Tampilkan postingan dengan label catatan kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Mau Ngapain ke Lembah Harau?

Hal yang membuat kita kesulitan belajar bahasa Inggris adalah kita tidak pernah membiasakan untuk mendengar dan mengucapkan kosa kata dalam bahasa Inggris sebagaimana kita terbiasa mendengar dan mengucapkan kosa kata dalam bahasa Indonesia.

Minggu enam Agustus lalu saya sudah siapkan semua kebutuhan yang dikira perlu selama tinggal di Harau. Pukul enam sore saya sudah sampai di sebuah sekolah. Terpampang dengan jelas tulisan Harau Valley English School.  Ya, itulah nama sekolah yang saya tuju. Saya juga menemukan tulisan Cafetaria dan langsung berbisik, “Oh ini toh kantinnya.”

Peserta Harau Valley English School Batch IV dan 'Kepsek-nya'

Sekolah yang saya tuju ini adalah sebuah sekolah bimbingan bahasa Inggris intensif di Sarilamak, Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Saya mendapatkan informasi tentang sekolah ini dari sebuah broadcast whatsapp di salah satu grup alumni sekolah.   
Pesan itu mempromosikan tentang sebuah sekolah kursus Bahasa Inggris yang berlokasi di Lembah Harau. Lembah Harau adalah salah satu objek wisata terkenal dan menjadi andalan di Provinsi ini. Saya baca pesan tersebut dengan serius dan terbersit keinginan untuk mengikuti program ini. Memang, saya punya rencana untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Namun belum terealisasi karena sumber daya yang belum memadai.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa di sekolah itu pesertanya akan belajar bahasa Inggris secara intensif mulai dari dasar. Semua materi meliputi Grammar, Listening dan Speaking akan diajarkan menggunakan metode yang berbeda dari yang pernah dipelajari selama ini. Program belajarnya akan berlangsung selama sebulan penuh dan sekolah tersebut menyediakan fasilitas asrama dan kantin untuk pesertanya. Harga yang ditawarkan pun dapat ditanggulangi penuh dengan sumber daya terbatas yang dimiliki oleh seorang jobseeker seperti saya.
“Kuota untuk bulan ini tinggal tiga aja ya, kak,” bunyi kalimat terakhir pada pesan itu semakin memantapkan langkah saya untuk mengikuti program ini. Setelah ‘merusuhi’ website dan akun instagram-nya serta merasa yakin sudah mendapatkan informasi lengkap saya pun mengisi formulir pendaftaran.
Lagi belajar nih.....

Saya perhatikan bangunan besar bertingkat satu itu memiliki luas lebih dari setengah lapangan bola. Bangunannya dicat oranye dan punya halaman yang luas. Banyak jendela menghiasi dindingnya. Setelah memarkirkan motor, saya langsung memasuki bangunan tersebut.
Saya disambut seorang pemuda tinggi tegap dan murah senyum. Tatapan ramahnya seolah berkata, ”Ada yang bisa dibantu?”
“Permisi, saya mau check-in, bang,” kataku.
Dia langsung mengarahkan saya ke meja dan kursi yang sudah disediakan sembari memperkenalkan dirinya, “Ya, silakan, saya Andri,”
“Saya Gio,” balasku.
“Selamat datang, Gio. Sebentar saya cek dulu berkas pendaftarannya ya,” sambungnya.
Setelah sedikit perkenalan dan basa basi, kami pun menyelesaikan berkas pendaftaran dan membayar tunai sisa biaya sekolah. Andri kemudian menjelaskan sedikit mengenai Harau Valley English School  dan memperkenalkan ruangan-ruangan yang akan dipergunakan selama proses belajar.
Ia jelaskan mana ruang kelas, ruang serbaguna, dan toilet, “Nah yang itu adalah perpustakaan mini bukunya masih sedikit sih,” katanya sambil menunjuk ke arah belakang saya.
Terakhir, Andri membawa saya ke asrama cowok yang masih berada dalam satu bangunan tersebut. “Silakan beristirahat,” ucap Andri.
Saya pun langsung memilih tempat favorit untuk tidur walaupun secara random. Asramanya berada dalam satu ruangan yang cukup besar. Kapasitasnya lebih kurang sepuluh orang, asrama juga dilengkapi dengan locker room sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang pribadi. Beda lagi dengan asrama cewek, mereka ada beberapa kamar yang masing-masingnya bisa diisi dua hingga empat orang. Masing-masing asrama dilengkapi dengan dua kamar mandi.
Jangan lupa sholat berjamaah.

Seusai sholat Maghrib, perut pun menyampaikan keluh kesahnya dan mulai berisik. Seketika saya paham, perut sedang memberi kode bahwa dia butuh nutrisi. Saya langsung menuju kantin supaya perut tidak lagi berontak.
Esok pagi usai sarapan, lonceng berbunyi. Kami semua berkumpul di ruang kelas. Pertemuan pertama Andri memperkenalkan dirinya. Dari perkenalan tersebut diketahui bahwa Andri adalah lulusan UIN Jakarta jurusan Hubungan Internasioanal dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di Utrecht University jurusan Sustainable Development lewat program beasiswa LPDP dari Kemenkeu. Ia mengakui bahwa ia tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris, namun begitu ia punya banyak pengalaman di bidang kesusasteraan Inggris. Ia pernah bekerja di Wall Street English (sebuah lembaga Kursus bahasa Inggris terbesar di dunia) dan tentu saja pengalaman hidupnya di Eropa selama perkuliahan.
Ketika ia kembali ke Indonesia dalam rangka penelitian untuk tesisnya ia merasakan perbedaan antara anak-anak Indonesia dengan anak-anak dari banyak negara maju yang telah dia kunjungi. ia prihatin banyaknya anak Indonesia yang putus sekolah serta  ketidaksetaraan pendidikan dan kesempatan yang dialami anak-anak Indonesia. Berbekal hal tersebut ia merasa terpanggil dan termotivasi untuk ikut serta mendidik anak-anak Indonesia menjadi pribadi yang bermanfaat. Di sisi lain ia juga memiliki semangat yang tinggi dalam mengajar.
Wajib hukumnya refreshing di akhir pekan

