Selasa, 25 Februari 2014

Terapi Musik untuk Kesehatan Jiwa dan Mental

“Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi.” –Wulaningrum Wibisono
Siapa yang tak pernah mendengar musik. Paling tidak mendengar musik alam seperti kicauan burung atau desiran ombak.
Musik tak hanya digunakan sebagai media komunikasi seperti pemberi sinyal saat perang pada zaman dulu. Musik hingga sekarang masih sangat eksis dengan beragam fungsi lainnya. Misalnya fungsi hiburandan ekonomi.
Dengan musik kita bisa terhibur. Dengan musik pula seseorang bisa kaya dengan menjadi musisi ataupun penyanyi profesional.
Namun ada satu hal lagi fungsi dan manfaat musikbisa pengaruhi kesehatan jiwa dan mental!
EV Andreas Christanday, seorang tokoh agama menjelaskan dalam suatu kali ceramah agamanya. Musik memiliki tiga komponen yaknibeat (ketukan), rhythm (irama) dan harmony. Beat memengaruhi tubuh/fisik, ryhthm memengaruhi jiwa dan harmony memengaruhi roh.
Siapa yang tak bergerak tubuhnya ketika mendengar musik rock yang memiliki beat cepat? Lalu ada kalanya saat seorang sedang bersedih, dengan mendengarkan lagu-lagu yang memiliki ritme atau irama teratur akan menenangkan perasaan dan menimbulkan rasa nyaman (good mood).
Dan pernahkah Anda merinding ketika mendengar musik yang memiliki melodi atau harmony yang menyayat hati? Itulah musik mempengaruhi tubuh, mental dan jiwa.
Penelitian mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran di tahun 2008 pun membuktikan ada penurunan tingkat stres pada kelompok yang diuji sebelum dan setelah dilakukan terapi musik. Mereka lakukan penelitian pada tiga puluh orang remaja di sebuah panti asuhan di Jawa Barat.
Penelitian dilakukan selama dua hari. Pada hari pertama mereka menguji dan mengidentifikasi tingkat stres masing-masing remaja sebelum dilakukan terapi musik. Hasilnya ada sebelas orang dengan tingkat stres berat dan sembilan belas orang dengan tingkat stres sedang.
Masing-masing remaja diperdengarkan musik yang sesuai dengan kondisi mereka. Contohnya remaja yang sedang tak bersemangat diputarkan musik bersemangat. Dalam sehari, paling tidak setengah sampai satu jam remaja tersebut diperdengarkan musik.
Lalu mereka kembali menguji dan mengidentifikasi tiga puluh remaja tadi setelah mereka diberi terapi musik. Hasilnya menunjukan terjadi penurunan tingkat stres yang signifikan.
Sebelas remaja yang awalnya stres berat berkurang hanya satu orang saja. Sembilan belas remaja dengan tingkat stress sedang juga berkurang menjadi tujuh belas dan sisanya sepuluh orang hanya mengalami stress ringan dan dua orang sisanya tak lagi stres.
Untuk menguji penelitian tersebut valid dan tak ada kesalahan, di hari kedua mereka kembali melakukan penelitian yang sama pada anak yang sama. Hasilnya tak ada yang berubah. Masih terjadi penurunan tingkat stres pada semua remaja yang diteliti. Mereka pun menyimpulkan terapi musik bisa menurunkan tingkat stres seseorangdan bahkan bisa menghilangkan stress!
Mereka juga menyarankan untuk menerapkan terapi musik ini dalam upaya penurunan tingkat stres remaja.
Terapi musik yang dilakukan dapat menurunkan hormon adrenokortikotropik (ACTH) atau biasa disebut hormon stres. Selain itu musik juga memengaruhpeningkatan produksi hormon serotonin, disebut juga hormon kebahagiaan, yang berfungsi mengontrol mood atau suasana hati.
Rangsangan ritmis yang dihasilkan musik ditangkap indra pendengaran untuk kemudian diolah dalam sistem saraf tubuh dan kelenjar pada otak. Selanjutnya diubah dalam bentuk ritme internal pendengaran. Ritme internal ini memengaruhi metabolime tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan baik. Baiknya sistem metabolisme akan membuat tubuh menghasilkan sistem imunitas yang baik pula sehingga tubuh lebih siap untuk menghadang berbagai penyakit.
Musik yang biasa digunakan dalam terapi musik adalah musik trance,mellow, semangat, ceria dan relaksasi. Masing-masing tema musik tersebut memiliki pengaruh yang berbeda.
Musik yang digunakan untuk menyembuhkan tekanan mental atau stres adalah musik dengan tema trance, karena berisi ungkapan rasa ceria yang luar biasa. Untuk menahan rasa duka dan menyembuhkan rasa sedih digunakan musik dengan tema mellow.
Musik dengan tema ceria dan semangat digunakan untuk meningkatkan gairah hidup dan semangat kerja. Sedangkan untuk menenangkan perasaan dan emosi digunakan musik dengan tema relaksasi.
Jadi, ada cara yang sangat efektif untuk mengatasi tekanan mental atau stres yang terus datang tiap hari. Sebelum stres itu berevolusi menjadi penyakit yang lebih berbahaya tak ada salahnya jika kita meluangkan waktu untuk mendengarkan musik kesukaan kita.
Terapi musik tak rumit untuk dilakukan, cukup setengah sampai satu jam sehari dengan syarat benar-benar mengahayati musik. Namun perlu diingat, terapi musik hanya akan efektif jika dilakukan pada tempat dan suasana yang nyaman.

