Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Sindiran untuk Sepakbola Indonesia

Perjuangan untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia terus berlanjut. Kali ini seorang sineas tanah air coba menyindir kondisi persepakbolaan Indonesia melalui sebuah film.

Judul film          : Hari Ini Pasti Menang
Sutradara          : Andibachtiar Yusuf
Pemain             : Zendhy Zein, Ibnu Jamil, Ario Prabowo, Ray Sahetapy, Mathias Muchus, Tika Putri
Distributor         : Bogalakon Pictures
Rilis                  : April 2013
Durasi               : 122 Menit

Kemelut dan kisruh persepakbolaan di Indonesia pada 2011 hingga 2013 lalu sepertinya menginspirasi seorang Andibachtiar Yusuf untuk memproduksi sebuah film bertemakan sepakbola. Film yang ia garap ini berkisah tentang dunia persepakbolaan di Indonesia yang telah memasuki era industrialisasi, kondisi dimana sepakbola benar-benar telah menjadi sebuah industri dengan sistem jual beli pemain secara profesional. Dunia sepakbola yang ia ceritakan penuh dengan aksi para mafia sepakbola yang mencoba mengendalikan puluhan pertandingan di Liga Sepakbola Indonesia lalu mengambil keuntungan dengan menjadi Bandar judi bola.

Gabriel Omar Bhaskoro melakukan selebrasi

Berbeda dengan film bertema sejenis semisal Garuda di Dadaku, dan Tendangan dari Langit, film ini bukanlah mengisahkan perjuangan seorang menjadi bintang sepakbola dari tak dikenal hingga dikenal. Film ini lebih menonjolkan realitas yang tak diketahui oleh masyarakat awam mengenai persepakbolaan Indonesia, sama seperti karyanya yang sebelumnya, Romeo & Juliet (2009).

Kita diajak untuk menikmati imajinasi ala Andibachtiar, Tim Nasional (timnas) Indonesia dikisahkan mampu berlaga di Piala Dunia. Seorang Bambang Pamungkas yang diperankan oleh Ibnu Jamil dikisahkan adalah seorang pemain yang telah bermain lebih dari sepuluh tahun di liga eropa. Lupakan kenyataannya mari kita nikmati dunia sepakbola imajinasi Andi Bachtiar!

Di sebuah pertandingan antara Jakarta Metropolitan melawan Bandung, Jakarta Metropolitan mampu memimpin satu gol berkat gol dari Gabriel Omar Bhaskoro (Zendhy Zein), ia lah bintang utama dalam film ini. Namun jalannya pertandingan rupanya telah diatur oleh mafia dan Bandar judi sepakbola. Pertandingan sebenarnya berlangsung seru, hingga akhirnya Gabriel harus menerima kartu merah akibat menanduk salah seorang pemain lawan. 

Gabriel berbuat begitu bukan tanpa alasan, ia terus diprovokasi dan dipancing agar melanggar oleh salah seorang pemain lawan yang telah diminta untuk berbuat demikian, ia juga sudah diminta secara rahasia untuk mengalah pada pertandingan itu. Hal ini dilakukan oleh Bandar judi agar mereka bisa meraup keuntungan yang besar dari pertandingan tersebut.

Dan benar saja, hasil pertandingan sesuai dengan settingan para mafia,  Bandung berhasil memaksakan hasil imbang lewat ‘hadiah’ pinalti yang diberikan wasit di menit-menit akhir pertandingan. Esok malamnya Gabriel dan Pelatih Jakarta Metropolitan, Bramantyo (Ray Sahetapi) bertemu secara rahasia untuk melakukan serah terima uang suap dari mafia. Kejadian ‘hadiah’ pinalti oleh wasit ini benar-benar sering terjadi di liga profesional Indonesia, ini lah sindiran pertama yang Andibachtiar sampaikan.  

Mendengar keterlibatan mafia dan bandar judi dipersepakbolaan Indonesia membuat seorang jurnalis olahraga bernama Andien (Tika Putri) tertarik melakukan investigasi. Hasil investigasi Andien menunjukkan adanya keterlibatan Gabriel. Andien coba bertanya pada Edhie Bhaskoro (Mathias Muchus) ayah Gabriel dan Pelatih Bramantyo mengenai keterlibatan Gabriel. Baik Edhie dan Bramantyo dengan tegas membantah keterlibatan Gabriel dalam mafia bola dan pengaturan pertandingan.

Di tengah penelusuran yang dilakukan Andien, ia mulai mendapat teror dari pihak tak dikenal. Ia diserempet motor diperjalanan pulang hingga ancaman terhadap nyawanya. Ia mulai frustasi dan ketakutan, timbul perdebatan dibatinnya apakah akan melanjutkan investigasinya atau tidak. Sebab usaha untuk melapor ke polisi pun akan sia-sia, ia tahu polisi juga pasti bersekongkol dengan mafia. Andibachtiar kembali menyindir bahwa aparat keamanan pun sudah dikuasai para mafia.

