Tampilkan postingan dengan label nasionalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Nostalgia Sejenak dengan Senjata Tradisional di PRSU

Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) edisi 2016 kali ini memiliki spot baru yang sayang kali jika dilewatkan. Kali ini ada Pameran Senjata Tradisional Nusantara yang dihelat di Gedung Serbaguna PRSU selama satu minggu pada 18 sampai 24 Maret 2016.


            Memasuki salah satu ruangan di Gedung Serbaguna PRSU terdapat tiga puluh stelling berlapis kaca dan berhias kain songket atau tenunan dari berbagai daerah di Sumatera. Di dalam stelling kaca ini lah ratusan senjata tradisional milik beberapa kolektor dari seluruh Indonesia di pamerkan. Bermacam senjata tradisional ada di sana seperti keris, bedik, pedang, tombak dan loting (pemantik api).
            Bukan hanya itu saja, dinding ruangan yang dilapisi kain berwarna hijau dan kuning ini juga dipajang foto-foto berbagai macam keris, pedang dan beberapa tokoh-tokoh dari beberapa kerajaan yang terkenal di zaman kerajaan Indonesia dahulu.
            Aneka senjata tradisional yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Batak Karo, Pak-pak, Batak Toba, Deli, Riau, Palembang, Jawa, Yogyakarta, Solo, Mataram, Bali, Sumba, Kalimantan dan Bugis. Ada Keris Jawa, Keris Aceh, Bedik Melayu, Tombak Batak, dan Podang Batak Toba.

            Jimmy Azzarian, konsultan pameran bilang ada lebih dari tiga ratus senjata tradisional dari belasan kolektor senjata tradisional, salah satunya Rudi Oei yang sekaligus menjadi penggagas acara pameran senjata tradisional nusantara ini. “Ada juga senjata tradisional milik Raja Bali yang dipamerkan,” tambahnya.
            Jimmy juga bilang tujuan utama dilselenggarakannya pameran ini adalah untuk mengenalkan kembali pada masyarakat Indonesia khususnya Sumatera bahwa ternyata daerah-daerah di Sumatera punya beragam jenis senjata tradisional yang harus dilestarikan. Bahkan Jimmy menyatakan bahwa jenis senjata tradisional yang dimiliki oleh daerah-daerah di Sumatera jauh lebih beragam dibanding jenis senjata tradisional di daerah-daerah Jawa.
“Sayangnya sekarang  senjata-senjata tradisional miliki Indonesia sudah banyak yang berpindah tangan ke orang-orang kerajaan di Malaysia setelah mereka beli,” ungkap Jimmy.
            Pria asli Jawa ini menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sekarang sudah banyak yang melupakan dan kurang mengapresiasi kebudayaan milik sendiri salah satunya senjata-senjata tradisional. Bahkan menurutnya orang luar Indonesia seperti Malaysia dan Eropa jauh lebih mengapresiasi peninggalan bersejarah tersebut.

            Di dalam ruangan yang hampir seluas setengah lapangan bola tersebut bisa dijelajahi seluruh kekayaan budaya Indonesia. Bahkan dengan melihat kumpulan senjata-senjata tradisional yang dipamerkan serasa membawa kembali memori kejayaan masa-masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia beberapa abad silam. Puluhan pengunjung yang penasaran terus berdatangan untuk melihat secara langsung senjata tradisional yang dipamerkan.


            Ada juga beberapa keris yang dijual oleh si pemilik keris. Salah satunya Ma’run Singa. Pria asli Jawa Timur ini datang ke Medan untuk ikut memamerkan dan menjual koleksi keris dan senjata tradisional lain yang ia miliki. Kisaran harga yang ia tawarkan untuk keris paling murah adalah Rp 2 juta dan paling mahal Rp 10 juta tergantung kualitas keris dan lamanya usia keris tersebut. Ma’run bilang keris yang ia miliki adalah asli warisan turun-temurun dari keluarganya. “Walaupun warisan, sekarang sudah enggak masalah kok kerisnya dijual,” ungkapnya.

*Terbit di Medan Bisnis edisi minggu

Selasa, 05 Januari 2016

Salah Satu Peneliti Indonesia yang ‘Tak Wajar’

 Hakikat penelitian adalah pengabdian. pengabdian pada ilmu yang dipelajari, pengabdian pada masyarakat, pada bangsa dan pada negara. Pengabdian juga harus diiringi rasa tulus dan ikhlas demi kemajuan bangsa dan negara. Tak sedikit peneliti Indonesia yang memilih melakukan penelitian ke luar negeri karena fasilitas dan pendanaan yang melimpah di sana. bahkan kesejahteraan hidup keluarga juga terjamin.
Namun tak begitu dengan seorang Dr. Tulus Ikhsan Nasution, S.Si, M.Sc, ya sesuai namanya ia tulus dan ikhlas untuk mengabdi pada bangsa dan negara Indonesia demi memajukan anak bangsa.
Dia melihat sendiri banyak peneliti dari BPPT dan LIPI yang pergi keluar untuk mendapatkan kenyamanan dalam meneliti dan kesejahteraan hidup yang lebih terjamin di sana. Melihat hal ini Tulus tak menyalahkan mereka, menurut bapak dari tiga anak ini hal itu wajar karena mereka punya ide, motivasi dan melihat ada kesempatan bagus untuk menyalurkan ide dan motivasi mereka di luar sana. Ia menambahkan hal ini yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah dan menjadi cambuk tersendiri hal apa yang mendasari mereka seperti itu. “Mereka kan juga punya keluarga yang harus dicukupi kebutuhannya,” terangnya.