Tulisan ini juga di muat di suarausu.co rubrik Tahukah Anda

Keteguhan Hati Sang Pembantai

Judul film: Rurouni Kenshin
Sutradara: Keishi Ohtomo
Pemain: Yu Aomi, Takeru Sato, Emi Takei, Yosuke Eguchi,Teruyuki Kagawa dan Munetaka Aoki
Tahun Rilis: 2012
Durasi: 134 Menit
“Saat seseorang membunuh, kebencian dilahirkan. Biarkan orang saling membunuh sampai semua terputus, itulah kegunaan pedangku.” – Kenshin Himura.
Sebelum era Restorasi Meiji Jepangada seorang samurai dijuluki Hitokiri Battousai (Battousai Sang Pembantai). Ia terkenal dengan kemampuan menggunakan samurai yang bisa membunuh orang dalam sekejap. Juga sikapnya yang dingin dan memiliki aura pembunuh membuatnya ditakuti semua orang kala itu.
Himura Kenshin

Suatu kali terjadi perang yang melibatkan para samurai, tak terkecuali Hitokiri Battousai. Perang tersebut bertujuan membantai para samurai menjelang dimulainya Restorasi Meijiera baru dalam revolusi Jepang.Hotokiri Battousai menjadi incaran utama perang itu. Dengan keahliannya, ia mampu bertahan saat samurai yang lain habis dibantai. Perang berakhirHitokiri Battousai yang memilih mengalah dengan menancapkan pedangnya di tanah.
Hitoikiri Battousai, yang bernama asli Kenshin Himura (Takeru Sato),kemudian memilih mengembara menebus kesalahannya dahulu dengan membantu orang lain. Ia bertekad tak akan membantai orang lagi. Untuk itu, sekarang ia menggunakan pedang dengan mata tumpul. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan Kaoru Kamiya (Emi Takei),Sanosuke Sagara (Munetaka Aoki), dan Megumi Tanaka (Yu Aomi). Merekalah teman yang menemaninya sehari-hari. Mereka juga yang menguatkan pendiriannya agar tak membunuh orang lagi.
Bagi pencinta kartun Jepang, dikenal dengan anime, tentu tak asing dengan sinopsis di atas. Ya, inilah sebuah film versi live action yang diadopsi dari serial anime karangan Nobuhiro Watsuki dengan judul yang sama, Rurouni Kenshin atau lebih dikenal Samurai X.
Dengan pengambilan gambar yang dinamis dan gerakan pedang yang lincah, membuat film ini tak jauh beda dengan versi komiknya.
Walau demikian ada ketakutan anime yang diangkat versi live action-nya, akan membuat penggemar kecewa akibat ketidakcocokan tokoh utama baik dari akting ataupun penampilannya. Namun Takeru Sato mampu menjawab semua itu, pun begitu dengan pemeran tokoh lainnya seperti Emi Takei dan Yu Aomi. Buktinya Takeru Sato terlihat mampu memerankan sosok Kenshin Himura yang lugu, bodoh, santai namun berubah serius jika sedang bertarung. Keseluruhan, penampilan yang memukau dari semua pemerannya bisa menghidupkan karakter tokoh sesuai gambaran para penggemar.
Tak ada perbedaan cerita yang terlalu mencolok antara film dan anime-nya. Penonton yang sudah mengikuti anime-nya sejak awal ataupun penonton yang hanya menonton filmnya saja, mampu menangkap makna dan jalan cerita dari film ini. Tokoh-tokoh yang dihadirkan juga dibuat semirip mungkin dengan versi anime-nya. Namun musuh yang muncul memang tak semua dapat ditampilkan karena keterbatasan durasi.
