kami harus naik kendaraan lagi selama dua jam menuju Sianjur Mula-Mula menggunakan angkot yang telah kami booking sebelumnya.
            Jalur yang kami tempuh itu bukanlah satu-satunya jalur menuju Pusuk Buhit karena kita juga bisa mencapai Sianjur Mula-Mula via Berastagi-Kabanjahe-Sidikalang melewati Puncak Tele dan berakhir di Sianjur Mula-Mula.
Desa Batu Hobon

            Pendakian dimulai dari Desa Batu Hobon di Kecamatan Sianjur Mula-Mula dari sini kami sudah terpesona oleh pemandangan indah desa di kaki Gunung Pusuk Buhit ini. Betapa tidak, kami disuguhkan oleh hijaunya persawahan milik warga yang diselingi oleh beberapa ladang. Danau Toba mengintip dari sisi kanan jika kita melihat ke bawah. Yang tak kalah cantiknya adalah rangkaian perbukitan hijau yang memanjakan mata yang seolah-olah berlomba menunjukkan bukit mana yang tertinggi. Bukit tersebut ditumbuhi ilalang subur dan sedikit pohon Pinus, di sela-sela bukitnya mengalir banyak air terjun yang semakin membuat indahnya pemandangan. Suhu udara pun tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan inilah potongan surga yang sengaja Tuhan jatuhkan ke Bumi.
            Dari sini terdapat Sopo Tatea Bulan yaitu deretan sebuah pendopo yang berisi patung-patung keturunan Si Raja Batak, ada juga museum Toba Geopark Kaldera yang gedung fisiknya sudah rampung namun masih menunggu kelengkapan alat dan fasilitas lainnya agar bisa dibuka.
Jalur  pendakian

            Kami melanjutkan pendakian, menurut salah seorang rekan saya yang sudah pernah naik ke Pusuk Buhit pendakian akan memakan waktu 5 jam. Kami mulai mendaki pukul setengah dua belas siang. Jalur pendakian terbagi dua, ada jalur yang berkelok-kelok dengan pendakian yang landai, kemudian ada juga jalur memotong dengan pendakian yang tajam menembus ilalang-ilalang setinggi tubuh orang dewasa. Jika kuat mendaki jalur memotong adalah pilihan terbaik agar bisa cepat sampai ke puncak. Semakin jauh ke atas semakin bagus pemandangan yang muncul.
            Pukul empat sore kami tiba di sebuah dataran yang lumayan landai. Dataran ini cukup luas terdapat sebuah lapangan yang disemen seluas lapangan basket. Tak jauh dari situ terdapat sebuah altar dengan batu besar tempat pelaksanaan upacara adat dan keagamaan suku Batak. Tentunya agama asli Suku Batak yaitu Agama Malim atau yang dikenal dengan Parmalim. Sayangnya tempat itu sudah ditumbuhi ilalang-ilalang tinggi sehingga terkesan tempatnya tak terurus.
            Dari sini menuju puncak tinggal satu jam lagi namun kami memutuskan untuk menginap satu malam sembari memasak bekal dan memulihkan energi kembali. Di sini terdapat sumber mata air sehingga kebutuhan air para pendaki bisa terpenuhi.

            Kami menunggu malam pergantian tahun bersama pendaki lain di area camping ini. Sore itu hanya ada 6 tenda (termasuk 2 tenda kami) yang berdiri, namun menjelang malam pendaki lainnya mulai menyusul. Di area camping ini puncak Pusuk Buhit mulai nampak, sekilas kami melihat ada tenda yang berdiri di puncak. Memasuki detik-detik pergantian tahun kami dan beberapa pendaki lain ada yang membawa kembang api dan petasan, tak ayal seketika suasana menjadi riuh karena suara-suara petasan dan kembang api tersebut kami pun saling mengucapkan selamat tahun baru.
            Esok paginya setelah sarapan kami bersiap hendak menuju puncak. Jalur pendakian masih sama didominasi oleh ilalang yang tumbuh subur setinggi tubuh orang dewasa. Kami sampai di puncak Pusuk Buhit setelah satu jam mendaki. Pemandangan luar biasa indah membentang dihadapan kami. Kami bisa melihat setengah dari keseluruhan Danau Toba dari sisi Utara hingga sisi Selatan, kami juga bisa melihat setengah sisi Pulau Samosir, awan menggantung dan kabut tipis menghiasi indahnya biru air Danau Toba. Pohon Pinus yang banyak tumbuh mengeluarkan bunyi layaknya hujan yang turun deras ketika disapa angin. Kami juga menemukan Parsaktian (tempat peribadatan) dan Bendera Batak yang disandingkan dengan bendera merah putih.
            Kami kembali mendirikan tenda dan menginap satu malam di puncak. Kami juga bertemu dengan pendaki lain yang sudah mendirikan tenda di sana. Tak mau ketinggalan pendaki lain turut menyusul kami ke puncak.
            Menjelang sore kabut awan mulai turun, suhu udara menjadi sangat dingin. Kabut turun membawa tetesan embun, angin yang berhembus membuat cuaca seolah-olah hujan kami berlindung di dalam tenda. Keadaan tersebut terus bertahan hingga esok paginya. Karena itu pula kami tak bisa memasak makan malam.            
Parsaktian di Puncak Pusuk Buhit

            Setelah satu malam bertahan di tenda, esok paginya kabut mulai berkurang sedikit, kami bisa menikmati indahnya matahari terbit dari sisi timur Danau Toba sembari memasak sarapan. Kami tak lupa untuk mengabadikan indahnya momen tersebut. Pukul sepuluh pagi kami bersiap untuk turun dari Gunung keramat ini. Semua kenangan indah yang diberikan alam dan Gunung ini akan selalu membekas di memori kami semua.