Berbeda dengan mereka, ia lebih memilih kembali ke Indonesia karena menurutnya tiap orang memiliki pemilkiran yang berbeda. Ia telah merasakan sendiri diluar negeri banyak pun ide yang ia punya namun ia tak pernah merasakan kepuasan bathin. Dengan penuh kerendahan hati ia lebih memilih memajukan bangsa sendiri ketimbang memajukan bangsa lain, rupanya nasionalisme yang ia punya lebih tinggi.
Kenapa bukan bangsa sendiri yang saya majukan? Pertanyaan itu terus muncul, ia selalu memendam keinginan untuk memajukan bangsa sendiri. Sayangnya ia belum dapat kesempatan untuk mengabdi di Indonesia karena waktu itu ia sudah menjadi dosen tetap di salah satu universitas di Malaysia.
Seakan tuhan mendengar keinginnanya pada tahun 2008 Dekan FMipa USU waktu itu menelponnya menyatakan bahwa USU sedang membuka lowongan penerimaan dosen. “Ini ada penerimaan dosen pulanglah kau ya,” ucapnya menirukan perkataan Dekan FMipa waktu itu. tawaran itu pun langsung diamininya.
“Makanya saya bilang saya enggak wajar, orang keluar saya malah balik ke Indonesia,” katanya sembari tertawa.
Dari segi materi waktu itu ia sudah sangat mapan, jika dibandingkan dengan gaji mengajar di Indonesia, itu hanyalah sepersepuluh lebih sedikit dibandingkan gajinya di Malaysia. Namun hal itu tak dihiraukannya ia lebih mementingkan untuk mengabdi di negara sendiri ketimbang memajukan negara lain. Istrinya waktu itu juga mendukung keputusannya kala itu. “Kebahagiaan itu kan tak hanya dihitung dari segi materi saja,” ungkapnya.
Selain itu salah satu alasan yang membawa ia untuk kembali adalah rasa optimisnya pada kemampuan mahasiswa dan peneliti Indonesia untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Dia sudah menyadari bahwa ia akan mengalami kesulitan dan cemoohan dari orang lain namun ia terus maju untuk menghasilkan. “Apapun kondisinya saya yakin dan tetap optimis Indonesia bisa maju,” ungkapnya.
Pria yang baru berumur 41 tahun ini acap kali mengajak mahasiswanya untuk ikut penelitian karena ia merasa itu adalah bagian dari kewajibannya. Ia juga merasa bahwa jika mahasiswanya hanya belajar teori saja mereka tak akan menang melawan kompetisi yang semakin ketat. Mereka harus bisa menguasai teknologi untuk kemudian bisa menguasai industri, menurutnya mereka harus dibimbing, di arahkan dan dikuatkan serta pola pikirnya harus terus diasah.
Ia menekankan pada mahasiswanya bahwa Fisika USU bukan mendidik mereka jadi guru, mereka disiapkan untuk menjadi peneliti atau kerja disektor industri maka kalau mereka hanya berkutat di teori saja tanpa mengembangkan sebuah aktivitas ekstra di bidang penelitian dan teknologi tentunya mereka akan kalah dalam persaingan. Mahasiswa akan mendapatkan ilmu lewat pengalaman melakukan riset-riset bukan di kelas yang belajar teori melulu.
Pengalaman lucu terjadi ketika ia meneliti bersama mahasiswanya saat meneliti bahan bakar air. Kala itu suhu panas dari lingkungan memicu salah satu komponen sepeda motor uji cobanya meledak dan membuat motornya melompat dan terbang sampai-sampai membawa sipengendara melompat, padahal pengendaranya memiliki postur tubuh yang gemuk. Kemudian saat salah satu mahasiswanya kehausan, karena saking capeknya ia salah mengambil air minum, bukan air mineral yang diambil malah meminum air yang sudah diolah menjadi zat penghemat bahan bakar. “Untungnya yang minum itu gak sakit, masih sehat sampai sekarang,” kenangnya sembari tertawa.