Gabriel Omar coba protes pada wasit


Andien memutuskan tetap melanjutkan investigasinya. Ia menemui Gabriel, dari Gabriel ia temukan jawaban bahwa mafia dan bandar judi memang terlibat dalam pengaturan skor di liga Indonesia, secara tak langsung Gabriel pun mengakui ia juga terlilbat praktik mafia pengaturan skor. Kembali Andibachtiar menyentil dengan tak diizinkannya Andien menuliskan berita yang telah ia dapatkan itu oleh pemimpin redaksinya sendiri. Seakan-akan media juga sudah dikendalikan mafia.

Andibachtiar mengakhiri cerita dengan cerdas dan elegan. Mengetahui anaknya terlibat mafia, Edhie mengalami kecelakaan. Hal ini lah yang menyadarkan Gabriel akan semua kesalahannya. Pada akhir cerita Jakarta Metropolitan melawan Melbourne Rovers dalam Liga Champions Asia. Para mafia sudah memesan agar Gabriel tidak mencetak gol dan biarkan Melbourne Rovers menang. Wasit dan pelatih tim tamu juga sudah di atur. Namun kali ini Gabriel melawan, ia tak mau ikuti para mafia. Gabriel malah mencetak dua gol pada babak pertama dan membawa Jakarta metropolitan unggul dua kosong.

Hal ini memicu amarah para mafia, mereka telah bayar mahal namun sang bintang tak menurut. Puncaknya ketika Jakarta Metropolitan berhasil menambah satu gol lagi di babak kedua. Sang mafia mencak-mencak lantas memerintahkan pelatih Melbourne untuk menghancurkan karir Gabriel, caranya dengan bermain kasar. Gabriel dilanggar berkali-kali hingga alami cedera parah, kakinya patah! Gabriel harus segera dioperasi kalau tidak ia akan lumpuh. Banyak media memberitakan pertandingan yang tidak adil tersebut dan sekelompok masyarakat meminta agar dilakukan investigasi tentang pertandingan tersebut.


Kembali Andibachtiar menyindir lewat klimaks pada cerita ini. Kejadian pemutusan karir seorang bintang karena melawan mafia memang pernah terjadi di Indonesia. Dalam sebuah scene diakhir film, seorang presenter televisi menyerukan sebuah pertanyaan, pertanyaan yang mungkin juga muncul dibenak kita. “Benarkah sepakbola Indonesia dinakhodai oleh mafia?”

Selasa, 25 Februari 2014

Keteguhan Hati Sang Pembantai

Judul film: Rurouni Kenshin
Sutradara: Keishi Ohtomo
Pemain: Yu Aomi, Takeru Sato, Emi Takei, Yosuke Eguchi,Teruyuki Kagawa dan Munetaka Aoki
Tahun Rilis: 2012
Durasi: 134 Menit
“Saat seseorang membunuh, kebencian dilahirkan. Biarkan orang saling membunuh sampai semua terputus, itulah kegunaan pedangku.” – Kenshin Himura.
Sebelum era Restorasi Meiji Jepangada seorang samurai dijuluki Hitokiri Battousai (Battousai Sang Pembantai). Ia terkenal dengan kemampuan menggunakan samurai yang bisa membunuh orang dalam sekejap. Juga sikapnya yang dingin dan memiliki aura pembunuh membuatnya ditakuti semua orang kala itu.
Himura Kenshin