Pertempuran 
Alur cerita pun mulai memanas ketika Kaoru diculik Saito Hajime (Yosuke Eguchi), musuh Kenshin. Motif penculikannya aalahmembangkitkan kembali jiwa Hitokiri Battousai yang telah dipendam Kenshin. Dengan menculik Kaoru dan mengancam untuk membunuhnya,Saito berharap Kenshin membunuhnya.
Sumpah Kenshin untuk tak membunuh benar-benar diuji Saito. Disebuah hutan, Kenshin dan Saito berduel. Di sini penonton bisa saksikan serunya duel dua ahli samurai. Aksi dan keahlian pedang kedua tokoh ini cukup mumpuni sehingga membuat takjub.
Di awal hingga tengah pertarungan mereka cukup imbang sehingga Kenshin masih memegang teguh sumpahnya. Namun memasuki akhir pertarungan, Saito mengeluarkan jurus yang membuat Kaoru kesusahan bernafas. Saito memberitahukan jurus itu akan lepas bila ia dibunuh. Tentu pilihan yang sulit bagi Kenshin. Ia harus menolong Kaoru tetapi ia harus membunuh untuk menyelamatkannya.
Akhirnya ia memilih membunuh Saito. Ia putuskan jadi Hitokiri lagi demi melindungi Kaoru. Namun di saat Kenshin tinggal menebaskan pedangnya pada Saito, Kaoru kembali mengingatkan Kenshin untuk tidak membunuh. Di tengah nafasnya yang hampir habis, ia mengucapkan kata-kata yang kembali mengingatkan tujuan hidup Kenshin di era baru. Kenshin bimbang.
Tiba-tiba Saito bergerak namun bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghunuskan pedangnya sendiri ke tubuhnya. Sehingga Kenshin tak jadi melanggar sumpahnya dan Kaoru bisa diselamatkan. Diambang kematiannya, Saito mempertanyakan keteguhan Kenshin, menurutnya pembantai tetaplah pembantai. Namun akhirnya Kenshin menegaskan tetap pada pendiriannya, untuk tidak membunuh.
Rurouni Kenshin
Klimaks cerita cukup terasa. Walau demikian, agak terasa kurang dari cara semua tokoh mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Misalnya saat Kenshin mengeluarkan jurus pamungkasnya, Battou Jutsu, tak ada kesan keren ketika jurus ini dikeluarkan. Pun begitu dengan jurus Saito yang membuat Kaoru tak bisa bernapas.
Terlepas dari itu, secara keseluruhan cerita film ini sangat enak untuk diikuti. Tak kaku dan mengalir dinamis. Karakter Kenshin yang lucu dan sedikit bodoh bisa menghidupkan suasana. Begitu juga dengan Sanosuke yang kadang becanda saat pertarungannya.


Tulisan ini terbit juga di suarausu.co rubrik resensi

Minggu, 29 Desember 2013

Di Balik Tragedi Pengeboman Yogyakarta

Judul film: Java Heat
Sutradara: Conor Allyn
Produser: Conor Allyn, Rob Allyn, Seth Baron
Pemain: Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Kellan Lutz, Mickey Rourke
Distributor: Margate House
Rilis: April 2013
Durasi: 98 Menit

Sebuah film yang (lagi-lagi) diproduksi oleh sineas luar negeri berhasil mengangkat budaya dan nilai-nilai Jawa di balik pencarian pelaku dan motif teror bom Yogyakarta. 