Harus Menjaga Perilaku dan Sopan Santun
Selama perjalanan pendakian dan berkegiatan di Pusuk Buhit ini para pendaki diwanti-wanti untuk tetap menjaga tingkah laku dan kesucian gunung. Pendaki dilarang berkata kotor, bertindak vandalisme dan perbuatan asusila. Untuk mengambil air di sumber mata air juga harus permisi dulu. Masyarakat sekitar dan Suku Batak umumnya mengganggap Gunung ini sebagai tempat keramat.
Kejadian yang tak akan kami lupakan terjadi saat hari kedua kami di Pusuk Buhit. Saat itu kami tengah bersiap membersihkan tenda setelah sarapan di area camping ground. Kami hendak berangkat menuju puncak.

Saat itu datang beberapa penduduk sekitar, mereka didominasi oleh wanita-wanita tua dan beberapa anak-anak yang masih belia, kami memanggilnya ompung. Kalau dilihat dari arah datangnya mereka habis menuruni puncak Pusuk Buhit, mereka baru saja beribadah di Puncak. Salah seorang diantaranya berbicara dalam bahasa Batak pada beberapa pendaki, dari kalimat yang disampaikan oleh si penerjemah terlihat si Ompung sedang marah dan kesal pada beberapa pendaki. Ia marah karena ada oknum pendaki buang air besar disumber mata air yang ia miliki. “Jangan kau kotori airku, kalau mau BAB cari tempat jauh-jauh dan kubur di dalam tanah,” begitu kata si Ompung jika diterjemahkan.
Ia juga mendatangi kelompok pendaki lainnya memberikan nasehat-nasehat, inti nasehat itu adalah jangan berbuat sembarangan di Pusuk Buhit ini. Misalnya berkata kotor atau mengotori alam bahkan berbuat asusila. Masyarakat sekitar menganggap gunung tersebut sebagai tempat suci dan tempat beribadah sehingga harus dijaga kesucian dan kebersihannya. “Jangan sampai kubuat gila kau nanti ya,” tambah si Ompung yang kemudian diterjemahkan oleh beberapa orang yang mendampinginya,
            Ternyata kejadian itu bukan hanya dialami oleh kami yang di camping ground saja. Di tengah perjalanan kami menuju puncak Pusuk Buhit kami berpapasan dengan pendaki lain yang hendak turun dari puncak. Mereka memperingatkan kami agar tidak usah ke atas bahkan jangan mendirikan tenda. Sebab mereka juga sempat dimarahi oleh ompung yang sama. Menurut mereka, ompung tersebut marah karena sampah pendaki berserakan dan tempat peribadatan mereka menjadi kotor akibat ulah pendaki yang tidak bertanggung jawab. “Turun kalian semua, kalau tidak hal aneh akan terjadi pada kalian,” ucap salah seorang dari mereka menirukan ucapan sang Ompung.
            Setelah berdiskusi kami pun memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan tentunya kami harus minta izin pada beberapa masyarakat yang masih berada di sana, jika tak diizinkan menginap paling tidak kami bisa mengambil beberapa foto. Niat baik kami ternyata diterima, beberapa orang yang baru saja selesai beribadah membolehkan kami untuk menginap dengan syarat tetap menjaga kebersihan, tidak mengganggu bahan sesajian dan tidak berbuat yang tidak-tidak.
Danau Toba di pagi hari

            Keramatnya gunung ini juga terlihat dari banyaknya sesajian yang diantarkan oleh penduduk sekitar. Diperjalanan pulang kami melihat masih banyak penduduk yang ingin mendaki sambil membawa beberapa ekor ayam putih dan beberapa sesajian lainnya. Beberapa rekan sependakian pun menuturkan para pejabat yang hendak maju pada pilkada juga banyak yang memohon doa di gunung ini.
            Juru kunci Aek Sipitu Dai, yang akrab disapa Bapak Sagala menuturkan bahwa jika ingin mendaki hendaknya bawa 7 lembar daun sirih yang kemudian diletakkan pada parsaktian. Menurutnya manfaat dari hal tersebut adalah menjaga keamanan dan perdamaian dengan Ompung yang tinggal di Puncak Pusuk Buhit. “Paling tidak kita menghargai walaupun kita tidak mempercayainya,” ucap Bapak Sagala.     