Suatu kali terjadi perang yang melibatkan para samurai, tak terkecuali Hitokiri Battousai. Perang tersebut bertujuan membantai para samurai menjelang dimulainya Restorasi Meijiera baru dalam revolusi Jepang.Hotokiri Battousai menjadi incaran utama perang itu. Dengan keahliannya, ia mampu bertahan saat samurai yang lain habis dibantai. Perang berakhirHitokiri Battousai yang memilih mengalah dengan menancapkan pedangnya di tanah.
Hitoikiri Battousai, yang bernama asli Kenshin Himura (Takeru Sato),kemudian memilih mengembara menebus kesalahannya dahulu dengan membantu orang lain. Ia bertekad tak akan membantai orang lagi. Untuk itu, sekarang ia menggunakan pedang dengan mata tumpul. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan Kaoru Kamiya (Emi Takei),Sanosuke Sagara (Munetaka Aoki), dan Megumi Tanaka (Yu Aomi). Merekalah teman yang menemaninya sehari-hari. Mereka juga yang menguatkan pendiriannya agar tak membunuh orang lagi.
Bagi pencinta kartun Jepang, dikenal dengan anime, tentu tak asing dengan sinopsis di atas. Ya, inilah sebuah film versi live action yang diadopsi dari serial anime karangan Nobuhiro Watsuki dengan judul yang sama, Rurouni Kenshin atau lebih dikenal Samurai X.
Dengan pengambilan gambar yang dinamis dan gerakan pedang yang lincah, membuat film ini tak jauh beda dengan versi komiknya.
Walau demikian ada ketakutan anime yang diangkat versi live action-nya, akan membuat penggemar kecewa akibat ketidakcocokan tokoh utama baik dari akting ataupun penampilannya. Namun Takeru Sato mampu menjawab semua itu, pun begitu dengan pemeran tokoh lainnya seperti Emi Takei dan Yu Aomi. Buktinya Takeru Sato terlihat mampu memerankan sosok Kenshin Himura yang lugu, bodoh, santai namun berubah serius jika sedang bertarung. Keseluruhan, penampilan yang memukau dari semua pemerannya bisa menghidupkan karakter tokoh sesuai gambaran para penggemar.
Tak ada perbedaan cerita yang terlalu mencolok antara film dan anime-nya. Penonton yang sudah mengikuti anime-nya sejak awal ataupun penonton yang hanya menonton filmnya saja, mampu menangkap makna dan jalan cerita dari film ini. Tokoh-tokoh yang dihadirkan juga dibuat semirip mungkin dengan versi anime-nya. Namun musuh yang muncul memang tak semua dapat ditampilkan karena keterbatasan durasi.
Pertempuran 
Alur cerita pun mulai memanas ketika Kaoru diculik Saito Hajime (Yosuke Eguchi), musuh Kenshin. Motif penculikannya aalahmembangkitkan kembali jiwa Hitokiri Battousai yang telah dipendam Kenshin. Dengan menculik Kaoru dan mengancam untuk membunuhnya,Saito berharap Kenshin membunuhnya.
Sumpah Kenshin untuk tak membunuh benar-benar diuji Saito. Disebuah hutan, Kenshin dan Saito berduel. Di sini penonton bisa saksikan serunya duel dua ahli samurai. Aksi dan keahlian pedang kedua tokoh ini cukup mumpuni sehingga membuat takjub.
Di awal hingga tengah pertarungan mereka cukup imbang sehingga Kenshin masih memegang teguh sumpahnya. Namun memasuki akhir pertarungan, Saito mengeluarkan jurus yang membuat Kaoru kesusahan bernafas. Saito memberitahukan jurus itu akan lepas bila ia dibunuh. Tentu pilihan yang sulit bagi Kenshin. Ia harus menolong Kaoru tetapi ia harus membunuh untuk menyelamatkannya.
Akhirnya ia memilih membunuh Saito. Ia putuskan jadi Hitokiri lagi demi melindungi Kaoru. Namun di saat Kenshin tinggal menebaskan pedangnya pada Saito, Kaoru kembali mengingatkan Kenshin untuk tidak membunuh. Di tengah nafasnya yang hampir habis, ia mengucapkan kata-kata yang kembali mengingatkan tujuan hidup Kenshin di era baru. Kenshin bimbang.
Tiba-tiba Saito bergerak namun bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghunuskan pedangnya sendiri ke tubuhnya. Sehingga Kenshin tak jadi melanggar sumpahnya dan Kaoru bisa diselamatkan. Diambang kematiannya, Saito mempertanyakan keteguhan Kenshin, menurutnya pembantai tetaplah pembantai. Namun akhirnya Kenshin menegaskan tetap pada pendiriannya, untuk tidak membunuh.
Rurouni Kenshin
Klimaks cerita cukup terasa. Walau demikian, agak terasa kurang dari cara semua tokoh mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Misalnya saat Kenshin mengeluarkan jurus pamungkasnya, Battou Jutsu, tak ada kesan keren ketika jurus ini dikeluarkan. Pun begitu dengan jurus Saito yang membuat Kaoru tak bisa bernapas.
Terlepas dari itu, secara keseluruhan cerita film ini sangat enak untuk diikuti. Tak kaku dan mengalir dinamis. Karakter Kenshin yang lucu dan sedikit bodoh bisa menghidupkan suasana. Begitu juga dengan Sanosuke yang kadang becanda saat pertarungannya.


Tulisan ini terbit juga di suarausu.co rubrik resensi

Minggu, 29 Desember 2013

Di Balik Tragedi Pengeboman Yogyakarta

Judul film: Java Heat
Sutradara: Conor Allyn
Produser: Conor Allyn, Rob Allyn, Seth Baron
Pemain: Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Kellan Lutz, Mickey Rourke
Distributor: Margate House
Rilis: April 2013
Durasi: 98 Menit

Sebuah film yang (lagi-lagi) diproduksi oleh sineas luar negeri berhasil mengangkat budaya dan nilai-nilai Jawa di balik pencarian pelaku dan motif teror bom Yogyakarta. 

Conor Allyn kembali produksi sebuah film yang mengangkat budaya dan perjuangan Indonesia, setelah sebelumnya berhasil dengan trilogi garuda; Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), dan Hati Merdeka (2011). Bedanya kali ini Conor angkat genre action di Film Java Heat

sumber: istimewa

Kali ini Conor ceritakan perjuangan seorang Letnan dari Kepolisian Republik Indonesia yang tergabung dalam Detasemen Khusuh (densus) 88 anti teror, seorang Letnan bernama Hashim, (diperankan oleh Ario Bayu) yang berusaha menguak siapa pelaku teror bom disebuah upacara adat di Keraton Yogyakarta. Dibantu oleh seorang letnan dari marinir USA, Jake Travers (diperankan oleh Kellan Lutz).