Ia pun menjelaskan bahwa sekolahnya telah berdiri pada akhir April dan sudah meluluskan tiga batch siswa hingga Juli 2018.  "Rata rata tiap batch  berisi dua puluh hingga dua puluh lima peserta, dan kalian adalah batch ke IV," terangnya kepada kami.
Begitulah sesi awal berlangsung, sangat santai. Terkadang Andri menyisipkan beberapa lelucon yang diucapkannya dalam berbagai logat bahasa seperti logat India, Melayu, dan tentunya logat bahasa daerahnya; Silomak.  Terbukti cara ini sangat ampuh untuk mencairkan kebekuan diantara peserta lain. Cara ini yang juga sering ia gunakan kala mengajar.
Andri juga memperkenalkan personel-personel yang membantunya dalam mengembangkan sekolah ini. Yaitu teman-teman karibnya ketika di Eropa yang menjadi konsultan. Ia juga perkenalkan Rama, Ganda dan Nirwan dan Eji,  yang ikut membantunya dalam program pengajaran sehari-hari. Rama dan Ganda adalah alumni batch I dan batch III.
Tibalah saat perkenalan bagi masing-masing peserta. Kami diminta untuk memperkenalkan nama, asal dan sesuatu yang unik dari diri masing-masing. Dari sini terkuaklah bermacam keunikan peserta, mulai dari yang mainstream seperti bernyanyi, dan olahraga, hingga aneh seperti banyak makan tapi tak kunjung gemuk dan sedikit makan tapi tak kunjung kurus. Ada juga yang kemana-mana suka memakai jumper, ada yang suka bernyanyi dengan suara random ditengah malam, ada yang suka musik hip hop bahkan ada yang hobi merakit robot.
Kami berjumlah 19 peserta. Latar belakang peserta beragam, mulai dari yang baru lulus SMA, yang masih kuliah, yang baru saja lulus kuliah, hingga jobseeker seperti saya, hahaha….
Ada yang berkuliah di Padang, Pekanbaru, dan ada juga yang berkuliah di Bekasi. Mayoritas berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat seperti Padang, Padang panjang, Agam, dan Payakumbuh. Ada juga dari Pekanbaru dan Batam.
Setelah sesi perkenalan usai, tibalah saatnya untuk belajar. Andri menjelaskan bahwa di hari pertama kami belum masuk kepada materi pelajaran. Hari pertama merupakan pretest berupa pengerjaan soal TOEFL yang akan menjadi dasar bagi Andri untuk menilai sejauh mana kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki peserta. Menurutnya hal ini penting dilakukan agar ia bisa mengetahui dan merumuskan strategi pembelajaran yang pas.
Dari hasil pretest TOEFL itu juga Andri membagi kami dalam empat kelompok belajar. Saya tergabung dalam Kelompok Cambridge bersama Sandi, Indy, Helen dan Diana. Adapun kelompok lain adalah Harvard yang terdiri dari Alfi, Aidil, Ade, Imel dan Wulan. Kemudian Jeri, Wildan, Kiki, Ayu dan Dian tergabung dalam Kelompok Oxford. Terakhir ada Adil, Farans, Rezy dan Lathifah dalam kelompok Columbia.
Cambridge's Squad

Kemudian setelah itu barulah masuk kepada materi inti berupa Grammar dan Structure Class, Listening Class dan Speaking Class, setiap pagi akan ada Memorizing Class dan malamnya ada Informal Section. Kelas akan berlangsung mulai hari Senin hingga Jumat selama sebulan penuh. 
Grammar dan  Structure Class berupa kelas pada umumnya, ada diskusi, ceramah dan penyampaian materi. Bedanya dengan kelas pada umumnya, Andri akan memancing terlebih dahulu apa yang peserta ketahui tentang materi yang akan dipelajari, setelah itu barulah ia sampaikan inti dari pelajaran tersebut menggunakan metode dan cara unik tersendiri yang ia temukan. Metode dan cara yang ia temukan itu sangat-sangat membantu bagi saya yang selama ini kesusahan dalam mempelajari struktur bahasa Inggris, terutama penggunaan tenses. Saya tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata bagaimana akhirnya saya dapat memahami dengan cepat dan mudah tentang penggunaan tenses tersebut.
Pada Listening Class peserta akan diperdengarkan sebuah teks dalam bahasa inggris, peserta diminta untuk menulis apa yang didengarnya untuk kemudian dikoreksi berapa banyak kesalahannya. Setelah ditulis peserta kemudian diminta untuk mengucapkan kembali apa yang ditulis sambil merekamnya untuk besoknya di-review. Saya akui cara ini sangat ampuh untuk meningkatkan skill listening bahasa inggris. Logikanya, kenapa kita selalu kesulitan mempelajari bahasa inggris? Hal itu karena kita tidak membiasakan sejak kecil untuk mendengar dan mengucapkan kosa kata dalam bahasa Inggris sebagaimana kita terbiasa mendengar dan mengucapkan kosa kata dalam bahasa Indonesia.
Terciduk...! Lagi serius rekaman.
Kemudian dalam Speaking Class  kita akan ‘dipaksa’ untuk berbicara dalam bahasa Inggris lewat berbagai simulasi game, role play dan debat dalam bahasa Inggris. Game yang sering dimainkan adalah menjelaskan definisi sebuah kata dalam bahasa Inggris untuk kemudian ditebak oleh peserta lain. Cara ini juga terbukti ampuh untuk memaksa dan memancing kemampuan bahasa Inggris kita untuk keluar, tidak peduli apakah secara grammar betul atau tidak yang penting Everybody can speak English.
Memorizing Class  adalah kelas yang dilaksanakan di pagi hari untuk menghapal dan mengetahui berbagai ungkapan atau  expression  yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Terkadang juga diselingi dengan diskusi ringan, tentunya dalam bahasa Inggris. Sedangkan Informal Section kelas yang dilaksanakan sehabis Isya hingga pukul sepuluh malam dimana setiap peserta bebas mau beraktivitas apa saja asalkan dilakukan secara bersama sama di ruangan kelas, tentunya yang berhubungan dengan bahasa inggris.
Hal yang paling berkesan bagi saya adalah Andri selalu punya cara tersendiri untuk memotivasi kami. Ketika kami selalu salah dalam menjawab soal TOEFL sehingga merasa frustasi ia menceritakan perjuangan bagaimana ia dulunya belajar bahasa Inggris, ia lantas memutar sebuah lagu yang ia sebut dengan Lagu wajib Harau Valley English School, yaitu The Climb dari Milley Cyrus. Memang lirik lagunya berisi tentang proses perjuangan yang sangat berat.
Sedangkan hal yang spesial menurut saya di Harau Valley English School adalah ketika kami memiliki kesempatan untuk mempraktekan langsung kemampuan bahasa inggris kami dengan turis yang sengaja mendatangi sekolah karena kekepoan mereka sendiri. Ini adalah momen langka yang harus dimanfaatkan, walaupun begitu tetap saja ada beberapa peserta yang masih malu untuk berbincang dengan native speaker tersebut. 
Foto bareng Andi, seorang turis dari Inggris. Foto ini diambil setelah kami 'menginterogasi' beliau dengan pertanyaan-pertanyaan mainstream.