*Tulisan ini terbit di Harian Medan Bisnis edisi Minggu

Selasa, 02 Februari 2016

Sipiso-piso Bukan Hanya Air Terjun

Apa yang terbayang dipikiran Anda ketika mendengar kata Sipiso-piso? Pastinya adalah salah satu air terjun yang tertinggi di Sumatera Utara dan bahkan di Indonesia. Namun ternyata Sipiso-piso bukan saja menawarkan keanggunan dan dinginnya air terjun saja, Sipiso-piso juga menawarkan pemandangan indah Danau Toba, bukit, dan gunung lain dari ketinggian 1900 mdpl. Pemandangan tersebut bisa dinikmati dari puncak Bukit Sipiso-piso.

Untuk mencapai Bukit Sipiso-piso tidaklah susah, perjalanan dari Medan menuju Kabanjahe dan berhenti di obyek wisata Air Terjun Sipiso-piso di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Rute tersebut bisa ditempuh selama 2 hingga 3 jam. Pendaki punya dua cara untuk mendaki bukit ini. Bagi yang ingin menikmati sensasi mendaki gunung bisa menaiki bukit dengan berjalan kaki, total waktu tempuh mendaki adalah dua jam. Namun jika punya nyali dan suka tantangan pendaki bisa membawa sepeda motornya menaiki tanjakan-tanjakan tajam.



 Jalanan menuju puncak tidaklah susah, hampir sebagian besar jalan sudah diaspal dengan lebar jalan dua hingga tiga meter, namun begitu harus tetap berhati-hati karena kemiringan jalan sekitar 45 hingga 60 derajat, oleh karenanya pastikan sepeda motor Anda kuat untuk mendaki. Jalur pendakian juga berkelok-kelok persis pendakian di jalanan Sibolangit-Berastagi, bedanya jalur Sipiso-piso jauh lebih sempit dan ditemani pemandangan yang lebih indah.
Jika telah sampai di Puncak, pendaki akan disuguhkan dengan pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir yang dihiasi dengan awan-awan tipis bagaikan kapas di atasnya. Sensasinya serasa berada di Negeri di Atas Awan. Pusuk buhit pun keliatan dari sini, pun lagi Gunung Sibuatan. Dari Puncak kita juga bisa melihat sedikit puncak dari Air Terjun Sipiso-piso sehingga kita bisa tahu darimana aliran air terjunnya. Kita juga bisa melihat jalanan menuju Desa Tongging di bawah sana. Semilir angin membuat udara di puncak terasa sejuk.

Keadaan di Puncak Sipiso-piso tidak berbeda dengan bukit-bukit lainnya. Banyak juga pendaki yang memasang tenda dan memilih bermalam demi menanti sunrise esok paginya. Pohon-pohon dan ilalang tumbuh subur, ada juga dua pendopo kecil yang penuh coretan dan terkesan tak terawat. Sudah dua bulan ini ada yang menyediakan jasa mengangkut air dari bawah untuk kebutuhan buang air bagi pendaki. Oleh karenanya pendaki akan diminta membayar Rp 7 ribu perkepala sebagai upah jasa membawa air dan uang kebersihan.

Di puncak ini juga ada tapal batas dua kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun.

Jika ingin menginap di atas lebih baik memulai pendakian pada malam hari karena persediaan makanan dan air yang sedikit, namun jika hanya sekedar hiking dan menikmati pemandangan dari atas lebih baik mendaki dipagi hari. Dan saya pun menikmati suasana di Puncak Bukit Sipiso-piso yang damai dan tentram jauh dari hiruk-pikuk kota besar. 

Air Terjun Nan Alami, Air Terjun Pelangi Indah

Ini bisa jadi tujuan wisata bagi pecinta alam. Namanya Air Terjun Pelangi Indah. Ia masih alami, belum banyak dimodifikasi.

Air terjun alami nan tersembunyi , begitu kesan yang akan muncul ketika berkunjung ke sini. Ia berada dekat sekali dengan Danau Linting hanya berjarak sepuluh kilometer, atau lima belas menit jika berkendara.
Jika ingin berkunjung ke air terjun ini haruslah rajin bertanya pada penduduk sekitar. Sebab belum banyak papan penanda yang menunjukkan keberadaan air terjun ini. Tiga ratus meter jelang air terjun jalanan belumlah beraspal, hanya tanah dan kerikil pun cuma muat dilalui untuk satu mobi saja.
Sesampai dilokasi air terjun belum langsung nampak,gemuruh air pun belum terdengar. Hanya ada sebuah pondok beratap daun kelapa dan bertiang kayu, ada empat sepeda motor yang diparkir, juga ada warung minuman dan makanan ringan.

Namun di samping pondok itu ada susunan anak tangga yang seakan memandu untuk menuruni sebuah lembah. Selang beberapa detik kemudian muncul empat orang tengah ngos-ngosan setelah menaikinya. Oh! Rupanya Air Terjun Pelangi Indah ada di bawah sana.