Cerita bermula ketika bom meledak di Keraton Yogyakarta disaat pesta penobatan Sultana (diperankan oleh Atiqah Hasiholan) menjadi pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono XX. Sultana menjadi korban bom tersebut, Jake Travers berada disana menyaksikan sehingga ia ditahan untuk jadi saksi. Letnan Hashim lah yang mengintrogasinya, karena misi yang diembannya tak ingin diketahui siapapun Jake menyamar sebagai asisten dosen yang mengajar untuk kesenian dan budaya Asia Tenggara. 

Hingga suatu saat penyamarannya diketahui oleh Letnan Hashim. Ia tahu persis mereka sedang meyelesaikan kasus yang sama, namun mereka tak bisa bekerjasama dan memutuskan untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan cara mereka masing-masing. 

Di sela-sela alur cerita yang terus bergerak maju, Conor menyisipkan budaya dan nilai jawa yang begitu kental terasa ditengah era modernisasi teknologi. Misalnya ketika Letnan Hashim mengenalkan panggilan “mas” pada Jake, batik dan becak kayuh yang identik dengan keraton Yogyakarta. Bahkan disatu scene ada dua orang wanita dengan pakaian adat jawa tengah mematung memperagakan tarian jawa, pose mereka terus berganti dalam beberapa detik. Tak lupa Conor juga sempat tampilkan pertunjukan wayang ditengah keramaian pasar malam yang dipenuhi oleh wanita malam, waria dan diskotik. Namun yang tak saya mengerti adalah kenapa Conor menggunakan orang asing untuk memerankan Sultan Hamengkubuwono XX.

Tak hanya nilai dan budaya Jawa, melalui film ini Conor coba tunjukan pada dunia toleransi tinggi antar umat beragama di Indonesia, seperti  tak ada sekat yang membatasi umat Islam, Nasrani dan Budha, buktinya Letnan Hashim memandikan jenazah anak buahnya yang kristiani di pelataran masjid. Conor juga coba jelaskan bagaimana paham jihad yang sebenarnya, melalui tokoh bernama Ahmad, seorang penganut Islam yang taat dan bersedia berjihad, ia bekerja di bawah perintah Malik (diperankan oleh Mickey Rourke). Terjadi pertentangan antara mereka ketika Malik melibatkan orang-orang yang tak bersalah dalam aksinya. “Jihad tidak mengijinkan keterlibatan orang-orang yang tidak bersalah,” begitu ucap Ahmad. 

Puncak cerita terasa dikala diculiknya keluarga Letnan Hashim oleh Malik. Jake tahu itu, ia menawarkan diri untuk bekerjasama dengan Hashim guna menangkap Malik. Disinilah Jake jelaskan semua hasil penyelidikannya selama ini. Rupanya motif pengeboman Keraton Yogyakarta tempo hari lalu bukanlah didalangi oleh teroris melainkan usaha Malik guna memuluskan langkahnya mencuri kalung berlian turunan kerajaan Majapahit yang dipakai oleh Sultana ketika pengeboman terjadi, Malik kerjasama dengan Perdana Menteri Keraton yang ingin mengkudeta kedudukan Sultana untuk menjadi Sultan Hamengkubuwono XXI. 

Kembali nilai budaya keraton sangat terasa di sini, semua yang tinggal dilingkungan keraton memakai sarung dan baju batik. Coba sedikit modern, mereka dilengkapi dengan senjata api bukan senjata tradisional seperti keris. 

Candi Borobudur menjadi latar tempat yang sempurna untuk mengakhiri cerita ini. Di tengah perayaan umat Budha yang berkumpul di pelataran candi, Malik muncul sambil membawa Sultana yang ternyata masih hidup. Semua yang hadir di sana terkejut melihat Sultana yang masih sehat. Sultana dan Malik mendaki puncak Borobudur yang diikuti oleh Jake dan Letnan Hashim. Terjadi baku tembak di puncak Borobudur yang akhirnya dimenangkan oleh Jake dan Letnan Hashim, sayangnya ending yang muncul di sini tak kllimaks dan bisa ditebak.  

Secara keseluruhan Conor sukses membuat kita kembali merenungi budaya sendiri agar tak punah ditelan kemajuan zaman. Kita boleh gunakan teknologi secanggih apapun tapi jangan lupakan warisan budaya kita. Pesan tersebut sangat terasa ketika salah seorang prajurit keraton yang gunakan Ipad untuk melacak keberadaan Letnan Hashim dan Jake namun mereka tetap gunakan kostum tradisional yaitu pakaian adat jawa. Dengan kualitas pengambilan gambar yang nyaris menyamai film Holywood harusnya bisa memacu semangat anak negeri untuk hasilkan film dengan genre serupa sayangnya dalam film ini hanya budaya Jawa yang ditampilkan sehingga takutnya memberi kesan bahwa Indonesia hanyalah Pulau Jawa saja. Kesan itu makin terasa dengan adanya poster yang bertuliskan Pemerintah yang kuat untuk Jawa yang lebih baik.