Conor Allyn kembali produksi sebuah film yang mengangkat budaya dan perjuangan Indonesia, setelah sebelumnya berhasil dengan trilogi garuda; Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), dan Hati Merdeka (2011). Bedanya kali ini Conor angkat genre action di Film Java Heat

sumber: istimewa

Kali ini Conor ceritakan perjuangan seorang Letnan dari Kepolisian Republik Indonesia yang tergabung dalam Detasemen Khusuh (densus) 88 anti teror, seorang Letnan bernama Hashim, (diperankan oleh Ario Bayu) yang berusaha menguak siapa pelaku teror bom disebuah upacara adat di Keraton Yogyakarta. Dibantu oleh seorang letnan dari marinir USA, Jake Travers (diperankan oleh Kellan Lutz).

Cerita bermula ketika bom meledak di Keraton Yogyakarta disaat pesta penobatan Sultana (diperankan oleh Atiqah Hasiholan) menjadi pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono XX. Sultana menjadi korban bom tersebut, Jake Travers berada disana menyaksikan sehingga ia ditahan untuk jadi saksi. Letnan Hashim lah yang mengintrogasinya, karena misi yang diembannya tak ingin diketahui siapapun Jake menyamar sebagai asisten dosen yang mengajar untuk kesenian dan budaya Asia Tenggara. 

Hingga suatu saat penyamarannya diketahui oleh Letnan Hashim. Ia tahu persis mereka sedang meyelesaikan kasus yang sama, namun mereka tak bisa bekerjasama dan memutuskan untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan cara mereka masing-masing. 

Di sela-sela alur cerita yang terus bergerak maju, Conor menyisipkan budaya dan nilai jawa yang begitu kental terasa ditengah era modernisasi teknologi. Misalnya ketika Letnan Hashim mengenalkan panggilan “mas” pada Jake, batik dan becak kayuh yang identik dengan keraton Yogyakarta. Bahkan disatu scene ada dua orang wanita dengan pakaian adat jawa tengah mematung memperagakan tarian jawa, pose mereka terus berganti dalam beberapa detik. Tak lupa Conor juga sempat tampilkan pertunjukan wayang ditengah keramaian pasar malam yang dipenuhi oleh wanita malam, waria dan diskotik. Namun yang tak saya mengerti adalah kenapa Conor menggunakan orang asing untuk memerankan Sultan Hamengkubuwono XX.

Tak hanya nilai dan budaya Jawa, melalui film ini Conor coba tunjukan pada dunia toleransi tinggi antar umat beragama di Indonesia, seperti  tak ada sekat yang membatasi umat Islam, Nasrani dan Budha, buktinya Letnan Hashim memandikan jenazah anak buahnya yang kristiani di pelataran masjid. Conor juga coba jelaskan bagaimana paham jihad yang sebenarnya, melalui tokoh bernama Ahmad, seorang penganut Islam yang taat dan bersedia berjihad, ia bekerja di bawah perintah Malik (diperankan oleh Mickey Rourke). Terjadi pertentangan antara mereka ketika Malik melibatkan orang-orang yang tak bersalah dalam aksinya. “Jihad tidak mengijinkan keterlibatan orang-orang yang tidak bersalah,” begitu ucap Ahmad. 

Puncak cerita terasa dikala diculiknya keluarga Letnan Hashim oleh Malik. Jake tahu itu, ia menawarkan diri untuk bekerjasama dengan Hashim guna menangkap Malik. Disinilah Jake jelaskan semua hasil penyelidikannya selama ini. Rupanya motif pengeboman Keraton Yogyakarta tempo hari lalu bukanlah didalangi oleh teroris melainkan usaha Malik guna memuluskan langkahnya mencuri kalung berlian turunan kerajaan Majapahit yang dipakai oleh Sultana ketika pengeboman terjadi, Malik kerjasama dengan Perdana Menteri Keraton yang ingin mengkudeta kedudukan Sultana untuk menjadi Sultan Hamengkubuwono XXI. 

Kembali nilai budaya keraton sangat terasa di sini, semua yang tinggal dilingkungan keraton memakai sarung dan baju batik. Coba sedikit modern, mereka dilengkapi dengan senjata api bukan senjata tradisional seperti keris. 