Di luar jam pelajaran suasana kekeluargaan tercipta antara sesama peserta, Andri dan semua personel yang mengurus Harau Valley English School. Sebab Andri berulang kali menegaskan bahwa ia tidak mau dipanggil dengan sebutan Pak, atau Guru. Menurutnya jika ia dipanggil seperti itu maka akan tercipta suatu sekat atau batasan yang membuat peserta merasa segan dan takut berbaur dengannya. Padahal berdasarkan pengalaman ia kuliah di luar negeri kunci dari ilmu itu bisa mengalir adalah adanya keleluasaan siswa dalam mengutarakan pendapat dan mengkritik gagasan yang disampaikan gurunya tanpa rasa takut dan canggung. Hal ini juga yang menurutnya perlu diubah pada sistem pendidikan di Indonesia.
Dan output yang kami dapat adalah meningkatnya kemampuan bahasa Inggris seluruh peserta. Hal ini terbukti dari meningkatnya skor TOEFL semua peserta jika dibandingkan skor ketika pertama kali pretest dan skor ketika test terakhir. Kenaikan skornya sangat signifikan mulai dari dua puluh hingga seratus. Jika dirasa waktu sebulan tidak cukup kamu bisa menambah masa belajar selama sebulan lagi atau dua bulan lagi. 
Bukan hanya kemampuan berbahasa Inggris saja yang meningkat, saya juga mendapatkan pencerahan baru tentang bagaimana dunia ini bekerja,  pola pandang dan kehidupan masyarakat Eropa saat Memorizing Class lewat berbagai diskusi yang kami lakukan. Kemudian yang paling berharga dan sangat tak ternilai adalah mendapatkan relasi dan teman baru.

Tentu saja terkadang muncul rasa jenuh dan stres saat belajar, maka untuk menghilangkannya kami menikmati akhir pekan dengan berwisata ke Lembah Harau dan destinasi wisata lainnya di sekitar Lembah Harau. Pengalaman tersebut akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.

And these are some of many moments that we have together...


Refreshing di Taram

Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia

Bersama Ibu kantin yang selalu siaga jika perut mulai berontak...

cieee lulus ni yeee...

Rebutan kentang bakar di malam perpisahan

Refreshing wajib hukumnya.

Salah satu lomba dalam perayaan Kemerdekaan; nyari koin dalam tepung. Nyari duit gini amat yak...


Ga temakan la itu kerupuk kelen >-<

The gentlements


Can you find something weird on this photo?

Minggu, 15 Mei 2016

Nostalgia Sejenak dengan Senjata Tradisional di PRSU

Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) edisi 2016 kali ini memiliki spot baru yang sayang kali jika dilewatkan. Kali ini ada Pameran Senjata Tradisional Nusantara yang dihelat di Gedung Serbaguna PRSU selama satu minggu pada 18 sampai 24 Maret 2016.


            Memasuki salah satu ruangan di Gedung Serbaguna PRSU terdapat tiga puluh stelling berlapis kaca dan berhias kain songket atau tenunan dari berbagai daerah di Sumatera. Di dalam stelling kaca ini lah ratusan senjata tradisional milik beberapa kolektor dari seluruh Indonesia di pamerkan. Bermacam senjata tradisional ada di sana seperti keris, bedik, pedang, tombak dan loting (pemantik api).
            Bukan hanya itu saja, dinding ruangan yang dilapisi kain berwarna hijau dan kuning ini juga dipajang foto-foto berbagai macam keris, pedang dan beberapa tokoh-tokoh dari beberapa kerajaan yang terkenal di zaman kerajaan Indonesia dahulu.
            Aneka senjata tradisional yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Batak Karo, Pak-pak, Batak Toba, Deli, Riau, Palembang, Jawa, Yogyakarta, Solo, Mataram, Bali, Sumba, Kalimantan dan Bugis. Ada Keris Jawa, Keris Aceh, Bedik Melayu, Tombak Batak, dan Podang Batak Toba.

            Jimmy Azzarian, konsultan pameran bilang ada lebih dari tiga ratus senjata tradisional dari belasan kolektor senjata tradisional, salah satunya Rudi Oei yang sekaligus menjadi penggagas acara pameran senjata tradisional nusantara ini. “Ada juga senjata tradisional milik Raja Bali yang dipamerkan,” tambahnya.
            Jimmy juga bilang tujuan utama dilselenggarakannya pameran ini adalah untuk mengenalkan kembali pada masyarakat Indonesia khususnya Sumatera bahwa ternyata daerah-daerah di Sumatera punya beragam jenis senjata tradisional yang harus dilestarikan. Bahkan Jimmy menyatakan bahwa jenis senjata tradisional yang dimiliki oleh daerah-daerah di Sumatera jauh lebih beragam dibanding jenis senjata tradisional di daerah-daerah Jawa.
“Sayangnya sekarang  senjata-senjata tradisional miliki Indonesia sudah banyak yang berpindah tangan ke orang-orang kerajaan di Malaysia setelah mereka beli,” ungkap Jimmy.
            Pria asli Jawa ini menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sekarang sudah banyak yang melupakan dan kurang mengapresiasi kebudayaan milik sendiri salah satunya senjata-senjata tradisional. Bahkan menurutnya orang luar Indonesia seperti Malaysia dan Eropa jauh lebih mengapresiasi peninggalan bersejarah tersebut.

            Di dalam ruangan yang hampir seluas setengah lapangan bola tersebut bisa dijelajahi seluruh kekayaan budaya Indonesia. Bahkan dengan melihat kumpulan senjata-senjata tradisional yang dipamerkan serasa membawa kembali memori kejayaan masa-masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia beberapa abad silam. Puluhan pengunjung yang penasaran terus berdatangan untuk melihat secara langsung senjata tradisional yang dipamerkan.