Pun penggunaan bahasa Inggris di hampir semua adegan dan percakapan bahkan di lingkungan Keraton, ada baiknya tetap gunakan bahasa Jawa jika mengambil gambar di Keraton sehingga kesan mengangkat budaya akan makin terasa di film ini.

Rabu, 20 Februari 2013

2015 Indonesia Pecah?


Djuyoto Memprediksi Tahun 2015 Indonesia Pecah. Beragam reaksi dan tanggapan muncul ketika wacana tentang masa depan Indonesia, yang juga dijadikan judul buku oleh Djuyoto Suntani, itu muncul dalam acara Dialog Kebangsaan berjudul Indonesia: Kemarin, Kini dan Esok sekaligus peluncuran buku tersebut. Komentar bernada pesimis, optimis, hingga rasa tidak percaya silih berganti diberikan oleh berbagai pihak yang hadir di Gedung Aneka Bhakti Departemen Sosial kemarin. Mungkinkah Indonesia benar-benar akan ‘pecah’ pada tahun 2015?

Djuyoto Suntani, sang penulis buku, menyatakan dalam bukunya paling tidak ada tujuh faktor utama yang akan menyebabkan Indonesia “pecah” menjadi 17 kepingan negeri-negeri kecil di tahun 2015. Kepingan negeri-negeri kecil itu sendiri menurutnya didirikan berdasarkan atas: 
    1. Kepentingan rimordial (kesamaan etnis),
    2. Ikatan ekonomis (kepentingan bisnis),
    3. Ikatan kultur (kesamaan budaya),

    4. Ikatan ideologis (kepentingan politik), dan

    5. Ikatan regilius (membangun negara berdasar agama).
Penyebab pertama adalah siklus tujuh abad atau 70 tahun. Dalam bukunya ia menuliskan;
“Seperti kita ketahui, semua yang terjadi di alam ini mengikuti suatu siklus tertentu. Eksistensi suatu bangsa dan negara juga termasuk dalam suatu siklus yang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum alam. Dia mengambil contoh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa pada abad 6-7 M di mana waktu itu rakyat di kawasan Nusantara bersatu di bawah kepemimpinannya. Memasuki usia ke-70 tahun kerajaan itu mulai buyar dan muncul banyak kerajaan kecil yang mandiri berdaulat. 

Alhasil, di awal abad ke-9 nama Kerajaan Sriwijaya hanya tinggal sejarah. Tujuh abad kemudian (abad 13-14 M) lahir Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur sekarang. Kerajaan besar itu berhasil menyatukan kembali penduduk Nusantara. Namun, kerajaan ini pun bernasib sama dengan Sriwijaya. Memasuki usia ke-70 pengaruhnya mulai hilang dan bermunculanlah kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Nama Majapahit pun hilang ditelan bumi. Tujuh abad pasca-jatuhnya Majapahit, di tahun 1945 (abad 20) rakyat Nusantara kembali bersatu dalam suatu ikatan negara bangsa bernama Republik Indonesia (abad 20-21). 

Tahun 2015 akan bertepatan RI merayakan HUT-nya yang ke-70″. Dia pun menyatakan,“Selama ini saya selalu optimis, tapi melihat perkembangan di lapangan, apa yang terjadi pada sesama anak bangsa, sungguh mengenaskan. Irama perpolitikan nasional dewasa ini mengisyaratkan hitungan siklus bersatu dan bubar dalam tujuh abad, 70 tahun tampaknya kembali terulang. Berbagai fenomena alam yang menguat ke arah bukti kebenaran siklus sudah banyak kita saksikan. Pertengkaran sesama anak bangsa, terutama elite politik, tidak kunjung selesai, tulis Djuyoto. 



Penyebab kedua, Indonesia telah kehilangan figur pemersatu bangsa. Setelah Ir Soekarno dan HM Soeharto, tidak ada tokoh nasional yang benar-benar bisa mempersatukan bangsa ini. Masing-masing anak bangsa selalu merasa paling hebat, paling mampu, paling pintar, dan paling benar sendiri. Para tokoh nasional yang memimpin negeri ini belum menunjukkan berbagai sosok negarawan karena dalam memimpin lebih mengutamakan kepentingan politik golongan/kelompok daripada kepentingan bangsa (rakyat) secara luas. Kehilangan figur tokoh pemersatu adalah ancaman paling signifikan yang membawa negeri ini ke jurang perpecahan”. Katanya tegas.
 
Pertengkaran sesama anak bangsa yang sama-sama merasa jago dan hebat, masing-masing punya kendaraan partai, punya jaringan internasional, punya dana/uang mandiri, punya akses, merasa punya kemampuan jadi Presiden; merupakan penyebab ketiga Indonesia akan pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil. Masing-masing tokoh ingin menjadi nomor satu di suatu negara. Fenomena ini sudah menguat sejak era reformasi yang dimulai dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah. 