Tulus adalah orang dibalik ditemukannya alat pendeteksi diabetes lewat napas dan bahan bakar dari air. Alat-alat tersebut ia temukan bersama tim penelitinya yang adalah mahasiswanya sendiri. Untuk alat pendeteksi diabetes saat ini sudah masuk tahap ujicoba, ia dan timnya tiga minggu yang lalu sudah menguji coba alat tersebut di dua puskesmas yaitu Puskesmas Glugur dan Puskesmas Tuntungan.
Hasilnya sudah bisa menunjukkan seseorang terkena diabetes atau tidak hanya melalui tiupan napas. Ia mengajak FK USU dan Fasilkomti USU untuk membantu membaca hasil pindaian dan membantu pengembangan software. Hingga sekarang sistemnya sudah terintegrasi ke perangkat mobile, “Jadi penderita tinggal meniupkan napas ke alat khusus dan data akan bisa ditampilkan pada smartphone,” jelasnya.
Ia bercita-cita nanti seseorang akan bisa mengetahui dia menderita diabetes atau tidak melalui ujicoba hanya dengan smartphone-nya jadi tak sembarangan lagi untuk pergi medical check up yang butuh proses dan waktu yang lama.
Kemudian penelitian bahan bakar air sudah memasuki tahap pendaftaran untuk mendapatkan hak paten yang bekerja sama dengan pertamina. Ia bercerita banyak yang silap dengan penemuan itu. Sebenarnya tim peneliti Fisika USU menggunakan alat pengoptimal arus temuan mereka yang berfungsi memecah atom air menjadi gas hidrogen dan oksigen, lalu gas hidrogen ini lah yang nanti bisa membantu untuk proses penghematan bahan bakar dengan bensin. “Jadi kami sebenarnya bukan menciptakan bahan bakar tapi alat pemecah hidrogen yang bisa membantu menghemat bahan bakar,” jelasnya.
Suka duka selama melakukan penelitian pasti ia rasakan. Ia merasa sedih dengan fasilitas yang tak lengkap. Ia mengibaratkan kondisi mereka dengan seseorang yang hendak menuju suatu tempat namun tak punya kendaraan yang bisa membantu lebih cepat untuk sampai ke tujuan sedangkan orang lain punya kendaraan. Dari segi pendanaan pun minim bahkan untuk mengakses informasi dan referensi terbaru dari luar negeri bisa dibilang susah karena perpustakaan yang dipunya belum bisa mengakses sampai ke sana.
Namun dengan berbagai keterbatasan itu ia tetap merasa bangga sebab mereka bisa menghasilkan produk-produk dan inovasi yang luar biasa. Ia merasa siap dan bersedia kapan pun untuk mengharumkan nama USU dan Indonesia, “kalau kami punya kesempatan untuk berkompetisi dan eksibisi di luar negeri kami akan memberikan kemampuan terbaik kami,” akunya.
Buktinya baru-baru ini ia meraih Medali Silver dalam ajang Pencipta 2015 di Malaysia. Ia ikut tim penelitinya di Malaysia untuk memamerkan produk buatannya yaitu alat pendeteksi kualitas susu dalam bentuk serbuk.
Salah seorang mahasiswa Tulus, Almizan Ridho menuturkan bahwa belajar bersama Tulus berbeda, karena tidak hanya teori melulu namun juga mementingkan pada prakteknya, ia mengaku dengan cara itu bisa lebih paham dengan ilmu yang ia pelajari. “Gak hanya teori, ada proyeknya juga yang harus disiapkan tiga minggu, jadi kita bisa lebih paham lewat praktek,” jelasnya.
Ia pun menjelaskan di kelasnya sering diadakan expo atau pameran hasil proyek dari tugas-tugas tersebut, “ada expo kecil-kecilan juga,” tambahnya.
Mahasiswa stambuk 2013 ini menilai dosennya itu adalah pribadi yang tangguh karena mau kembali mengabdi di Indonesia. Menurutnya Tulus memberikan sumbangsih yang nyata bagi USU, hanya dalam dua tahun ia bisa menaikkan kembali nama USU yang sempat tenggelam. Ridho juga bilang Tulus bahkan mau jemput bola untuk membimbing mahasiswanya, “Doktor Tulus sendiri yang bahkan menanyakan langsung pada kami sudah sejauh mana penelitian kami,” ungkapnya.
Tulus mengharapkan agar pemerintah lebih punya perhatian yang besar pada peneliti-peneliti Indonesia. Ia merasakan peneliti di Indonesia sering dihadang oleh masalah administrasi yang berbelit-belit, dananya terlambat cair sedangkan laporan diminta secepatnya. Ia juga berharap agar pemerintah membuat event seperti di Malaysia untuk memamerkan hasil karya yang ditemukan oleh peneliti-peneliti Indonesia agar bisa memacu motivasi dan kemajuan bangsa. “Karena melalui event tersebut para peneliti bisa mengekspresikan ilmunya,” ungkapnya.

Ia berbagi tips untuk menjadi peneliti, secara umum jangan jenuh, rajin mencari isu atau masalah apa yang akan diteliti dengan rajin membaca, berdiskusi, observasi dan terus mencoba. Kalau sudah ada ide untuk mengatasi masalah tersebut barulah dipikirkan metodenya. Menurutnya modal utama menjadi peneliti adalah punya keingintahuan dan motivasi untuk mengetahui apa yang ingin ia ketahui, dan terakhir sifat yang harus dimiliki seorang peneliti adalah sifat pantang menyerah.

*Tulisan ini terbit di Medan Bisnis edisi Minggu 13 Desember 2015

Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Sindiran untuk Sepakbola Indonesia

Perjuangan untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia terus berlanjut. Kali ini seorang sineas tanah air coba menyindir kondisi persepakbolaan Indonesia melalui sebuah film.

Judul film          : Hari Ini Pasti Menang
Sutradara          : Andibachtiar Yusuf
Pemain             : Zendhy Zein, Ibnu Jamil, Ario Prabowo, Ray Sahetapy, Mathias Muchus, Tika Putri
Distributor         : Bogalakon Pictures
Rilis                  : April 2013
Durasi               : 122 Menit

Kemelut dan kisruh persepakbolaan di Indonesia pada 2011 hingga 2013 lalu sepertinya menginspirasi seorang Andibachtiar Yusuf untuk memproduksi sebuah film bertemakan sepakbola. Film yang ia garap ini berkisah tentang dunia persepakbolaan di Indonesia yang telah memasuki era industrialisasi, kondisi dimana sepakbola benar-benar telah menjadi sebuah industri dengan sistem jual beli pemain secara profesional. Dunia sepakbola yang ia ceritakan penuh dengan aksi para mafia sepakbola yang mencoba mengendalikan puluhan pertandingan di Liga Sepakbola Indonesia lalu mengambil keuntungan dengan menjadi Bandar judi bola.