            Ada juga beberapa keris yang dijual oleh si pemilik keris. Salah satunya Ma’run Singa. Pria asli Jawa Timur ini datang ke Medan untuk ikut memamerkan dan menjual koleksi keris dan senjata tradisional lain yang ia miliki. Kisaran harga yang ia tawarkan untuk keris paling murah adalah Rp 2 juta dan paling mahal Rp 10 juta tergantung kualitas keris dan lamanya usia keris tersebut. Ma’run bilang keris yang ia miliki adalah asli warisan turun-temurun dari keluarganya. “Walaupun warisan, sekarang sudah enggak masalah kok kerisnya dijual,” ungkapnya.

*Terbit di Medan Bisnis edisi minggu

Kamis, 17 Maret 2016

Gita Adinda Nasution, Sang Penemu Kolagit, Herbal dan Kepedulian pada Masyarakat

“Saya selalu merasa sedih dan bersalah ketika pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan atau pun keperluan lain. Saya sedih, karena untuk sementara waktu saya tidak bisa bertemu dengan pasien yang ingin berkonsultasi dan berobat. Untungnya saya punya tim yang ikut membantu saya untuk mengobati pasien,” –Gita Adinda Nasution-
Saat itu Gita sedang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dokter menyatakan bahwa ayahnya menderita diabetes. Ia merasa sedih melihat keadaan ayahnya saat itu. Bisa dibilang kesehatan ayahnya menurun drastis, untuk berjalan ayahnya harus dibantu dan berpegangan pada dinding, bahkan penglihatan ayahnya pun mulai kabur.
Sejak itu timbul keinginan di hatinya untuk mengembalikan kesehatan ayahnya. Ia mulai bereksperimen dengan obat-obatan herbal. Ia baca semua buku-buku tentang kesehatan dan obat-obatan herbal di perpustakaan sekolahnya. Ia pun mulai coba berbagai macam bahan-bahan alami untuk dijadikan obat seperti buah Mengkudu. Namun di saat ia duduk di bangku kelas tiga SMP barulah eksperimennya mulai menunjukkan hasil.

Saat itu ia mendapatkan ide dari penyembuhan penyakit polio yang bisa disembuhkan dengan vaksin polio. Ia lantas berpikir mungkin saja penyakit diabetes bisa disembuhkan dengan vaksin yang terbuat dari gula. Maka saat itu ia mulai fokus mencoba meramu berbagai bahan yang mengandung glukosa atau gula. Hingga suatu saat ia meracik obat dari tebu. Ramuan ini lah yang kemudian dinamai dengan Kopi Gula Gita atau Kolagit.
Setelah ia coba pada diri sendiri, obat itu ia minumkan pada ayahnya. Usahanya membuahkan hasil, kesehatan ayahnya sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan yang positif. Ayahnya mulai bisa berjalan normal dan tidak memiliki pantangan untuk makan apapun lagi. Puncaknya pada tahun 2012 ayahnya dinyatakan bebas dari penyakit diabetes, gula darah ayahnya mulai normal.
Di tahun yang sama anak ketiga dari empat bersaudara ini diterima sebagai mahasiswi di jurusan Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi USU. Setahun sebelum itu Kolagit hasil temuannya mulai di analisis dan diuji di laboratorium Fakultas Farmasi. Hasil uji kala itu sangat menggembirakan, Kolagit terbukti bisa menyembuhkan penyakit gula darah atau diabetes. Maka sejak saat itu dan sejak kesembuhan ayahnya ia merasa terpanggil untuk mengabdikan ilmu yang ia dapat pada masyarakat luas dengan cara memberikan konsultasi kesehatan dan penjualan kolagit dengan harga yang sangat terjangkau.
Peluang untuk menjual Kolagit terbuka sangat lebar, bahkan ada tawaran untuk berwirausaha dan memasarkan kolagit dalam jumlah besar. Namun tawaran itu tak langsung ia terima, ia lebih memilih mengolah sendiri dan memasarkan kolagit dengan caranya sendiri karena menurutnya kalau nanti kolagitnya mulai laku keras dipasaran maka harga kolagit akan melambung sangat tinggi. Ia takut kalau kolagit tidak bisa dijangkau oleh masyarakat yang berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah. Padahal cita-cita terbesarnya saat itu adalah ingin mengabdikan ilmunya pada masyarakat.
“Kami di sini fokusnya gak ke komersil, di sini kami fokusnya gimana caranya pasien sehat. Kalaupun ia tak konsumsi Kolagit, selama ia mau konsumsi herbal dan semangat berobat maka insya Allah kami akan bantu ia untuk konsultasi kesehatan dan konsumsi obat-obatan herbal lainnya,” terang Gita.
Misi lain yang ingin ia capai adalah ia ingin memperbaiki kembali citra herbal sebagai obata-obatan yang jauh lebih aman. Ia ingin agar masyarakat lebih mengenal herbal sebagai obat-obatan dan jauh lebih aman dibanding obat-obatan kimia. Karena ia bilang beberapa waktu lalu sempat ada oknum nakal yang mencampurkan bahan-bahan kimia sintetis pada obat-obatan herbal sehingga timbul keresahan di masyarakat. “Herbal itu insya Allah aman, herbal lah sebenarnya obat terapi bukan obat alternative,” tegasnya.
“Herbal itu multifungsi bukan hanya sebagai obat ia juga berfungsi sebagai suplemen bagi orang-orang yang sehat,” tambahnya.
 Gadis yang sedang disibukkan dengan tugas akhir ini hingga kini masih terus melayani pasien untuk konsultasi seputar kesehatan dan pengobatan diabetes.  Setiap hari mulai dari pukul delapan pagi hingga lima sore dan delapan malam hingga sepuluh malam ia dibantu timnya siap melayani pasien yang ingin berobat atau sekedar berkonsultasi seputar kesehatan. Hal itu ia lakukan karena ia merasa terpanggil untuk mengabdi kepada masyarakat setelah ia berhasil menemukan kolagit yang kemudian ia gunakan untuk mengobati penyakit ayahnya.
Tim yang membantunya ia bentuk pada 2014 lalu. Ia mengaku menerima siapapun yang mau bekerja untuk menjadi timnya tanpa memandang lulusan darimana ia berasal. Gita membentuk tim kerjanya berdasarkan kebutuhan dan tidak membutuhkan ijazah atau pun sertifikat khusus, karena ia ingin memberi kesempatan pada orang-orang yang benar-benar butuh pekerjaan dan memiliki kemauan keras untuk bekerja. “Kita harus beri peluang dan kesempatan pada mereka, kalau memang punya skill kenapa tidak,” terangnya.
Baginya jika setiap orang terus-terusan kasih kesempatan pada orang-orang yang berijazah dan berpendidikan maka mereka yang kurang beruntung mengenyam pendidikan akan mengalami krisis kepercayaan dan berakibat pada semakin tingginya angka penggangguran dan kriminalitas. “Orang terlalu fokus pada ijazah dan sertifikat padahal setiap orang punya skill dan keahlian khusus masing-masing,” ungkapnya.
Namun untuk profesi apoteker menurutnya harus lah berijazah dan bersertifikat karena untuk apoteker memang butuh orang-orang yang benar-benar ahli supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu ia juga sedang mengurus perizinan dan registrasi kolagit sebagai obat di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Saat ini proses perizinannya sudah masuk tahap pelengkapan berkas-berkas yang diperlukan.
Ia dan timnya juga menerima konsultasi seputar permasalahan kesehatan yang ia terima di rumahnya. Konsultasi yang ia maksud adalah lebih ke pendekatan psikologi, pendekatan secara diskusi dan diagnosa fisik pada pasien. Diagnosa fisik adalah cara untuk mengetahui penyakit seseorang lewat bercerita dan diskusi mengenai keluhan apa yang dirasakan oleh si pasien tersebut. Menurutnya hal ini penting karena yang sakit akan lebih tahu dengan kondisi fisiknya sendiri ketimbang orang lain, dari diskusi dan sharing itu akan muncul kata kunci yang mengarahkan pada apa yang diderita si pasien. “Setahu saya dari dulu sampai sekarang ahli medis selalu mengutamakan komunikasi dan konsultasi,” ungkap Gita.
Sistem seperti itulah yang coba ia dan timnya terapkan untuk mengarahkan dan mengatasi berbagai keluhan yang disampaikan pasien yang datang padanya.
Keluarga dan sahabat menjadi sumber motivasi terbesar bagi dirinya untuk terus berkembang dan mengabdi pada masyarakat. Ia mengaku kenapa ia mau membuka konsultasi kesehatan dan tetap menjaga kolagit agar tetap terjangkau masyarakat adalah untuk orang tuanya dan juga karena kata-kata dari orang tuanya. Orang tuanya selalu mengatakan padanya agar ia menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
“Kalau minta sama Allah jangan minta banyak duit, minta untuk dicukupkan aja. Kita boleh minta kaya tapi kaya akan hati bukan kaya dengan sesuatu hal yang terukur, kekayaan adalah perjuangan hati bukan dalam hal materi yang terukur,” katanya menirukan pesan ibunya.
Hal ini itulah yang selalu memotivasinya untuk selalu menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat, di lain sisi ia juga ingin menunjukkan rasa syukur pada Tuhan karena telah diberikan kesembuhan pada ayahnya.
Sahabat dan teman-teman terdekatnya juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Ia mengaku sahabat dan teman-temannya selalu dengan senang hati membantunya dalam berbagai hal seperti membantu persiapannya dalam menghadiri pameran dan berbagai kegiatan lainnya. Bukan hanya itu, karena kesibukannya menghadiri undangan dari luar kota ia sering tak bisa hadir diproses perkuliahan dan otomatis ia ketinggalan materi perkuliahan, maka untuk mengejar ketertinggalan tersebut ada saja temannya yang memberikan materi kuliah dan membantunya menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang banyak. Ia bersyukur selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Banyak penghargaan yang ia dapatkan dari pemerintah dan organisasi organisasi lainnya. Ia pernah mendapat penghargaan sebagai juara pertama dalam pemuda pelopor berprestasi tingkat nasional pada 2015 lalu oleh Menteri Pemuda dan Olahraga. Lemarinya penuh dengan berbagai piala dan sertifikat penghargaan. Namun penghargaan yang paling berkesan baginya adalah ketika ia mendapatkan kepecayaan dari masyarakat, “Betapa bahagianya ketika kita dipercaya masyarakat untuk mengobati mereka dan nikmatnya sangat berbeda ketimbang mendapatkan penghargaan apapun,” ungkapnya.