Salah satu penyebab Indonesia akan pecah di tahun 2015 karena adanya konspirasi global. Ada grand strategy global untuk menghancurkan keutuhan Indonesia. Ada skenario tingkat tinggi yang ingin menghancurkan Indonesia atau bahkan menghilangkan nama Indonesia sebagai negara bangsa, tegasnya. Konspirasi global ini, Djuyoto Suntani melihat, terus bergerak dan bekerja secara cerdas dengan menggunakan kekuatan canggih melalui penetrasi budaya, penyesatan opini, arus investasi, berbagai tema kampanye indah seperti demokratisasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, kebebasan pers, kemakmuran, kesejahteraan, sampai pada mimpi-mimpi indah lewat bisnis obat-obatan terlarang dengan segmen generasi muda.
 
Penyebab utama kelima Indonesia akan”‘pecah” dalam penilaiannya adalah faktor nama. Apa yang salah dengan nama? Ternyata, nama Indonesia sesungguhnya berasal dari warisan kolonial Belanda yakni East-India atau India Timur alias Hindia Belanda. Kalangan tokoh politik Belanda tingkat atas malah sering menyebut Indonesia dengan singkatan: In-corporate Do/e-Netherland in-Asia atau kalau diartikan secara bebas nama Indonesia sama dengan singkatan Perusahaan Belanda yang berada di Asia. Pemberian nama Indonesia oleh Belanda memang memiliki agenda politik tersembunyi sebab Belanda tidak rela Indonesia menjadi bangsa dan negara yang besar. 

Nama orisinil kawasan negeri ini yang benar adalah Nusantara, yang berasal dari kata Bahasa Sansekerta Nusa (pulau) dan Antara. Artinya, negara yang terletak di antara pulau-pulau terbesar dan terbanyak di dunia sebab negara kita merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Bila para anak bangsa tahun 2015 mampu menyelamatkan keutuhan negeri ini sebagai satu bangsa, salah satu opsi adalah dengan penggantian nama dari Indonesia menjadi Nusantara. Nama Nusantara lebih relevan, orisinil, berasal dari jiwa bumi sendiri dan lebih membawa keberuntungan, pesan Djuyoto. Namun, karena perpecahan sudah di ujung tanduk, salah satu agenda dalam membangun komitmen baru sebagai bangsa dalam pandangannya adalah dengan cara (perlu direnungkan) mengganti nama Indonesia menjadi Nusantara. Karena, nama memiliki arti serta memberi berkah tersendiri. 

Tidak hanya nama Indonesia yang bisa menjadi penyebab negeri ini pecah, nama Jakarta pun ternyata ikut berpengaruh terhadap keutuhan republik ini. Nama Jakarta, Djuyoto mengungkapkan, memiliki konotasi negatif bagi sebagian besar masyarakat. Bila kita ingin menyelamatkan Indonesia dari ancaman perpecahan serta punya komitmen bersama untuk membawa negara ini menjadi negara besar yang dihormati dunia internasional, maka nama ibukota negara seyogianya dikembalikan kepada nama awalnya yaitu Jayakarta. Nama Jayakarta lebih tepat sebagai roh spirit Ke-Jaya-an Ibukota negara daripada nama Jakarta, sarannya.  

Penyebab terakhir pecahnya Indonesia adalah gonjang ganjing pemilihan Presiden tahun 2014. Dia menyatakan dalam Pilpres 2009 bisa saja sejumlah tokoh yang kalah masih mampu mengendalikan diri tapi gejolak massa akar rumput yang berasal dari massa pendukung tidak mau menerima kekalahan jago pilihannya. Mereka lalu mempersiapkan diri untuk maju bertarung lagi pada Pilpres 2014. Pilpres 2014 adalah puncak ledakan dashyat gunung es yang benar-benar membahayakan integrasi Indonesia. 

Menurut Djuyoto dari informasi yang ia peroleh di seluruh penjuru Tanah-Air, indikasi karena gengsi kalah bersaing dalam Pilpres Indonesia lantas mengambil keputusan radikal dengan mendeklarasikan negara baru bukanlah sekedar omong kosong tapi akan terbukti. Pergolakan alam negeri ini seperti gunung es yang tampak tenang di permukaan namun setiap saat pasti meletus dengan dashyat. Djuyoto Suntani menjelaskan, pada Pilpres 2014 bakal bermunculan figur dari berbagai daerah yang mulai berani bertarung memperebutkan kursi RI-1 untuk bersaing dengan tokoh nasional di Jakarta. Para tokoh daerah sudah dibekali modal setara dengan para tokoh nasional di Jakarta. Jika mereka kalah dalam Pilpres 2014, karena desakan massa pendukung, opsi lain adalah mendirikan negara baru, melepaskan diri dari Jakarta. Gonjang ganjing Indonesia sebagai bangsa akan mencapai titik didih terpanas pada Pilpres 2014. Jika kita tidak mampu mengendalikan keutuhan negeri ini, tahun 2015 Indonesia benar-benar pecah. Para Capres Indonesia 2014 yang gagal ramai-ramai akan pulang kampung untuk mendeklarasikan negara baru. Mereka merasa punya kemampuan, punya harga diri, punya uang, punya jaringan dan punya massa/rakyat pendukung. Perubahan dan pergolakan politik nasional pada tahun 2014 diperkirakan bisa lebih dashyat karena tidak ada lagi figur tokoh pemersatu yang dihormati dan diterima oleh seluruh bangsa.  