Gabriel Omar Bhaskoro melakukan selebrasi

Berbeda dengan film bertema sejenis semisal Garuda di Dadaku, dan Tendangan dari Langit, film ini bukanlah mengisahkan perjuangan seorang menjadi bintang sepakbola dari tak dikenal hingga dikenal. Film ini lebih menonjolkan realitas yang tak diketahui oleh masyarakat awam mengenai persepakbolaan Indonesia, sama seperti karyanya yang sebelumnya, Romeo & Juliet (2009).

Kita diajak untuk menikmati imajinasi ala Andibachtiar, Tim Nasional (timnas) Indonesia dikisahkan mampu berlaga di Piala Dunia. Seorang Bambang Pamungkas yang diperankan oleh Ibnu Jamil dikisahkan adalah seorang pemain yang telah bermain lebih dari sepuluh tahun di liga eropa. Lupakan kenyataannya mari kita nikmati dunia sepakbola imajinasi Andi Bachtiar!

Di sebuah pertandingan antara Jakarta Metropolitan melawan Bandung, Jakarta Metropolitan mampu memimpin satu gol berkat gol dari Gabriel Omar Bhaskoro (Zendhy Zein), ia lah bintang utama dalam film ini. Namun jalannya pertandingan rupanya telah diatur oleh mafia dan Bandar judi sepakbola. Pertandingan sebenarnya berlangsung seru, hingga akhirnya Gabriel harus menerima kartu merah akibat menanduk salah seorang pemain lawan. 

Gabriel berbuat begitu bukan tanpa alasan, ia terus diprovokasi dan dipancing agar melanggar oleh salah seorang pemain lawan yang telah diminta untuk berbuat demikian, ia juga sudah diminta secara rahasia untuk mengalah pada pertandingan itu. Hal ini dilakukan oleh Bandar judi agar mereka bisa meraup keuntungan yang besar dari pertandingan tersebut.

Dan benar saja, hasil pertandingan sesuai dengan settingan para mafia,  Bandung berhasil memaksakan hasil imbang lewat ‘hadiah’ pinalti yang diberikan wasit di menit-menit akhir pertandingan. Esok malamnya Gabriel dan Pelatih Jakarta Metropolitan, Bramantyo (Ray Sahetapi) bertemu secara rahasia untuk melakukan serah terima uang suap dari mafia. Kejadian ‘hadiah’ pinalti oleh wasit ini benar-benar sering terjadi di liga profesional Indonesia, ini lah sindiran pertama yang Andibachtiar sampaikan.  

Mendengar keterlibatan mafia dan bandar judi dipersepakbolaan Indonesia membuat seorang jurnalis olahraga bernama Andien (Tika Putri) tertarik melakukan investigasi. Hasil investigasi Andien menunjukkan adanya keterlibatan Gabriel. Andien coba bertanya pada Edhie Bhaskoro (Mathias Muchus) ayah Gabriel dan Pelatih Bramantyo mengenai keterlibatan Gabriel. Baik Edhie dan Bramantyo dengan tegas membantah keterlibatan Gabriel dalam mafia bola dan pengaturan pertandingan.

Di tengah penelusuran yang dilakukan Andien, ia mulai mendapat teror dari pihak tak dikenal. Ia diserempet motor diperjalanan pulang hingga ancaman terhadap nyawanya. Ia mulai frustasi dan ketakutan, timbul perdebatan dibatinnya apakah akan melanjutkan investigasinya atau tidak. Sebab usaha untuk melapor ke polisi pun akan sia-sia, ia tahu polisi juga pasti bersekongkol dengan mafia. Andibachtiar kembali menyindir bahwa aparat keamanan pun sudah dikuasai para mafia.

Gabriel Omar coba protes pada wasit


Andien memutuskan tetap melanjutkan investigasinya. Ia menemui Gabriel, dari Gabriel ia temukan jawaban bahwa mafia dan bandar judi memang terlibat dalam pengaturan skor di liga Indonesia, secara tak langsung Gabriel pun mengakui ia juga terlilbat praktik mafia pengaturan skor. Kembali Andibachtiar menyentil dengan tak diizinkannya Andien menuliskan berita yang telah ia dapatkan itu oleh pemimpin redaksinya sendiri. Seakan-akan media juga sudah dikendalikan mafia.

Andibachtiar mengakhiri cerita dengan cerdas dan elegan. Mengetahui anaknya terlibat mafia, Edhie mengalami kecelakaan. Hal ini lah yang menyadarkan Gabriel akan semua kesalahannya. Pada akhir cerita Jakarta Metropolitan melawan Melbourne Rovers dalam Liga Champions Asia. Para mafia sudah memesan agar Gabriel tidak mencetak gol dan biarkan Melbourne Rovers menang. Wasit dan pelatih tim tamu juga sudah di atur. Namun kali ini Gabriel melawan, ia tak mau ikuti para mafia. Gabriel malah mencetak dua gol pada babak pertama dan membawa Jakarta metropolitan unggul dua kosong.

Hal ini memicu amarah para mafia, mereka telah bayar mahal namun sang bintang tak menurut. Puncaknya ketika Jakarta Metropolitan berhasil menambah satu gol lagi di babak kedua. Sang mafia mencak-mencak lantas memerintahkan pelatih Melbourne untuk menghancurkan karir Gabriel, caranya dengan bermain kasar. Gabriel dilanggar berkali-kali hingga alami cedera parah, kakinya patah! Gabriel harus segera dioperasi kalau tidak ia akan lumpuh. Banyak media memberitakan pertandingan yang tidak adil tersebut dan sekelompok masyarakat meminta agar dilakukan investigasi tentang pertandingan tersebut.