Selasa, 05 Januari 2016

Salah Satu Peneliti Indonesia yang ‘Tak Wajar’

 Hakikat penelitian adalah pengabdian. pengabdian pada ilmu yang dipelajari, pengabdian pada masyarakat, pada bangsa dan pada negara. Pengabdian juga harus diiringi rasa tulus dan ikhlas demi kemajuan bangsa dan negara. Tak sedikit peneliti Indonesia yang memilih melakukan penelitian ke luar negeri karena fasilitas dan pendanaan yang melimpah di sana. bahkan kesejahteraan hidup keluarga juga terjamin.
Namun tak begitu dengan seorang Dr. Tulus Ikhsan Nasution, S.Si, M.Sc, ya sesuai namanya ia tulus dan ikhlas untuk mengabdi pada bangsa dan negara Indonesia demi memajukan anak bangsa.
Dia melihat sendiri banyak peneliti dari BPPT dan LIPI yang pergi keluar untuk mendapatkan kenyamanan dalam meneliti dan kesejahteraan hidup yang lebih terjamin di sana. Melihat hal ini Tulus tak menyalahkan mereka, menurut bapak dari tiga anak ini hal itu wajar karena mereka punya ide, motivasi dan melihat ada kesempatan bagus untuk menyalurkan ide dan motivasi mereka di luar sana. Ia menambahkan hal ini yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah dan menjadi cambuk tersendiri hal apa yang mendasari mereka seperti itu. “Mereka kan juga punya keluarga yang harus dicukupi kebutuhannya,” terangnya.