Agar Indonesia tidak pecah, dia menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersatu. Dia berharap seluruh bangsa menyadari ancaman yang ada di depan mata dan kemudian saling bergandengan tangan bersatu untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Djuyoto bilang buku ini ditulis sebagai peringatan dini, sebagai salah satu wujud untuk berupaya menyelamatkan Indonesia dari ancaman kehancuran. Dengan adanya buku ini diharapkan semoga anak-anak bangsa mulai menyadari bahwa hantu Indonesia pecah sudah berada di depan mata. Kalau sudah paham, diharapkan mulai tumbuh kesadaran dari dalam hati lalu secara bersama-sama mengambil langkah untuk mencegah.  

ke 17 negara itu antara lain.
1.Naggroe Atjeh Darrusallam : Banda Atjeh

2.Sumatra Utara : Medan

3.Sumatra Selatan : Lampung

4.Sunda Kecil : Jakarta
5.Jamar (Jawa Madura) : Surakarta
6.Yogyakarta : Yogyakarta
7.Kalimantan Barat : Pontianak
8.Kalimantan Timur : Samarinda
9.Ternate Tidore : Ternate
10.Sulawesi Selatan : Makassar
11.Sulawesi Utara : Manado
12.Nusa Tenggara : Mataram
13.Flobamora & Sumba: Kupang
14.Timor Leste : Dili
15.Maluku Selatan : Ambon
16.Maluku Tenggara : Tual
17.Papua Barat : Jayapura
18. Negara Riau Merdeka

Well, sebuah buku yang cukup menarik untuk dibaca. Mari kita lihat bagaimana perkembangan arah bangsa ini.

Sumber: http://15desember2011.blogspot.com/2010/07/ramalan-indonesia-pecah-tahun-2015.html





 @anakostteXas

Film yang Menghina Indonesia

Mungkin Terlalu kasar kalo pake kata 'menghina', mungkin lebih tepatnya film barat yang di salah satu ceritanya berbicara soal 'keburukan-keburukan' yang ada di indonesia .... sebagian fakta, sebagian dilebih-lebihkan, namanya juga pilem, mungkin karena si pembuat pilem bukan orang Indonesia jadi gak faham dengan keadaan di indonesia, atau .... mungkin juga karena mereka benar-benar memahami indonesia ... Berikut 7 Film Hollywood Yang Menghina Indonesia, yaitu :
1. House (Serial TV)



Film seri di Starworld. Si dokter House lagi ngobatin anak yang sakit parah banget dibilang sama si dokter, kira-kira begini, “anak sakit parah begini tinggalnya pasti di Indonesia”.
2. Looking For Jackie Chan



Film yang menceritakan anak indonesia keturunan china fans berat jackie chan hingga akhirnya ketemu sang idola. Anak ini memiliki sikap khas indonesia, "MELANGGAR ATURAN", diantaranya saat menerobos satpam & lari dari rumah (pergi ke rumah neneknya di beijing tapi malah ga sampe tempat).
3. In The God Hand


Film tentang selancar dari Hawai ke Bali. Waktu itu ada peselancar2 muda dari Amerika yang nyoba semua ombak yg ada di dunia. Saat itu di Lombok/Bali, ceritanya mereka ketangkep polisi Indonesia, trus polisinya disuap dengan cara “salaman dengan nempelin duit ke tangan polisi”. lolos deh mereka.
4. Lethal Weapon 4

Dalam salah satu adegannya, Danny Glover memaki-maki dengan mimik khasnya, “Kapal bodoh ini dibuat oleh seorang yang berasal dari Indonesia”. Wah, ngeselin banget ya. Ceritanya imigran china yang diselundupkan pake kapal yang diatasnamakan sebuah perusahan di Indonesia, (tapi fiktif). Coba deh perhatikan waktu Mel Gibson and the geng lagi ngobrol di markas sebelum menyerbu Uncle Benny. 'Jadi, Indonesia digambarkan sebagai negara yang selalu bikin kacau”.
5. The Year Of Living Dangerously 


Film ini berkisah tentang seorang wartawan yang dikirim untuk bertugas di Jakarta pada tahun 1965-1966. Saat itu, Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno sedang mengalami krisis politik dan ekonomi.Tak heran, situasi Jakarta digambarkan sangat kacau, lengkap dengan embel-embel penduduk yang merana karena kelaparan. Dimeriahkan oleh akting dari Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Syutingnya sendiri dilaksanakan di Bangkok,  karena tidak diijinkan pemerintah di Jakarta. (tanya kenapa?). Hehehe. Akibatnya meski ada beberapa dialog menggunakan Bahasa Indonesia, namun karena aktornya adalah orang bangkok, maka ucapannya terdengar aneh di telinga. Adegan yang paling terkenal sewaktu temennya Mel Gibson, Billy Kwan (ni artis cewek cuman di film ini main jadi cowok) ngegantungin spanduk di hotel Indonesia (ceritanya) dengan tulisan SOEKARNO FEED YOUR PEOPLE. Saat Oscar 1982, film ini menang untuk artis terbaik Linda Hunt.Fim ini gak cuman nyebutin indonesia tapi tentang Indonesia. Jadi, dalam film ini, Indonesia digambarkan sebagai negara penuh konflik.
6. West Wing