Kembali Andibachtiar menyindir lewat klimaks pada cerita ini. Kejadian pemutusan karir seorang bintang karena melawan mafia memang pernah terjadi di Indonesia. Dalam sebuah scene diakhir film, seorang presenter televisi menyerukan sebuah pertanyaan, pertanyaan yang mungkin juga muncul dibenak kita. “Benarkah sepakbola Indonesia dinakhodai oleh mafia?”

Senin, 17 Maret 2014

Tentang Kera, Penangkaran dan Pejuangnya

Atas dasar hati nurani, bermodalkan keikhlasan. Hamidah dan keluarga mau berbagi hidup dengan kera-kera ini, bahkan memperlakukannya selayaknya keluarga.

Penulis: Baina Dwi Bestari dan Gio Ovanny Pratama

Hutan Sibaganding, Parapat bukan tempat menarik di tahun 1980-an. Tidak ada apa-apa. Tapi ada Umar Manik yang hidup di situ. Bersama istrinya Hamidah, ia hidup dengan keadaan ekonomi yang jauh dari kata layak. Umar dan Hamidah memutar otak mencari cara untuk  menyambung hidup. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berkebun di tengah hutan tersebut.

Gapura Pintu Masuk Taman Wisata Kera di Sibaganding, Parapat | Rida Helfrida Pasaribu



Mereka memilih menanam timun, pisang, labu dan daun sup yang dirasa berumur muda dan tidak butuh waktu lama untuk panen. Karena nantinya hasil panen itu akan mereka jual untuk dapat uang.
Setelah merawat dan menunggu dengan sabar, tibalah waktu panen. Panen pertama mereka bisa dikatakan berhasil. Semua tanaman tumbuh dengan subur. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan ke­giatan berkebun itu.
Mereka lagi-lagi menanam tanaman yang sama di kebun mereka. Dan tibalah waktu panen kedua.
Tapi, ternyata mereka tidak semujur sebelumnya. Tanaman mereka kali ini banyak yang rusak. Selidik punya selidik, ternyata kebun mereka ‘dikunjungi’ oleh penghuni asli hutan tersebut yaitu kera-kera hutan Sibagan­ding.
Tidak kehilangan akal, Umar dan Hamidah punya cara sendiri untuk mengatasi kera-kera tersebut. Me­reka mencoba meracuni gerombol­an kera tersebut agar jera dan tidak lagi mengganggu tanaman me­reka. Namun rupanya kera-kera tersebut seakan-akan tahu bahwa itu adalah racun. Racun yang disediakan se­perti makanan di ladang perkebun­an me­reka tak disentuh sedikit pun oleh kera malah tanaman di kebun mereka tetap berkurang.
Namun Umar dan Hamidah belum menyerah. Mereka berniat melakukan hal yang sama keesokan harinya.
Malam harinya ketika Umar sedang di rumah, Ompung Sinaga, leluhur yang dulunya menghuni hutan Sibaganding datang menemuinya. Ompung Sinaga marah padanya. “Ja­ngan kau racuni kera-kera itu, rawatlah mereka, kasih makan, nanti kau bisa dapat nama,” katanya.
Umar tidak mengerti maksudnya. Tapi, sebelum ia sempat bertanya, Ompung Sinaga sudah pergi. Umar mencoba tetap bertanya sampai akhir­nya ia tersentak dan terbangun dari tidurnya.
Ternyata, Ompung Sinaga mene­muinya dalam mimpi.
Umar yang kebingungan langsung menceritakan perihal dalam mimpinya ke Hamidah. Bukan membantu, Hamidah malah ikut bingung. “Apalah artinya dapat nama?” tanya­nya.
Ternyata, mimpi itu tidak datang sekali. Keesokan harinya, Umar bermimpi hal yang sama.
Bermodalkan rasa penasaran, akhirnya mereka bertanya kepada tetua di kampung perihal mimpi itu. Si tetua menjelaskan kalau mereka seperti diberi amanah untuk menjaga dan merawat kera-kera di hutan Sibaganding. Sejak saat itu, Umar dan Hamidah berhenti meracuni kera-kera tersebut dan malah menjaganya.
Mereka memberi makan dan merawat kera-kera tersebut seperti keluarga sendiri.
Tak lama dari itu, Umar dan Hamidah­ memutuskan untuk berhenti berkebun dan memilih untuk menjual kayu bakar. Hasil penjualan kayu bakar tersebut mereka pakai untuk membeli pisang, kacang dan makanan lain untuk diberikan pada kera-kera itu. Gerombolan kera yang datang ketika mereka mulai memberi makan bisa mencapai 30 sampai 50 ekor tiap waktunya.
Tapi, sejak adanya mimpi tersebut memang Umar dan Hamidah merasa bertanggung jawab atas kera-kera itu.