Berbeda dengan mereka, ia lebih memilih kembali ke Indonesia karena menurutnya tiap orang memiliki pemilkiran yang berbeda. Ia telah merasakan sendiri diluar negeri banyak pun ide yang ia punya namun ia tak pernah merasakan kepuasan bathin. Dengan penuh kerendahan hati ia lebih memilih memajukan bangsa sendiri ketimbang memajukan bangsa lain, rupanya nasionalisme yang ia punya lebih tinggi.
Kenapa bukan bangsa sendiri yang saya majukan? Pertanyaan itu terus muncul, ia selalu memendam keinginan untuk memajukan bangsa sendiri. Sayangnya ia belum dapat kesempatan untuk mengabdi di Indonesia karena waktu itu ia sudah menjadi dosen tetap di salah satu universitas di Malaysia.
Seakan tuhan mendengar keinginnanya pada tahun 2008 Dekan FMipa USU waktu itu menelponnya menyatakan bahwa USU sedang membuka lowongan penerimaan dosen. “Ini ada penerimaan dosen pulanglah kau ya,” ucapnya menirukan perkataan Dekan FMipa waktu itu. tawaran itu pun langsung diamininya.
“Makanya saya bilang saya enggak wajar, orang keluar saya malah balik ke Indonesia,” katanya sembari tertawa.
Dari segi materi waktu itu ia sudah sangat mapan, jika dibandingkan dengan gaji mengajar di Indonesia, itu hanyalah sepersepuluh lebih sedikit dibandingkan gajinya di Malaysia. Namun hal itu tak dihiraukannya ia lebih mementingkan untuk mengabdi di negara sendiri ketimbang memajukan negara lain. Istrinya waktu itu juga mendukung keputusannya kala itu. “Kebahagiaan itu kan tak hanya dihitung dari segi materi saja,” ungkapnya.
Selain itu salah satu alasan yang membawa ia untuk kembali adalah rasa optimisnya pada kemampuan mahasiswa dan peneliti Indonesia untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia. Dia sudah menyadari bahwa ia akan mengalami kesulitan dan cemoohan dari orang lain namun ia terus maju untuk menghasilkan. “Apapun kondisinya saya yakin dan tetap optimis Indonesia bisa maju,” ungkapnya.
Pria yang baru berumur 41 tahun ini acap kali mengajak mahasiswanya untuk ikut penelitian karena ia merasa itu adalah bagian dari kewajibannya. Ia juga merasa bahwa jika mahasiswanya hanya belajar teori saja mereka tak akan menang melawan kompetisi yang semakin ketat. Mereka harus bisa menguasai teknologi untuk kemudian bisa menguasai industri, menurutnya mereka harus dibimbing, di arahkan dan dikuatkan serta pola pikirnya harus terus diasah.
Ia menekankan pada mahasiswanya bahwa Fisika USU bukan mendidik mereka jadi guru, mereka disiapkan untuk menjadi peneliti atau kerja disektor industri maka kalau mereka hanya berkutat di teori saja tanpa mengembangkan sebuah aktivitas ekstra di bidang penelitian dan teknologi tentunya mereka akan kalah dalam persaingan. Mahasiswa akan mendapatkan ilmu lewat pengalaman melakukan riset-riset bukan di kelas yang belajar teori melulu.
Pengalaman lucu terjadi ketika ia meneliti bersama mahasiswanya saat meneliti bahan bakar air. Kala itu suhu panas dari lingkungan memicu salah satu komponen sepeda motor uji cobanya meledak dan membuat motornya melompat dan terbang sampai-sampai membawa sipengendara melompat, padahal pengendaranya memiliki postur tubuh yang gemuk. Kemudian saat salah satu mahasiswanya kehausan, karena saking capeknya ia salah mengambil air minum, bukan air mineral yang diambil malah meminum air yang sudah diolah menjadi zat penghemat bahan bakar. “Untungnya yang minum itu gak sakit, masih sehat sampai sekarang,” kenangnya sembari tertawa.

Tulus adalah orang dibalik ditemukannya alat pendeteksi diabetes lewat napas dan bahan bakar dari air. Alat-alat tersebut ia temukan bersama tim penelitinya yang adalah mahasiswanya sendiri. Untuk alat pendeteksi diabetes saat ini sudah masuk tahap ujicoba, ia dan timnya tiga minggu yang lalu sudah menguji coba alat tersebut di dua puskesmas yaitu Puskesmas Glugur dan Puskesmas Tuntungan.
Hasilnya sudah bisa menunjukkan seseorang terkena diabetes atau tidak hanya melalui tiupan napas. Ia mengajak FK USU dan Fasilkomti USU untuk membantu membaca hasil pindaian dan membantu pengembangan software. Hingga sekarang sistemnya sudah terintegrasi ke perangkat mobile, “Jadi penderita tinggal meniupkan napas ke alat khusus dan data akan bisa ditampilkan pada smartphone,” jelasnya.
Ia bercita-cita nanti seseorang akan bisa mengetahui dia menderita diabetes atau tidak melalui ujicoba hanya dengan smartphone-nya jadi tak sembarangan lagi untuk pergi medical check up yang butuh proses dan waktu yang lama.
Kemudian penelitian bahan bakar air sudah memasuki tahap pendaftaran untuk mendapatkan hak paten yang bekerja sama dengan pertamina. Ia bercerita banyak yang silap dengan penemuan itu. Sebenarnya tim peneliti Fisika USU menggunakan alat pengoptimal arus temuan mereka yang berfungsi memecah atom air menjadi gas hidrogen dan oksigen, lalu gas hidrogen ini lah yang nanti bisa membantu untuk proses penghematan bahan bakar dengan bensin. “Jadi kami sebenarnya bukan menciptakan bahan bakar tapi alat pemecah hidrogen yang bisa membantu menghemat bahan bakar,” jelasnya.
Suka duka selama melakukan penelitian pasti ia rasakan. Ia merasa sedih dengan fasilitas yang tak lengkap. Ia mengibaratkan kondisi mereka dengan seseorang yang hendak menuju suatu tempat namun tak punya kendaraan yang bisa membantu lebih cepat untuk sampai ke tujuan sedangkan orang lain punya kendaraan. Dari segi pendanaan pun minim bahkan untuk mengakses informasi dan referensi terbaru dari luar negeri bisa dibilang susah karena perpustakaan yang dipunya belum bisa mengakses sampai ke sana.
Namun dengan berbagai keterbatasan itu ia tetap merasa bangga sebab mereka bisa menghasilkan produk-produk dan inovasi yang luar biasa. Ia merasa siap dan bersedia kapan pun untuk mengharumkan nama USU dan Indonesia, “kalau kami punya kesempatan untuk berkompetisi dan eksibisi di luar negeri kami akan memberikan kemampuan terbaik kami,” akunya.
Buktinya baru-baru ini ia meraih Medali Silver dalam ajang Pencipta 2015 di Malaysia. Ia ikut tim penelitinya di Malaysia untuk memamerkan produk buatannya yaitu alat pendeteksi kualitas susu dalam bentuk serbuk.
Salah seorang mahasiswa Tulus, Almizan Ridho menuturkan bahwa belajar bersama Tulus berbeda, karena tidak hanya teori melulu namun juga mementingkan pada prakteknya, ia mengaku dengan cara itu bisa lebih paham dengan ilmu yang ia pelajari. “Gak hanya teori, ada proyeknya juga yang harus disiapkan tiga minggu, jadi kita bisa lebih paham lewat praktek,” jelasnya.
Ia pun menjelaskan di kelasnya sering diadakan expo atau pameran hasil proyek dari tugas-tugas tersebut, “ada expo kecil-kecilan juga,” tambahnya.
Mahasiswa stambuk 2013 ini menilai dosennya itu adalah pribadi yang tangguh karena mau kembali mengabdi di Indonesia. Menurutnya Tulus memberikan sumbangsih yang nyata bagi USU, hanya dalam dua tahun ia bisa menaikkan kembali nama USU yang sempat tenggelam. Ridho juga bilang Tulus bahkan mau jemput bola untuk membimbing mahasiswanya, “Doktor Tulus sendiri yang bahkan menanyakan langsung pada kami sudah sejauh mana penelitian kami,” ungkapnya.
Tulus mengharapkan agar pemerintah lebih punya perhatian yang besar pada peneliti-peneliti Indonesia. Ia merasakan peneliti di Indonesia sering dihadang oleh masalah administrasi yang berbelit-belit, dananya terlambat cair sedangkan laporan diminta secepatnya. Ia juga berharap agar pemerintah membuat event seperti di Malaysia untuk memamerkan hasil karya yang ditemukan oleh peneliti-peneliti Indonesia agar bisa memacu motivasi dan kemajuan bangsa. “Karena melalui event tersebut para peneliti bisa mengekspresikan ilmunya,” ungkapnya.