Candi Borobudur menjadi latar tempat yang sempurna untuk mengakhiri cerita ini. Di tengah perayaan umat Budha yang berkumpul di pelataran candi, Malik muncul sambil membawa Sultana yang ternyata masih hidup. Semua yang hadir di sana terkejut melihat Sultana yang masih sehat. Sultana dan Malik mendaki puncak Borobudur yang diikuti oleh Jake dan Letnan Hashim. Terjadi baku tembak di puncak Borobudur yang akhirnya dimenangkan oleh Jake dan Letnan Hashim, sayangnya ending yang muncul di sini tak kllimaks dan bisa ditebak.  

Secara keseluruhan Conor sukses membuat kita kembali merenungi budaya sendiri agar tak punah ditelan kemajuan zaman. Kita boleh gunakan teknologi secanggih apapun tapi jangan lupakan warisan budaya kita. Pesan tersebut sangat terasa ketika salah seorang prajurit keraton yang gunakan Ipad untuk melacak keberadaan Letnan Hashim dan Jake namun mereka tetap gunakan kostum tradisional yaitu pakaian adat jawa. Dengan kualitas pengambilan gambar yang nyaris menyamai film Holywood harusnya bisa memacu semangat anak negeri untuk hasilkan film dengan genre serupa sayangnya dalam film ini hanya budaya Jawa yang ditampilkan sehingga takutnya memberi kesan bahwa Indonesia hanyalah Pulau Jawa saja. Kesan itu makin terasa dengan adanya poster yang bertuliskan Pemerintah yang kuat untuk Jawa yang lebih baik.

Pun penggunaan bahasa Inggris di hampir semua adegan dan percakapan bahkan di lingkungan Keraton, ada baiknya tetap gunakan bahasa Jawa jika mengambil gambar di Keraton sehingga kesan mengangkat budaya akan makin terasa di film ini.

Rabu, 27 November 2013

Bisakah Kita Menyamai Tinggi Mereka?

“Pendek kali pemain-pemain kita ini, yang tertinggi saja hanya setinggi bahu lawan.”

Begitulah ucapan yang terlontar dari ayah saya ketika kami menonton pertandingan sepak bola antara Tim nasional (timnas) Indonesia melawan Timnas Uruguay beberapa tahun lalu. Memang benar, jika diperhatikan rata-rata tinggi badan pemain kita jauh lebih pendek dari tinggi pemain dari negara-negara Amerika Selatan ataupun Eropa. Rata-rata tinggi badan mereka berkisar antara 173-178 sentimeter, sedangkan tinggi rata-rata badan orang Indonesia hanyalah 158 sentimeter saja.


Belum lagi jika dibandingkan dengan beberapa negara dari Asia seperti Jepang atau Korea Selatan. Rata-rata tinggi badan mereka ada pada angka 170 sentimeter. Padahal dulu saya pernah mendengar cerita dari nenek bahwa orang Jepang yang menjajah di tahun 1940-an lebih pendek dari kita. Kenapa orang Eropa, Amerika ataupun Jepang bisa lebih tinggi dari kita? Adakah hubungannya dengan ras?

Sebuah laporan hasil penelitian dari UNICEF pada tahun 2003 menyatakan tak ada korelasinya antara ras seseorang dengan tinggi badan. Dalam laporan itu disebutkan ras yang sama bisa memiliki perbedaan tinggi badan yang mencolok apabila taraf ekonomi dan kesehatannya berbeda, sebagai contoh sekitar tahun 1990-an lalu orang Korea Utara hidup dalam taraf ekonomi dan kesehatan yang buruk, kelaparan banyak melanda negeri itu. Alhasil, remaja yang tumbuh di periode waktu itu memiliki tinggi badan dua belas sentimeter lebih pendek daripada orang Korea Selatan yang hidup lebih makmur pada periode yang sama.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Timothy J Hatton, seorang Profesor dari University of Essex menyimpulkan terjadi kenaikan tinggi badan orang Eropa sebesar sebelas sentimeter dalam kurun waktu 1870-1980. Pada tahun 1870 itu rata-rata tinggi orang Eropa adalah 167 sentimeter, sedangkan tahun 1980 meningkat jadi 178 sentimeter. Data tinggi badan ia dapatkan dari arsip militer dan rekam medis.