Semakin menuruni anak tangga semakin terdengar gemuruh air, semakin terasa juga udara sejuk khas pegunungan. Tempat ini benar-benar masih alami, hanya ada susunan anak tangga yang sengaja disemen untuk membantu menuruni lembah itu. Di sekeliling hanya ada hutan, perbukitan dan tebing batu, semua masih asri. Terlihat beberapa penduduk sekitar yang baru saja selesai mencuci di bawah air terjun.
Sesampainya di bawah tampaklah rupa air terjunnya. Rupanya air terjun ini terbentuk dari susunan batu secara alamiah, ada dua air terjun setinggi sepuluh meter. Banyak tumpukan batu-batu yang berukuran besar disekitarnya, air terjun pun jatuh melintasi batuan yang terbesar.
Karena terbentuk dari susunan batu, ada sebuah celah dibawah air terjun. Cukup luas untuk duduk di bawahnya. Dasar air terjun tidaklah dalam seperti Air Terjun Dwi Warna di Sibolangit. Karenanya pengunjung bisa bebas menjelajahi area seputaran air terjun. Tampak pula di antara batu-batu besar itu tumbuh tanaman dan lumut. Air yang sejuk dan dingin terasa sayang jika tak sempatkan untuk mandi.

Beberapa pengunjung terlihat berfoto di atas air terjun. Rupanya di pertengahan anak tangga tadi ada jalan kecil menuju bagian atas air terjun. Tiba di atas air terjun terlihat pemandangan lain, ada begitu banyak tumpukan batu yang tersusun alami. Batu pipih yang tersusun dari empat sampai lima batu, hadir pula pohon mati yang bertumpuk di atasnya. Ada juga batu yang ditumbuhi lumut serta daun-daun yang bejatuhan dari pohon yang tumbuh di sekitar menambah kesan alaminya tempat ini.

Semakin dijelajahi, tempat ini semakin menunjukkan kealamian dan pesona tersembunyinya. Jika terus bergerak ke atas, akan ditemukan sebuah tempat yang begitu unik, kesan yang ditimbulkan serasa berada di tempat lain. Ada lembah sungai yang diapit tebing batu setinggi dua puluh meter dengan lebar lembah lima hingga tujuh meter. Batu yang berada di tebing tadi masih setipe dengan batu-batu yang tadi ditemui.

Tebing batunya seakan membentuk sebuah relief karena gelombang-gelombang yang dimilikinya. Airnya mengalir tenang, dasar sungainya pasir, jika diinjak akan menghisap kaki, sehingga harus hati hati untuk memilih tempat berpijak. Sungainya masih panjang berkelok-kelok hingga beberapa meter ke depan. Sekilas di sini mirip Ngarai Sianok di Bukittinggi, bedanya tempat ini lebih mini dan tebingnya terbuat dari batu.
Suasananya begitu damai dan tenang. Tak ada hiruk pikuk kendaraan bermotor, tak ada suara orang, yang ada hanya kicauan burung. Sangat cocok untuk relaksasi dan dan melupakan sejenak hiruk-pikuknya kota Medan. Sepinya tempat ini benar-benar menunjukkan bahwa air terjun ini masih belum banyak yang menjamahnya. “Masih sedikit orang yang tahu dengan tempat ini,” ungkap Anita Samosir salah seorang pengunjung dari Medan.

Anita bilang air terjun ini merupakan salah satu dari tiga air terjun yang berada di sekitaran Danau Linting. “Air terjun ini lah yang paling dekat,” katanya.

Selasa, 30 Desember 2014

Misteri Harta Kekayaan Tjong A Fie

Sebuah gedung tua berwarna kuning pucat berdiri kokoh ditengah-tengah keramaian lalu lintas kota Medan. Gedungnya dua lantai, di depan pintu utama tergantung dua lampion berwarna merah khas Cina. Gedung itu tak sendiri, masih banyak gedung-gedung tua disekitaran daerah ini. Daerah ini dikenal sebagai Kesawan oleh orang-orang Medan.
Rumah Tjong A Fie

 Gedung yang dimaksud adalah Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah tua yang telah berdiri sejak tahun 1895. Rumah ini didirikan sendiri oleh Tjong A Fie dengan bantuan arsitek dari Belanda. Tjong A Fie sendiri adalah seorang pedagang dermawan dari Cina yang sering membantu pembangunan daerah kota Medan sejak tahun 1890-an. Kekayaannya berasal dari luasnya perkebunan yang ia miliki, ia membuka lapangan kerja bagi rakyat pribumi dan masyarakat China dengan perkebunan yang ia miliki.

Seorang lelaki tua berkacamata hitam berdiri dihadapan kami. Ia mengenakan kaos oblong berwarna krem, ialah Fon Prawira Tjong. Ia adalah cucu dari Tjong A Fie dari anak yang keempat. Ia menceritakan pada kami berbagai kedermawanan dan berbagai bentuk bantuan Tjong A Fie untuk pembangunan kota Medan dan Sumatera Utara, Tjong A Fie pernah membiayai pembangunan Mesjid Lama Gang Bengkok, Mesjid Lama di Sipirok dan berbagai bantuan yang berguna bagi masyarakat sekitar. Ia juga membantu memberi santunan untuk masyarakat tak mampu.