Sebuah serial tv yang bersetting gedung putih, dengan tokoh presiden Amerika fiktif President Bartlett (Martin Sheen) beserta stafnya. Salah satu episodenya menceritakan tentang kesibukan gedung putih dalam menerima kunjungan presiden Indonesia (tentu fiktif juga) namanya Siguto (mungkin maksudnya Sugito, hahaha). Dari awal film iniIndonesia terus dijelek-jelekkan, sehingga sempat bikin kesel waktu nonton (hehehe), masa ada kalimat begini yang diucapkan seorang staf gedung putih kepada seorang staf gedung putih lainnya: “Hati-hati jangan bikin orang indonesia tersinggung, atau kepalamu akan dipenggal dan diarak keliling kota”. Staff yg memperingatkan itu bilang dia lihat di internet, trus staff yang satu lagi enggak percaya.

Jadi untungnya yang nonton West Wing juga emang gak diarahkan untuk percaya kaloIndonesia seprimitif itu. Belum lagi informasi yang salah tentang Indonesia. Digambarkan juga bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang bodoh dan tak bisa berbahasa Inggris. Trus, ceritanya presiden Indonesia datang (dan lagi-lagi berwajah Jepang) namun gerak-gerik dan tata bahasanya mengingatkan kita sama presiden Gus Dur (Hehehe, gak tau sengaja apa enggak). Si pemeran bapak dan ibu Siguto sebagai Pres RI ini cuman kebagian disorot dari belakang, yang penampilannya jadul abisss. Pak Presiden pake peci, istrinya pake kebaya dan dikonde hehehe. And mereka sipit bangetss, mungkin cari muka melayu susah, jadi sutradara menyamaratakan orang Asia gitu aja. Diceritain disini staff gedung putih kebingungan nyari translator karena mereka bilang Indonesia speaks in 300 different languages, dan dibilang kita gak punya bahasa nasional. Disini ngaconya! Tambahan lagi staff Indonesia itu ceritanya orang Batak, dan kacaunya lagi namanya: Rahmahidi Sumahijo Bambang (lucunya waktu tuh bule ngucapin nih nama), mana nama bataknya? Kayaknya gak pernah denger ada orang Batak namanya Rahmahidi Sumahijo, orang Jawa aja kayaknya ga ada.

Ketika presiden sedang konferensi pers, para stafnya pun melakukan pertemuan informal dan mereka pusing nyari translator karena ada 1 orang yang bisa Bahasa Batak, dan dia orang Portugis, tapi tuh orang ga bisa Bahasa Inggris, jadi di film ini ceritanya mereka nyari 2 orang akhirnya buat translate Inggris->Portugis, Portugis-> Batak. Mereka berusaha menjelaskan jika mereka akan membantu perekonomian Indonesia dengan syarat beberapa tahanan politik dibebaskan. Untungnya, ending film ini bagus. Ketika mereka bersusah payah berbicara Batak dan Portugis, tiba-tiba, staf indonesia yaitu si Bambang ini (yang ini mukanya emang melayu..ga tau apa indonesia beneran..) itu bicara bahasa Inggris dan memaki-maki para staf gedung putih “Anda pikir kami bangsa yang bodoh?

Anda pikir kami tak tahu anda anggap apa bangsa kami dan apa anda pikir kami tak bisa berbahasa Inggris? Kami mengerti semua perkataan anda bahkan arah pidato presiden anda kami sangat paham. Tapi kami bangsa yang berdaulat. Jangan mentang-mentang anda negara kuat seenaknya saja mengatur kebijakan dalam negri kami. Urus saja urusan dalam negeri anda. Dan satu hal, daripada kami mengikuti kemauan Anda, lebih baik kami tak usah dibantu sama sekali”. Bagus banget endingnya.
Sayang cuma di film ya…
7. The Silence Of The Lambs


Dalam film yang thriller psikologi yang dibintangi Jodie Foster ini ada adegan dimana di sweater orang yang diculik kanibal itu tertulis “MADE IN INDONESIA”. Apakah imageIndonesia sudah sebagai negara yang banyak penculikan atau karena kita produsen tekstil?
 
well, mungkin ini mungkin jadi bahan introspeksi bagi bangsa kita. Sebagian cerita yang disinggung pada film tersebut memang realitanya ada di Indonesia, namun kita juga tak boleh tinggal diam ketika negara kita dihina. HIDUP INDONESIA!!!
sumber: http://cariuang-belajar.blogspot.com/2011/10/7-film-hollywood-yang-menghina.html
 
 

@anakostteXas
 
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com