Menurut penelitian tersebut naiknya tinggi badan orang Eropa selama seratus tahun itu akibat membaiknya kondisi lingkungan, ekonomi, dan tingkat pendidikan serta asupan gizi dan nutrisi yang tepat. Seperti meningkatnya konsumsi ikan dan kalsium. Ikan mengandung protein yang nilainya sangat tinggi jika dibandingkan sumber protein lain. Protein sangat dibutuhkan tubuh untuk membangun dan mengganti sel yang rusak sehingga dengan cukupnya protein pertumbuhan bisa maksimal. Begitu juga dengan kalsium, kalsium sangat dibutuhkan oleh tulang untuk proses pembentukannya agar kuat dan bagus perkembangannya.        
 
sumber: istimewa
Rendahnya pendapatan ekonomi orang Asia, mengakibatkan mereka lebih sedikit mengkonsumsi makanan penunjang pertumbuhan badan seperti ikan, padahal ikan merupakan salah satu sumber utama untuk memiliki tinggi badan yang ideal. Oleh karenanya, penting bagi orang Asia untuk mengkonsumsi makanan bergizi untuk membantu pertumbuhan tinggi badan yang ideal. Contoh nyatanya adalah Jepang, mereka mengalami peningkatan tinggi badan yang pesat setelah taraf ekonomi dan kesehatan mereka membaik. Kita sering dengar bahwa orang Jepang banyak mengkonsumsi ikan sebagai makanan utamanya.

Dari data dua penelitian di atas membuktikan bahwa ras atau suku tak memiliki pengaruh pada tinggi badan seseorang. Tak selamanya Ras Kaukasoid (ras utama masyarakat Eropa) memiliki postur tubuh yang tinggi, buktinya mereka dulunya juga memilki tinggi badan seukuran orang Indonesia sekarang. Pun begitu dengan Ras Mongoloid (Ras utama masyarakat Asia) tak harus merasa minder memilki tinggi badan yang “mini” sebab Jepang dan Korea Selatan telah membuktikan dengan perbaikan taraf ekonomi dan kesehatan, tinggi badan bisa meningkat dengan cepat. 

Pun begitu dengan penduduk Indonesia. Dengan perbaikan taraf ekonomi dan perbaikan layanan kesehatan akan mendukung pertumbuhan anak-anak Indonesia untuk mencapai tinggi badan yang ideal dan bisa menyamai tinggi badan orang Jepang bahkan Eropa. Kuncinya perbaikan taraf ekonomi akan membuka keran pengkonsumsian makanan penunjang pertumbuhan yang baik seperti ikan dan kalsium yang banyak terkandung pada susu. Sehingga kita pun bisa samai tinggi mereka!

Tulisan ini versi asli dari tulisan yang juga terbit di suarausu.co

Senin, 09 September 2013

The Great Wall of Koto Gadang, Tembok Besar China Ala Bukittinggi

Tak perlu jauh-jauh ke China jika ingin menyaksikan The Great Wall of China yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Cukup datang ke kota Bukittinggi anda bisa merasakan sensasi tembok besar China tersebut plus suguhan pemandangan Grand Canyon ala Bukitinggi, Ngarai Sianok

Januari lalu Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Tifatul Sembiring datang ke kota Bukittinggi. Tujuan kedatangannya ke kota wisata itu kali ini adalah meresmikan obyek wisata baru bernama Janjang Koto Gadang atau The Great Wall of Koto Gadang.Janjang dalam bahasa minangkabau berarti jenjang.

Pemandangan Ngarai Sianok | Gio Ovanny Pratama
Sejatinya The Great Wall of Koto Gadang ini telah ada sejak lama. Dulu disebut sebagai janjang saribu ( jenjang seribu, -red) karena jumlah anak tangga yang berada di daerah ini berjumlah seribu. Kemudian oleh perantau minang yang kemudian menjadi penyandang dana utama sepakat memperbaiki janjang saribu ini dengan tambahan arsitektur bangunan mirip tembok besar di China. 

The Great Wall ini menghubungkan dua daerah di Sumatera Barat. Membentang dari kota Bukittinggi hingga kecamatan IV Koto di Kabupaten Agam. Tepatnya di daerah wisata yang telah terkenal sebelumnya, Ngarai Sianok. Dibangun di tengah-tengah perbukitan menjadikan pemandangan disekitarnya menjadi sangat indah.   