Sebagai pemimpin usaha, Tjong A Fie membentuk manajemen-manjemen untuk mengurusi berbagai usaha yang dimilikinya. Untuk itu ia menunjuk orang Belanda untuk mengisi tempat ini. “Karena tak mungkin ia mengurusi sendiri semua bentuk usaha tersebut.” Katanya sambil tersenyum

Orang Belanda itu menjadi tangan kanan usaha Tjong A Fie sejak ia masih hidup. Istrinya yang ketiga tak sekolah, anak-anaknya masih dibawah umur sehingga Tjong A Fie menunjuk seorang Belanda untuk mengurusi perkebunan dan berbagai bentuk usaha yang ia miliki.

Setelah Tjong A Fie meninggal di tahun 1921, pihak Belanda memindahkan semua keluarga Tjong A Fie, istri dan anak-anaknya yang masih kecil sebanyak tujuh orang ke Swiss selama lima belas tahun. Tak ada satupun keluarga Tjong A Fie yang tertinggal di Medan, sehingga harta dan kekayaan tersebut tak ada yang mengawasi.

“Apa yang terjadi kalo tak satupun keluarganya di medan untuk mengawasi segala usaha Tjong A Fie?” Tanya Fon
Fon Prawira Tjong, salah satu cucu Tjong A Fie tengah jelaskan mengenai kedermawanan kakeknya 


Fon tak berani langsung menuduh kalau harta tersebut diambil alih oleh Belanda. Tetapi secara halusnya ia menyebut akan terjadi sesuatu hal yang tak berpihak terhadap kepentingan keluarga Tjong A Fie. “Sebab sewaktu mereka kembali sebagian dari harta-hartanya ini sudah banyak berkurang, dengan berbagai alasan yang dipertanggungjawabkan oleh Belanda” ucapnya dengan nada lesu.

“Yang mengerti Belanda, yang tahu Belanda yang mempertanggungjawabkan juga Belanda, jadi dijawablah sendiri apa itu kejadiannya,” tantang Fon.

Sisa-sisa harta tersebut lalu dikelola oleh keluarga setelah mereka kembali tapi mereka menghadapi perang dunia kedua, berbagai perubahan-perubahan sosial politik, pemberontakan dimana-mana, sehingga dengan berbagai gejolak dan perubahan tersebut membuat kehilangan hak atas kepemilikan harta “Ada beberapa hal yang menghilangkan banyak hak atas kepemilikan harta keluarga di Sumatera Utara,” ungkap Fon.

Fon tak bisa bilang  harta itu hilang, habis atau diambil orang tapi itu akibat dari proses kehidupan, “Mungkin suatu saat bisa diambil kembali tapi kapan wallahualam,” katanya.
Tjong A Fie sendiri meninggal di umur enam puluh satu tahun, ia meninggal mendadak dengan alasan pecah pembuluh darah, “Kembali lagi dengan logika sejarah, ada apa? Itu lah yang perlu diinvestigasi,” tanyanya penasaran.

Rumah Tjong A Fie Kini
Tampak sebuah rombongan kecil yang dipimpin oleh seorang wanita muda. Namanya Tetty Ginting, ia merupakan salah satu guide di rumah Tjong A Fie ini. Dari penjelasan Tetty rumah Tjong A Fie terdiri dari tiga bagian utama, bagian sayap kanan, sayap kiri dan gedung induk. Sayap kanan dan gedung induk boleh digunakan untuk tempat kunjungan, bagian sayap kiri diisi oleh keluarga Fon Prawira Tjong.

Sejak tahun 2009 rumah Tjong A Fie dijadikan tempat kunjungan. Tetty bilang rata-rata pengunjung perhari sekitar dua puluhan. Luas rumah enam ribu meter persegi dengan luas bangunan delapan ribu meter persegi, dengan jumlah kamar 35 kamar.
Bagian dalam Rumah Tjong A Fie

Ia menyebutkan dari awal pembangunan rumah ini tak ada perubahan, hanya penambahan tiang kecil untuk memperkokoh gedung. Tjong A Fie turut memberi ide rancangan dan desain. Tetty bilang Tjong A Fie ingin membuat semua orang nyaman berada di rumahnya. Warna kuning yang merupakan gaya melayu ia pakai, sedangkan hijau merupakan perlambang keislaman, “Banyak yang tanya kenapa sih warnanya gak dominan merah seperti rumah Cina kebanyakan? Nah jawabannya yang itu tadi lah,” jelas Tetty sambil tersenyum.

Ditahun 2009 juga, rumah Tjong A Fie resmi dijadikan cagar Budaya oleh pemerintah, akan tetapi mengenai anggaran perawatan tak ditanggungjawabi oleh pemerintah. “Ini masih masuk prioritas ke tiga puluh,” kata Fon


Fon menyebutkan banyak yang menawarkan tanah dan rumah ini untuk dijual yang kemudian akan digunakan sebagai lahan untuk pembuatan mall, restoran ataupun hotel.   Tetapi dengan yakin ia tak akan menjual rumah bersejarah ini, karena dari pandangannya ia melihat sejarah sebagai kebanggaan bangsa sehingga ia tak akan menjual aset berharga ini. “Orang yang mau menjual sejarah adalah orang yang hanya melihat sejarah dari segi entertaint atau hiburan saja sehingga banyak yang memperjualbelikannya,” terangnya.