***
Abdurrahman mulai menapaki anak tangga yang semennya sudah hancur, tidak sama di setiap lantainya. Anak tangga itu basah, berlumut. Di kiri kanan jalan terdapat batu-batu besar dan bekas aliran sungai. ­Rahman sedang menuju tempat memanggil dan memberi makan kera yang berada di dalam hutan. Nama tempat itu Wisata Penangkaran Kera, tertulis di gapura setinggi tiga meter sebelum anak tangga pertama bisa dipijak.
Setelah berhasil menapaki anak tangga yang kesekianpuluh, Rahman sampai di tempat yang dituju. Tanah sepetak yang disemen tidak rata, tempat ia berniat mengumpulkan kera-kera.
Rahman kemudian mengambil terompet miliknya dari dalam kandang yang di dalamnya ada tumpuk­an pisang, ubi dan kacang. Terompet yang dibuat dari tanduk kerbau itu kemudian ia tiup kencang. “Tteettt, tettt…… Na e… Na e…” Begitu bunyi terompet yang kemudian disusul oleh suara Rahman memanggil gerombolan kera dalam bahasa Batak yang artinya ‘ayo… ayo…’
abdurrahman meniup terompet yang sering digunakannya untuk memanggil kera | Rida Helfrida Pasaribu

Begitulah cara Rahman memanggil kera-kera dari tempat persembunyiannya. “Saya pelajari dari Bapak,” terangnya.
Menit pertama tidak ada tanda-tanda kedatangan satu pun kera. Rahman pun terus meniup lagi. Kali ini sambil memanggil nama-nama dari beberapa kera.
Berhasil, kera pun mulai berdatangan di menit selanjutnya. Satu, dua, dan kemudian ramai hampir 30 ekor kera datang memenuhi pelataran tadi, tepat di bawah kaki ­Rahman. Ada kera kecil, besar, siamang dan jenis kera lainnya di sana.
Rahman pun mengambil kotak yang berisi pisang dan mengeluarkan beberapa sisirnya. Kemudian, ia membagi-bagi pisang tersebut ke kera-kera.
Tidak ada rasa takut dari diri ­Rahman. Ia sudah terbiasa. Kera-kera itu pun menurut saja. Ketika pisang sudah habis, Rahman menyu­ruh me­reka pulang. Maka puluhan kera itu pun pulang dengan teratur.
Rahman adalah penjaga Wisata Penangkaran Kera yang ada di Parapat, Sumatera Utara ini sekaligus anak dari Hamidah. Untuk alasan tertentu Umar tak lagi bersama mereka. Jadilah se­karang mereka berdua yang mengurus tempat ini.
Mereka bukan orang kaya sekarang. Masih seperti dulu, hidup serba pas-pasan.
Tapi, Hamidah akui ia sudah merasa bertanggung jawab atas kera-kera di hutan Sibaganding ini. Ia khawatir tentang makanan kera kalau mereka berhenti memberi makanan. “Ketika kita memberi makan sedikit saja me­reka turun ke jalan raya berharap dari pengunjung Danau Toba. Dan kalau udah ke jalan, enggak sedikit yang mati tertabrak,” ungkapnya.
Atas dasar nurani itulah Hamidah tetap melanjutkan usahanya sebisa mungkin menjaga kera-kera itu hingga dilanjutkan oleh anaknya.
Tapi, ada yang berbeda dari cara mereka mendapatkan makanan untuk kera.
Ketika zaman Soeharto, banyak turis dan wisatawan yang datang berkunjung ke tempat ini. Dari situlah sumber dana banyak mengalir untuk membiayai makan kera dan kehidupan mereka sehari-hari. “Kalau dihitung waktu itu lima juta enggak kemana lah,” ujarnya.
Tapi sekarang wisatawan sudah mulai sedikit, kata Hamidah. Perhatian dari pemerintah hampir tak ada. Untuk makan kera murni bergantung dari wisatawan yang datang, dari situlah mereka meminta sumbangan seikhlasnya. Mereka juga tak mempunyai pekerjaan lain karena sibuk mengurusi kera-kera tersebut. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka membuka kedai kecil yang menjual makanan dan  minuman ringan di depan gapura tadi. “Kalau kami kerja tak ada yang bisa mengurusi kera ini,” ucap Hamidah sembari memperlihatkan daftar sumbangan pengunjung.
Abdurrahman memberi beberapa biji kacang pada kera | Rida Helfrida Psaribu

Kata Rahman, sempat ada monumen yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun bertulisan Lokasi Penangkaran Satwa Langka di jalan setapak menuju lokasi berkumpulnya gerombolan kera tadi. Namun, sudah tidak terlihat lagi karena ditutupi lumut. Sebenarnya, tak hanya kalimat itu saja yang tertuliskan di situ. Ada beberapa kalimat lagi yang sudah tak bisa dibaca karena tulisannya sudah ditutupi lumut dan nyaris hancur. “Ya beginilah keadaannya sekarang, jalanannya pun sudah tak diperhatikan lagi, kami tak punya dana untuk perbaiki jalan dan batu ini,” kisahnya.
Rahman berharap penangkaran monyet ini ada yang bantu. Baginya, dibantu dengan biaya makan kera saja sudah cukup. “Kalau pun nanti ada yang menyumbang  uang biar kami yang beli makannya. Tapi kalau tidak ada ya awak pun juga susah untuk makan,” katanya sambil tertawa kecil.
Rahman dan Hamidah sering mengajukan permohonan dana ke Pemkab Simalungun. Namun permohonan tersebut tinggal permohonan saja. Tak ada tanggapan dari peme­rintah. Padahal menurut Rahman, tempat ini bisa jadi kebanggaan bagi putra daerah jika merantau ke luar daerah. “Tapi, tidak lagi setelah keadaanya seperti ini. Enggak ada lagi yang bisa dibanggakan,” ujarnya.
Tapi, di tengah kesulitan tersebut mereka tak mau melepas begitu saja kera-kera yang sudah sangat akrab dengan mereka. “Kami melestarikannya karena tak sengaja. Kami ke sini untuk berladang bukan untuk mencari ketenaran dan uang dengan melestarikan kera ini,” kata Hamidah.
Pun begitu dengan Rahman. Sejak lahir ia sudah dibesarkan bersama kera. Baginya kera-kera ini sudah dia anggap seperti keluarga, bahkan lebih dari keluarga sendiri. Ia akan merasa sedih jika melihat keranya mati ditab­rak mobil di tengah jalan.
Ia belajar dari bapaknya, Umar Manik cara berkomunikasi dan berteman dengan kera. Ia tahu, Umar sangat menyayangi kera-kera ini. “Lebih baik aku berpisah dari istri dan anakku dari pada sama keraku,” ucap Rahman menirukan kalimat bapaknya.