Lokasinya yang berdekatan dengan Lubang Jepang membuat obyek wisata ini sangat mudah untuk di akses. Cukup naik angkot atau mengendarai sepeda motor sudah bisa menikmati suguhan alam dan replika salah satu keajaiban dunia ini.

Janjang Koto Gadang ini memiliki panjang satu setengah kilometer. Lima ratus meter pertama pengunjung harus melewati jalanan menurun menuju sebuah jembatan yang menjadi pintu masuk  janjang. Pengunjung tak dipungut biaya kontribusi untuk masuk. Jalanannya sangat mulus, jalan selebar dua setengah meter ini telah diberi paving block sehingga jalannya terlihat bersih dan rapi. Di sekeliling jalan terhampar sawah milik penduduk, terlihat dinding ngarai yang menjulang tinggi sebab jalanan menurun tersebut sebenarnya mengarah ke dasar ngarai. 

Jenjang Koto Gadang | Gio Ovanny Pratama
Kemudian seribu meter berikutnya, pengunjung harus menyiapkan tenaga ekstra untuk menaiki seribu anak tangga menuju ke puncak ngarai. Itu lah dia janjang Koto Gadang atau The Great Wall Of Koto Gadang tersebut. Keseluruhan anak tangga tersebut tak semerta-merta langsung seribu. Seribu anak tangga  tersebut terbagi-bagi atas beberapa kelompok jenjang. Satu kelompok terdiri atas lima sampai tiga puluh anak tangga. Jarak antar kelompok jenjang juga bervariasi, mulai dari tiga hingga lima meter dengan lebar jalan sebesar dua meter.

Tak sedikit pengunjung yang harus berhenti di tengah jalan untuk beristirahat sejenak akibat kelelahan menaiki anak tangga. Namun ketika beristirahat rasa lelah tersebut langsung tergantikan dengan suguhan pemandangan alam nan elok. Tentu saja semakin tinggi mendaki maka semakin indah pula pemandangan yang tampak. Pemandangan yang lebih indah bakal tersuguhkan jika telah sampai di puncak jenjang atau puncak ngarai. Di puncak beberapa kios makanan telah siap menyediakan bermacam makanan dan minuman untuk mengembalikan stamina, atau sekedar duduk-duduk sambil menikmati pemandangan Ngarai Sianok di tempat duduk yang tersedia. Beberapa toko souvenir juga tersedia bagi pengunjung yang ingin memburu oleh-oleh.

Salah satu sudut jenjang | Gio Ovanny Pratama
Angin kencang di puncak seakan bergantian menyapa pengunjung. Pemandangan kota Bukittinggi bisa terlihat dari kejauhan, Gunung Singgalang pun tepat menjulang tinggi di belakang pengunjung jika melihat ke arah kota. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke puncak. Di puncak ini juga ada monumen peringatan tempat lahirnya pahlawan nasional, H Agus Salim.

Semakin sore pengunjung semakin ramai memadati The Great Wall ini, sebab udara sejuk dan segar akan bisa dinikmati ketika pagi atau mulai siang menjelang sore. Sedangkan jika pengunjung datang di siang hari matahari cukup terik mampu membuat tubuh berkeringat.

Desi Rahayu salah seorang pengunjung menilai obyek wisata baru ini sangat menarik. Menurutnya pemandangan alam di sana sangat indah, ia sendiri sudah enam kali ke Janjang Koto Gadang ini. Namun menurutnya lagi perlu sesuatu yang bisa membuat tempat ini lebih menarik, “Sesuatu yang bisa dijadikan maskot tempat ini, seperti hewan atau apa gitu,” harapnya. 
Mendaki Jenjang | Gio Ovanny Pratama

Berbeda dengan Desi, Hafiz Fikri salah seorang pengunjung berpendapat Janjang Koto Gadang masih butuh sentuhan dari pemerintah daerah setempat baik dari segi pengelolaan dan keberadaan fasilitas umum sebagai pelengkap daerah ini. “Tempat ini bisa jadi lebih menarik jika ada perhatian lebih dari pemerintah setempat,” ungkapnya. 

Tulisan ini juga terbit di suarausu.co

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com