Senin, 17 Maret 2014

Tentang Kera, Penangkaran dan Pejuangnya

Atas dasar hati nurani, bermodalkan keikhlasan. Hamidah dan keluarga mau berbagi hidup dengan kera-kera ini, bahkan memperlakukannya selayaknya keluarga.

Penulis: Baina Dwi Bestari dan Gio Ovanny Pratama

Hutan Sibaganding, Parapat bukan tempat menarik di tahun 1980-an. Tidak ada apa-apa. Tapi ada Umar Manik yang hidup di situ. Bersama istrinya Hamidah, ia hidup dengan keadaan ekonomi yang jauh dari kata layak. Umar dan Hamidah memutar otak mencari cara untuk  menyambung hidup. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berkebun di tengah hutan tersebut.

Gapura Pintu Masuk Taman Wisata Kera di Sibaganding, Parapat | Rida Helfrida Pasaribu



Mereka memilih menanam timun, pisang, labu dan daun sup yang dirasa berumur muda dan tidak butuh waktu lama untuk panen. Karena nantinya hasil panen itu akan mereka jual untuk dapat uang.
Setelah merawat dan menunggu dengan sabar, tibalah waktu panen. Panen pertama mereka bisa dikatakan berhasil. Semua tanaman tumbuh dengan subur. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan ke­giatan berkebun itu.
Mereka lagi-lagi menanam tanaman yang sama di kebun mereka. Dan tibalah waktu panen kedua.
Tapi, ternyata mereka tidak semujur sebelumnya. Tanaman mereka kali ini banyak yang rusak. Selidik punya selidik, ternyata kebun mereka ‘dikunjungi’ oleh penghuni asli hutan tersebut yaitu kera-kera hutan Sibagan­ding.
Tidak kehilangan akal, Umar dan Hamidah punya cara sendiri untuk mengatasi kera-kera tersebut. Me­reka mencoba meracuni gerombol­an kera tersebut agar jera dan tidak lagi mengganggu tanaman me­reka. Namun rupanya kera-kera tersebut seakan-akan tahu bahwa itu adalah racun. Racun yang disediakan se­perti makanan di ladang perkebun­an me­reka tak disentuh sedikit pun oleh kera malah tanaman di kebun mereka tetap berkurang.
Namun Umar dan Hamidah belum menyerah. Mereka berniat melakukan hal yang sama keesokan harinya.
Malam harinya ketika Umar sedang di rumah, Ompung Sinaga, leluhur yang dulunya menghuni hutan Sibaganding datang menemuinya. Ompung Sinaga marah padanya. “Ja­ngan kau racuni kera-kera itu, rawatlah mereka, kasih makan, nanti kau bisa dapat nama,” katanya.
Umar tidak mengerti maksudnya. Tapi, sebelum ia sempat bertanya, Ompung Sinaga sudah pergi. Umar mencoba tetap bertanya sampai akhir­nya ia tersentak dan terbangun dari tidurnya.
Ternyata, Ompung Sinaga mene­muinya dalam mimpi.
Umar yang kebingungan langsung menceritakan perihal dalam mimpinya ke Hamidah. Bukan membantu, Hamidah malah ikut bingung. “Apalah artinya dapat nama?” tanya­nya.
Ternyata, mimpi itu tidak datang sekali. Keesokan harinya, Umar bermimpi hal yang sama.
Bermodalkan rasa penasaran, akhirnya mereka bertanya kepada tetua di kampung perihal mimpi itu. Si tetua menjelaskan kalau mereka seperti diberi amanah untuk menjaga dan merawat kera-kera di hutan Sibaganding. Sejak saat itu, Umar dan Hamidah berhenti meracuni kera-kera tersebut dan malah menjaganya.
Mereka memberi makan dan merawat kera-kera tersebut seperti keluarga sendiri.
Tak lama dari itu, Umar dan Hamidah­ memutuskan untuk berhenti berkebun dan memilih untuk menjual kayu bakar. Hasil penjualan kayu bakar tersebut mereka pakai untuk membeli pisang, kacang dan makanan lain untuk diberikan pada kera-kera itu. Gerombolan kera yang datang ketika mereka mulai memberi makan bisa mencapai 30 sampai 50 ekor tiap waktunya.
Tapi, sejak adanya mimpi tersebut memang Umar dan Hamidah merasa bertanggung jawab atas kera-kera itu.