Ia berbagi tips untuk menjadi peneliti, secara umum jangan jenuh, rajin mencari isu atau masalah apa yang akan diteliti dengan rajin membaca, berdiskusi, observasi dan terus mencoba. Kalau sudah ada ide untuk mengatasi masalah tersebut barulah dipikirkan metodenya. Menurutnya modal utama menjadi peneliti adalah punya keingintahuan dan motivasi untuk mengetahui apa yang ingin ia ketahui, dan terakhir sifat yang harus dimiliki seorang peneliti adalah sifat pantang menyerah.

*Tulisan ini terbit di Medan Bisnis edisi Minggu 13 Desember 2015

Molen Arab, Upaya Bertahan dikrisis Ekonomi yang Melanda

Berwirausaha tidaklah mudah, banyak cobaan yang akan menghadang dalam meraih kesuksesan. Begitu juga dengan Syaiful Burhan, sejak usahanya dirintis ia sering merekrut dan merumahkan kembali karyawannya karena tak sanggup menutupi biaya produksi.
            Diminggu pertama produksi ia sempat menyerah, padahal saat itu usaha molen arab yang dilakoninya tengah berkembang pesat dan direspons baik  oleh pasar. Ia merasa tak sanggup untuk melanjutkan usaha tersebut di tengah kesibukan kuliahnya. Burhan yang tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU ini memiliki jadwal kuliah yang padat, tiap hari kuliah dari pagi hingga siang kemudian sore hingga malamnya ia harus ikut praktikum di laboratorium.

            Kepadatan jadwal kuliah tersebut memaksanya hanya tidur dua jam perhari. Pulang kuliah ia harus memproduksi molen kembali karena jika ia tak melanjutkan produksi maka uang kontrakan yang ia jadikan modal tak akan kembali. “Nanti saya bakal tinggal dimana?” tanyanya.
Pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah ini coba konsultasi dengan teman sekamarnya yang juga punya usaha. Ia teringat kata-kata temannya yang terus menyemangati Burhan untuk melanjutkan usaha tersebut.
              “Jangan nyerah jadi pengusaha itu memang keras, jalani aja dulu tiga bulan pertama, walaupun berdarah-darah dan harus ngesot jika menghasilkan profit maka lanjutkan aja, gini aja nyerah lemah kali pun,” begitu kata Burhan coba meniru ucapan temannya.
            Berbekal motivasi tersebut ia pun mengajak tiga orang temannya untuk ikut membantunya dalam memproduksi molen, “Awalnya mereka saya gaji Rp 600 ribu, kerja dari jam tiga hingga enam pagi,” kisahnya.
            Selama sebulan pertama ia terus berjualan di kampusnya sendiri, barulah tiga bulan pertama ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi reseller di tiga fakultas di USU.
            Sejak itu ia mulai berpikir bahwa usahanya ini bisa dikembangkan, ia yang pertama kali memulai dengan modal sendiri mulai mencari modal pinjaman dari teman-temannya untuk menyewa sebuah rumah toko. Hal ini dilakukannya dalam rangka meningkatkan jumlah produksi sehingga ia bisa mengembangkan pasar hingga ke seluruh fakultas di USU dan beberapa kampus di Medan.
            Seiring waktu kondisi penjualan molen tak selalu untung, kadang ia pernah rugi karena perubahan pasar yang tak bisa diprediksi. Kejadian seperti penjualan yang anjlok sedangkan kebutuhan tinggi sering kali terjadi, ia pernah merekrut banyak orang namun ternyata penjualan tak signifikan dan tak bisa menghasilkan untung. Bahkan disaat tersebut bisa dibilang minus, padahal ia harus membayar gaji karyawannya, “Pada akhirnya kita kurangi lagi jumlah karyawan,” ungkapnya.

            Pernah ia merekrut hingga lima belas orang karyawan disaat permintaan pasar tinggi namun di akhir bulan malah tak ada untung karena angka penjualan yang tidak mencapai target. Maka dari itu ia belajar untuk tidak segera merekrut banyak orang, di saat krisis seperti ini ia merasa cukup dengan lima orang karyawan yang bekerja padamya. “Karena kondisi saat ini sedang hancur-hancuran,” jelasnya.
            Ia mengaku tren rupiah yang terus turun dan harga bahan bakar yang naik di awal tahun 2015 lalu berdampak besar pada usahanya. Ia mengaku penjualan turun drastis dan omzet yang biasanya bisa hingga ratusan juta turun jadi hanya puluhan juta, “Jujur aja kami sekarang lagi berupaya untuk bertahan,” aku anak pertama dari enam bersaudara ini.
            Waktu itu ia terpaksa mengurangi karyawan besar-besaran, berinovasi dengan mencari distributor barang mentah yang lebih murah untuk menekan biaya produksi. Hingga menurunkan jumlah produksi molen yang dulunya seribu hingga dua ribu perhari jadi hanya enam ratus hingga tujuh ratus perhari. Hal itu terus terjadi hingga sekarang. 
            Namun menurutnya kondisi seperti ini wajar karena menurutnya pemerintah sekarang sedang berfokus pada perbaikan infrastruktur, ia menambahkan jika nanti infrastruktur sudah terselesaikan maka perlahan kekuatan ekonomi akan kembali normal, “Perlahan rupiah kita akan kembali kuat dan daya beli juga akan naik,” terangnya.
            Ia memahami bahwa bukan dia saja pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang mengalami hal serupa, menurutnya semua pelaku  UKM saat ini tengah menerapkan strategi yang sama dengannya yaitu bertahan di tengah krisis ekonomi.