Beberapa ekor kera menunggu untuk diberi makan | Rida Helfrida Pasaribu



Butuh Kerjasama dan Perhatian dari Pemerintah
Keberadaan tempat penangkaran kera di Parapat ini membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Hal ini dirasakan oleh salah seorang pedagang di daerah Penatapan, Parapat, Hotmian Manurung. Menurutnya dengan adanya tempat penangkaran kera ini jualannya jadi laku dibeli pe­ngunjung untuk kemudian diberikan pada kera.
Pun begitu dengan Juli Wiyanto, ia memiliki usaha rumah makan di Parapat. Menurutnya tempat pe­nangkaran kera tersebut bisa menjadi penunjang pariwisata di daerah parapat. Walaupun sekarang kera-kera itu berserakan, namun itu sebenarnya terkoordinir. Pe­ran tempat penangkaran kera itu sen­diri ju­ga sangat bermanfaat, bisa me­ngundang turis-turis lokal untuk datang selain Danau Toba yang jadi daya tarik utama.
“Mere­ka enggak ngambil  keun­­tu­ngan, me­reka ­pelihara dan ngasih ma­kan kera, masyarakat sini juga senang ­dengan ada­nya ini. Baguslah me­reka,” tutur Juli.
Menurutnya lagi mereka tidak memungut retribusi. Akan tetapi mereka menjual makanan kera, seperti pisang kepada pe­ngunjung, pengunjung beli dan uang itu mereka putar lagi untuk membeli makanan lagi. “Masyarakat sini juga sebenarnya tak sering membantu mereka tapi biasanya ada juga kok masyarakat yang mau membantu, mudah-mudahan ada,” katanya.
Menurut Hotmian untuk urusan pengelolaan seharusnya ada turut campur dari pemerintah, kalau ha­nya dari masyarakat saja tak cukup,  karena pertumbuhan kera sangat­lah cepat jadi nanti kalau mereka turun bisa mengganggu masyarakat. Hotmian bilang, Hamidah dan keluarga­nya sebenarnya membantu di satu tempat saja, sedangkan kera-kera itu masih banyak di daerah lain seputaran Sibaganding dan daerah Penatapan.
Kata Hotmian, pemkab turut campur hanya setelah tempat penangkaran itu maju, namun setelah itu tak ada ditindaklanjuti. “Pemerintah mau enaknya aja, mau uangnya tanpa ada bantu,” katanya.
Apa yang kurang dari tempat penangkaran ini menurut Hotmian adalah hanya dicara pengelolaannya saja. Ia berharap, hendaknya ada kerjasama antara keluarga Hamidah dengan pemerintah. “Keluarga si Umar dikasih gaji dari pemerintah lalu keluarga si Umar kasih makanlah (kera   -red),” ucap Hotmian dengan logat Bataknya.
Dampak yang dirasakan Hormian sekarang adalah banyak kera yang sudah mulai liar karena kelaparan. “Kalau dulu sewaktu Pak Umar masih mampu enggak seliar ini,” tambah­nya.
Namun begitu Juli mengapresia­si usaha keluarga Hamidah untuk menjaga dan merawat kera-kera ini. “Me­reka tak mengeluh, mampu mandiri. Dengan tak adanya biaya yang turun dari pemerintah mereka berusaha sendiri dengan upaya mereka untuk hidup, dan menghidupi kera-kera itu,” tutupnya.



*Tulisan ini adalah hasil liputan bersama untuk Majalah Mahasiswa SUARA USU edisi ke-4, terbit November 2013 lalu

Selasa, 25 Februari 2014

Keteguhan Hati Sang Pembantai

Judul film: Rurouni Kenshin
Sutradara: Keishi Ohtomo
Pemain: Yu Aomi, Takeru Sato, Emi Takei, Yosuke Eguchi,Teruyuki Kagawa dan Munetaka Aoki
Tahun Rilis: 2012
Durasi: 134 Menit
“Saat seseorang membunuh, kebencian dilahirkan. Biarkan orang saling membunuh sampai semua terputus, itulah kegunaan pedangku.” – Kenshin Himura.
Sebelum era Restorasi Meiji Jepangada seorang samurai dijuluki Hitokiri Battousai (Battousai Sang Pembantai). Ia terkenal dengan kemampuan menggunakan samurai yang bisa membunuh orang dalam sekejap. Juga sikapnya yang dingin dan memiliki aura pembunuh membuatnya ditakuti semua orang kala itu.
Himura Kenshin