***
Abdurrahman mulai menapaki anak tangga yang semennya sudah hancur, tidak sama di setiap lantainya. Anak tangga itu basah, berlumut. Di kiri kanan jalan terdapat batu-batu besar dan bekas aliran sungai. ­Rahman sedang menuju tempat memanggil dan memberi makan kera yang berada di dalam hutan. Nama tempat itu Wisata Penangkaran Kera, tertulis di gapura setinggi tiga meter sebelum anak tangga pertama bisa dipijak.
Setelah berhasil menapaki anak tangga yang kesekianpuluh, Rahman sampai di tempat yang dituju. Tanah sepetak yang disemen tidak rata, tempat ia berniat mengumpulkan kera-kera.
Rahman kemudian mengambil terompet miliknya dari dalam kandang yang di dalamnya ada tumpuk­an pisang, ubi dan kacang. Terompet yang dibuat dari tanduk kerbau itu kemudian ia tiup kencang. “Tteettt, tettt…… Na e… Na e…” Begitu bunyi terompet yang kemudian disusul oleh suara Rahman memanggil gerombolan kera dalam bahasa Batak yang artinya ‘ayo… ayo…’
abdurrahman meniup terompet yang sering digunakannya untuk memanggil kera | Rida Helfrida Pasaribu

Begitulah cara Rahman memanggil kera-kera dari tempat persembunyiannya. “Saya pelajari dari Bapak,” terangnya.
Menit pertama tidak ada tanda-tanda kedatangan satu pun kera. Rahman pun terus meniup lagi. Kali ini sambil memanggil nama-nama dari beberapa kera.
Berhasil, kera pun mulai berdatangan di menit selanjutnya. Satu, dua, dan kemudian ramai hampir 30 ekor kera datang memenuhi pelataran tadi, tepat di bawah kaki ­Rahman. Ada kera kecil, besar, siamang dan jenis kera lainnya di sana.
Rahman pun mengambil kotak yang berisi pisang dan mengeluarkan beberapa sisirnya. Kemudian, ia membagi-bagi pisang tersebut ke kera-kera.
Tidak ada rasa takut dari diri ­Rahman. Ia sudah terbiasa. Kera-kera itu pun menurut saja. Ketika pisang sudah habis, Rahman menyu­ruh me­reka pulang. Maka puluhan kera itu pun pulang dengan teratur.
Rahman adalah penjaga Wisata Penangkaran Kera yang ada di Parapat, Sumatera Utara ini sekaligus anak dari Hamidah. Untuk alasan tertentu Umar tak lagi bersama mereka. Jadilah se­karang mereka berdua yang mengurus tempat ini.
Mereka bukan orang kaya sekarang. Masih seperti dulu, hidup serba pas-pasan.
Tapi, Hamidah akui ia sudah merasa bertanggung jawab atas kera-kera di hutan Sibaganding ini. Ia khawatir tentang makanan kera kalau mereka berhenti memberi makanan. “Ketika kita memberi makan sedikit saja me­reka turun ke jalan raya berharap dari pengunjung Danau Toba. Dan kalau udah ke jalan, enggak sedikit yang mati tertabrak,” ungkapnya.
Atas dasar nurani itulah Hamidah tetap melanjutkan usahanya sebisa mungkin menjaga kera-kera itu hingga dilanjutkan oleh anaknya.
Tapi, ada yang berbeda dari cara mereka mendapatkan makanan untuk kera.
Ketika zaman Soeharto, banyak turis dan wisatawan yang datang berkunjung ke tempat ini. Dari situlah sumber dana banyak mengalir untuk membiayai makan kera dan kehidupan mereka sehari-hari. “Kalau dihitung waktu itu lima juta enggak kemana lah,” ujarnya.
Tapi sekarang wisatawan sudah mulai sedikit, kata Hamidah. Perhatian dari pemerintah hampir tak ada. Untuk makan kera murni bergantung dari wisatawan yang datang, dari situlah mereka meminta sumbangan seikhlasnya. Mereka juga tak mempunyai pekerjaan lain karena sibuk mengurusi kera-kera tersebut. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka membuka kedai kecil yang menjual makanan dan  minuman ringan di depan gapura tadi. “Kalau kami kerja tak ada yang bisa mengurusi kera ini,” ucap Hamidah sembari memperlihatkan daftar sumbangan pengunjung.
Abdurrahman memberi beberapa biji kacang pada kera | Rida Helfrida Psaribu