Rencana untuk Membuka Gerai Toko Sendiri dan Tawaran Franchise
Perkembangan usaha Molen Arabnya terus ia upayakan hingga menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Medan.  Keberhasilannya mendapatkan penghargaan Wira Usaha Mandiri dan Teknopreneurcamp pada 2013 dan 2014 lalu berdampak positif pada branding Molen Arab.
Seringkali ia mendapat permintaan dari orang-orang luar kota Medan bahkan luar provinsi yang ingin mencicipi molen buatannya. Burhan bilang ada pelanggan yang datang dari luar Medan mulai membidik Molen Arab sebagai oleh-oleh untuk keluarganya.
Hal itu disadarinya ketika ia sedang browsing internet, ia menemukan sebuah blog yang menceritakan kesulitannya menemukan toko yang menjual Molen Arab, dalam blog itu tertulis si penulis sudah mencoba semua kuliner yang ada di Medan kecuali Molen Arab karena susah ditemukan toko yang menjualnya. “Terpaksa pulang dengan tangan kosong padahal penasaran dengan Molen Arab,” begitu ia kutip dari blog yang ia baca
Tak hanya itu, Burhan dan karyawannya pernah kedatangan orang-orang dari Jakarta, dan daerah lain di Indonesia pada tengah malam. Saat itu ia dan karyawannya tengah beristirahat dan sudah selesai proses produksi, tiba-tiba mereka datang memohon untuk dibuatkan Molen Arab sebagai oleh-oleh nantinya, sebab besoknya mereka sudah akan terbang menuju daerah asal masing-masing. Tak mau mengecewakan pelanggan akhirnya Burhan dan karyawannya dengan senang hati membuatkan.

Salah seorang karyawan Burhan, Tama membenarkan hal tersebut, ia mengaku saat mereka sedang menikmati waktu istirahat di tengah malam sering kali datang orang-orang yang ingin membeli Molen Arab untuk dijadikan oleh-oleh, “Kebanyakan mereka adalah orang-orang luar daerah.” Jelasnya.
Pria yang besar di Jayapura ini juga pernah menerima permintaan tiga ratus molen untuk sebuah acara yang diselenggarakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Jakarta sebagai salah satu cemilan di acara tersebut. Permintaan mendadak tersebut akhirnya ia terima walaupun awalnya ia sempat ragu apakah bisa tercukupi atau tidak. “Untungnya bisa tercukupi permintaan tersebut,” kenangnya.
Melihat perkembangan tersebut ia kemudian berencana untuk membuat gerai toko pusat penjualan Molen Arab agar pelanggaan yang penasaran tidak lagi susah mencari molen buatannya. Sekarang ia sedang memikirkan konsepnya, ia menargetkan di Maret tahun depan sudah mulai bisa terlaksana. “Kita ingin memposisikan diri sebagai salah satu ikon oleh-oleh khas kota Medan.
            Seakan gayung bersambut hingga kini banyak yang tertarik untuk menawarkan sistem franchise untuk penjualan Molen Arab. Terhitung semenjak 2014 sudah ada 63 lebih investor dari Jakarta, Kalimantan dan kota-kota besar di Indonesia yang menawarkan diri untuk bekerja sama dalam bisnis ini.
Namun begitu pria yang juga tergabung dalam HIPMI ini mengaku belum siap untuk memulai konsep franchise tersebut. Ia beralasan Molen Arab masih dalam tahap rintisan dan belum menemukan bentuk pasnya sehingga ia takut jika nanti terlanjur dibentuk franchise akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Terpaksa saya tolak dulu untuk sementara,” ungkapnya.
“Kita belum sanggup dan belum siap dari segala hal seperti sumber daya manusia, peralatan, dana, konsep dan sistem, karena waktu itu kita masih kecil, paling tidak butuh waktu lima tahun dulu untuk mengembangkan menjadi franchise” tambahnya.

Modal Nekat dan Mental Keras dalam Berwirausaha         
            Burhan menyampaikan modal utama dalam berwirausaha adalah keberanian dan kemauan. Menurutnya yang paling utama adalah mau dulu untuk berusaha dan berani beraksi. Karena menurutnya banyak pebisnis yang mau berusaha namun tak berani menjalankan usaha tersebut.
            “Jangan terlalu banyak mikir, kalau mau bisnis yang langsung aja, nanti kalau terlalu banyak mikir ya gak jadi-jadi,” terangnya.
Burhan bilang untuk tahap pertama dalam memulai usaha harus nekat, namun nekatnya harus ada strategi supaya nanti tidak rugi besar. Nekat yang ada perhitungannya! Ia akui pendidikan mandiri dari orang tuanya sedari kecil membuatnya memiliki kenekatan dan punya mental yang kuat agar tidak mudah putus asa. “Yang penting dia mau berani dan punya pengalaman, dari pengalaman itulah bisa disimpulkan akan lanjut atau tidak,” tambahnya.
Tahap selanjutnya adalah terus berinovasi, bukan hanya berinovasi pada produk saja tapi juga meliputi semua aspek seperti cara pemasaran. Pengusaha juga harus punya kesabaran karena usaha itu terus naik-turun. Jika usaha naik kita bisa terlena dan bisa berakibat buruk pada hasil berikutnya. Maka dari itu kesabaran diperlukan agar tidak mudah terlena ketika di atas dan tidak mudah berputus asa jika usaha sedang turun.
Kemudian lingkungan juga berpengaruh pada kesuksesan, pengusaha sukses itu berteman dengan pengusaha lain. Manfaat pertemanan ini adalah mencari solusi permasalahan kita karena solusi itu tak akan muncul sendiri, oleh karenanya jika usaha sedang anjlok maka kita bisa berbagi cerita dan berdiskusi mencari solusinya. 

Burhan juga berpendapat kedekatan personal dengan karyawan menjadi kunci penting dalam kesuksesan seseoran berusaha. Ia kerap memotivasi karyawannya untuk bekerja dengan baik serta menjaga disiplin kerja.

*Tulisan ini terbit di Medan Bisnis edisi Minggu 6 Desember 2015
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com