Suatu kali terjadi perang yang melibatkan para samurai, tak terkecuali Hitokiri Battousai. Perang tersebut bertujuan membantai para samurai menjelang dimulainya Restorasi Meijiera baru dalam revolusi Jepang.Hotokiri Battousai menjadi incaran utama perang itu. Dengan keahliannya, ia mampu bertahan saat samurai yang lain habis dibantai. Perang berakhirHitokiri Battousai yang memilih mengalah dengan menancapkan pedangnya di tanah.
Hitoikiri Battousai, yang bernama asli Kenshin Himura (Takeru Sato),kemudian memilih mengembara menebus kesalahannya dahulu dengan membantu orang lain. Ia bertekad tak akan membantai orang lagi. Untuk itu, sekarang ia menggunakan pedang dengan mata tumpul. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan Kaoru Kamiya (Emi Takei),Sanosuke Sagara (Munetaka Aoki), dan Megumi Tanaka (Yu Aomi). Merekalah teman yang menemaninya sehari-hari. Mereka juga yang menguatkan pendiriannya agar tak membunuh orang lagi.
Bagi pencinta kartun Jepang, dikenal dengan anime, tentu tak asing dengan sinopsis di atas. Ya, inilah sebuah film versi live action yang diadopsi dari serial anime karangan Nobuhiro Watsuki dengan judul yang sama, Rurouni Kenshin atau lebih dikenal Samurai X.
Dengan pengambilan gambar yang dinamis dan gerakan pedang yang lincah, membuat film ini tak jauh beda dengan versi komiknya.
Walau demikian ada ketakutan anime yang diangkat versi live action-nya, akan membuat penggemar kecewa akibat ketidakcocokan tokoh utama baik dari akting ataupun penampilannya. Namun Takeru Sato mampu menjawab semua itu, pun begitu dengan pemeran tokoh lainnya seperti Emi Takei dan Yu Aomi. Buktinya Takeru Sato terlihat mampu memerankan sosok Kenshin Himura yang lugu, bodoh, santai namun berubah serius jika sedang bertarung. Keseluruhan, penampilan yang memukau dari semua pemerannya bisa menghidupkan karakter tokoh sesuai gambaran para penggemar.
Tak ada perbedaan cerita yang terlalu mencolok antara film dan anime-nya. Penonton yang sudah mengikuti anime-nya sejak awal ataupun penonton yang hanya menonton filmnya saja, mampu menangkap makna dan jalan cerita dari film ini. Tokoh-tokoh yang dihadirkan juga dibuat semirip mungkin dengan versi anime-nya. Namun musuh yang muncul memang tak semua dapat ditampilkan karena keterbatasan durasi.
Pertempuran 
Alur cerita pun mulai memanas ketika Kaoru diculik Saito Hajime (Yosuke Eguchi), musuh Kenshin. Motif penculikannya aalahmembangkitkan kembali jiwa Hitokiri Battousai yang telah dipendam Kenshin. Dengan menculik Kaoru dan mengancam untuk membunuhnya,Saito berharap Kenshin membunuhnya.
Sumpah Kenshin untuk tak membunuh benar-benar diuji Saito. Disebuah hutan, Kenshin dan Saito berduel. Di sini penonton bisa saksikan serunya duel dua ahli samurai. Aksi dan keahlian pedang kedua tokoh ini cukup mumpuni sehingga membuat takjub.
Di awal hingga tengah pertarungan mereka cukup imbang sehingga Kenshin masih memegang teguh sumpahnya. Namun memasuki akhir pertarungan, Saito mengeluarkan jurus yang membuat Kaoru kesusahan bernafas. Saito memberitahukan jurus itu akan lepas bila ia dibunuh. Tentu pilihan yang sulit bagi Kenshin. Ia harus menolong Kaoru tetapi ia harus membunuh untuk menyelamatkannya.
Akhirnya ia memilih membunuh Saito. Ia putuskan jadi Hitokiri lagi demi melindungi Kaoru. Namun di saat Kenshin tinggal menebaskan pedangnya pada Saito, Kaoru kembali mengingatkan Kenshin untuk tidak membunuh. Di tengah nafasnya yang hampir habis, ia mengucapkan kata-kata yang kembali mengingatkan tujuan hidup Kenshin di era baru. Kenshin bimbang.
Tiba-tiba Saito bergerak namun bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghunuskan pedangnya sendiri ke tubuhnya. Sehingga Kenshin tak jadi melanggar sumpahnya dan Kaoru bisa diselamatkan. Diambang kematiannya, Saito mempertanyakan keteguhan Kenshin, menurutnya pembantai tetaplah pembantai. Namun akhirnya Kenshin menegaskan tetap pada pendiriannya, untuk tidak membunuh.
Rurouni Kenshin
Klimaks cerita cukup terasa. Walau demikian, agak terasa kurang dari cara semua tokoh mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Misalnya saat Kenshin mengeluarkan jurus pamungkasnya, Battou Jutsu, tak ada kesan keren ketika jurus ini dikeluarkan. Pun begitu dengan jurus Saito yang membuat Kaoru tak bisa bernapas.
Terlepas dari itu, secara keseluruhan cerita film ini sangat enak untuk diikuti. Tak kaku dan mengalir dinamis. Karakter Kenshin yang lucu dan sedikit bodoh bisa menghidupkan suasana. Begitu juga dengan Sanosuke yang kadang becanda saat pertarungannya.


Tulisan ini terbit juga di suarausu.co rubrik resensi
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com