Kata Rahman, sempat ada monumen yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun bertulisan Lokasi Penangkaran Satwa Langka di jalan setapak menuju lokasi berkumpulnya gerombolan kera tadi. Namun, sudah tidak terlihat lagi karena ditutupi lumut. Sebenarnya, tak hanya kalimat itu saja yang tertuliskan di situ. Ada beberapa kalimat lagi yang sudah tak bisa dibaca karena tulisannya sudah ditutupi lumut dan nyaris hancur. “Ya beginilah keadaannya sekarang, jalanannya pun sudah tak diperhatikan lagi, kami tak punya dana untuk perbaiki jalan dan batu ini,” kisahnya.
Rahman berharap penangkaran monyet ini ada yang bantu. Baginya, dibantu dengan biaya makan kera saja sudah cukup. “Kalau pun nanti ada yang menyumbang  uang biar kami yang beli makannya. Tapi kalau tidak ada ya awak pun juga susah untuk makan,” katanya sambil tertawa kecil.
Rahman dan Hamidah sering mengajukan permohonan dana ke Pemkab Simalungun. Namun permohonan tersebut tinggal permohonan saja. Tak ada tanggapan dari peme­rintah. Padahal menurut Rahman, tempat ini bisa jadi kebanggaan bagi putra daerah jika merantau ke luar daerah. “Tapi, tidak lagi setelah keadaanya seperti ini. Enggak ada lagi yang bisa dibanggakan,” ujarnya.
Tapi, di tengah kesulitan tersebut mereka tak mau melepas begitu saja kera-kera yang sudah sangat akrab dengan mereka. “Kami melestarikannya karena tak sengaja. Kami ke sini untuk berladang bukan untuk mencari ketenaran dan uang dengan melestarikan kera ini,” kata Hamidah.
Pun begitu dengan Rahman. Sejak lahir ia sudah dibesarkan bersama kera. Baginya kera-kera ini sudah dia anggap seperti keluarga, bahkan lebih dari keluarga sendiri. Ia akan merasa sedih jika melihat keranya mati ditab­rak mobil di tengah jalan.
Ia belajar dari bapaknya, Umar Manik cara berkomunikasi dan berteman dengan kera. Ia tahu, Umar sangat menyayangi kera-kera ini. “Lebih baik aku berpisah dari istri dan anakku dari pada sama keraku,” ucap Rahman menirukan kalimat bapaknya.

Beberapa ekor kera menunggu untuk diberi makan | Rida Helfrida Pasaribu



Butuh Kerjasama dan Perhatian dari Pemerintah
Keberadaan tempat penangkaran kera di Parapat ini membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Hal ini dirasakan oleh salah seorang pedagang di daerah Penatapan, Parapat, Hotmian Manurung. Menurutnya dengan adanya tempat penangkaran kera ini jualannya jadi laku dibeli pe­ngunjung untuk kemudian diberikan pada kera.
Pun begitu dengan Juli Wiyanto, ia memiliki usaha rumah makan di Parapat. Menurutnya tempat pe­nangkaran kera tersebut bisa menjadi penunjang pariwisata di daerah parapat. Walaupun sekarang kera-kera itu berserakan, namun itu sebenarnya terkoordinir. Pe­ran tempat penangkaran kera itu sen­diri ju­ga sangat bermanfaat, bisa me­ngundang turis-turis lokal untuk datang selain Danau Toba yang jadi daya tarik utama.
“Mere­ka enggak ngambil  keun­­tu­ngan, me­reka ­pelihara dan ngasih ma­kan kera, masyarakat sini juga senang ­dengan ada­nya ini. Baguslah me­reka,” tutur Juli.
Menurutnya lagi mereka tidak memungut retribusi. Akan tetapi mereka menjual makanan kera, seperti pisang kepada pe­ngunjung, pengunjung beli dan uang itu mereka putar lagi untuk membeli makanan lagi. “Masyarakat sini juga sebenarnya tak sering membantu mereka tapi biasanya ada juga kok masyarakat yang mau membantu, mudah-mudahan ada,” katanya.
Menurut Hotmian untuk urusan pengelolaan seharusnya ada turut campur dari pemerintah, kalau ha­nya dari masyarakat saja tak cukup,  karena pertumbuhan kera sangat­lah cepat jadi nanti kalau mereka turun bisa mengganggu masyarakat. Hotmian bilang, Hamidah dan keluarga­nya sebenarnya membantu di satu tempat saja, sedangkan kera-kera itu masih banyak di daerah lain seputaran Sibaganding dan daerah Penatapan.
Kata Hotmian, pemkab turut campur hanya setelah tempat penangkaran itu maju, namun setelah itu tak ada ditindaklanjuti. “Pemerintah mau enaknya aja, mau uangnya tanpa ada bantu,” katanya.
Apa yang kurang dari tempat penangkaran ini menurut Hotmian adalah hanya dicara pengelolaannya saja. Ia berharap, hendaknya ada kerjasama antara keluarga Hamidah dengan pemerintah. “Keluarga si Umar dikasih gaji dari pemerintah lalu keluarga si Umar kasih makanlah (kera   -red),” ucap Hotmian dengan logat Bataknya.
Dampak yang dirasakan Hormian sekarang adalah banyak kera yang sudah mulai liar karena kelaparan. “Kalau dulu sewaktu Pak Umar masih mampu enggak seliar ini,” tambah­nya.
Namun begitu Juli mengapresia­si usaha keluarga Hamidah untuk menjaga dan merawat kera-kera ini. “Me­reka tak mengeluh, mampu mandiri. Dengan tak adanya biaya yang turun dari pemerintah mereka berusaha sendiri dengan upaya mereka untuk hidup, dan menghidupi kera-kera itu,” tutupnya.



*Tulisan ini adalah hasil liputan bersama untuk Majalah Mahasiswa SUARA USU edisi ke-4, terbit November 2013 lalu
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com