Minggu, 29 Desember 2013

Di Balik Tragedi Pengeboman Yogyakarta

Judul film: Java Heat
Sutradara: Conor Allyn
Produser: Conor Allyn, Rob Allyn, Seth Baron
Pemain: Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Kellan Lutz, Mickey Rourke
Distributor: Margate House
Rilis: April 2013
Durasi: 98 Menit

Sebuah film yang (lagi-lagi) diproduksi oleh sineas luar negeri berhasil mengangkat budaya dan nilai-nilai Jawa di balik pencarian pelaku dan motif teror bom Yogyakarta. 

Conor Allyn kembali produksi sebuah film yang mengangkat budaya dan perjuangan Indonesia, setelah sebelumnya berhasil dengan trilogi garuda; Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), dan Hati Merdeka (2011). Bedanya kali ini Conor angkat genre action di Film Java Heat

sumber: istimewa

Kali ini Conor ceritakan perjuangan seorang Letnan dari Kepolisian Republik Indonesia yang tergabung dalam Detasemen Khusuh (densus) 88 anti teror, seorang Letnan bernama Hashim, (diperankan oleh Ario Bayu) yang berusaha menguak siapa pelaku teror bom disebuah upacara adat di Keraton Yogyakarta. Dibantu oleh seorang letnan dari marinir USA, Jake Travers (diperankan oleh Kellan Lutz).

Cerita bermula ketika bom meledak di Keraton Yogyakarta disaat pesta penobatan Sultana (diperankan oleh Atiqah Hasiholan) menjadi pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono XX. Sultana menjadi korban bom tersebut, Jake Travers berada disana menyaksikan sehingga ia ditahan untuk jadi saksi. Letnan Hashim lah yang mengintrogasinya, karena misi yang diembannya tak ingin diketahui siapapun Jake menyamar sebagai asisten dosen yang mengajar untuk kesenian dan budaya Asia Tenggara. 

Hingga suatu saat penyamarannya diketahui oleh Letnan Hashim. Ia tahu persis mereka sedang meyelesaikan kasus yang sama, namun mereka tak bisa bekerjasama dan memutuskan untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan cara mereka masing-masing. 

Di sela-sela alur cerita yang terus bergerak maju, Conor menyisipkan budaya dan nilai jawa yang begitu kental terasa ditengah era modernisasi teknologi. Misalnya ketika Letnan Hashim mengenalkan panggilan “mas” pada Jake, batik dan becak kayuh yang identik dengan keraton Yogyakarta. Bahkan disatu scene ada dua orang wanita dengan pakaian adat jawa tengah mematung memperagakan tarian jawa, pose mereka terus berganti dalam beberapa detik. Tak lupa Conor juga sempat tampilkan pertunjukan wayang ditengah keramaian pasar malam yang dipenuhi oleh wanita malam, waria dan diskotik. Namun yang tak saya mengerti adalah kenapa Conor menggunakan orang asing untuk memerankan Sultan Hamengkubuwono XX.

Tak hanya nilai dan budaya Jawa, melalui film ini Conor coba tunjukan pada dunia toleransi tinggi antar umat beragama di Indonesia, seperti  tak ada sekat yang membatasi umat Islam, Nasrani dan Budha, buktinya Letnan Hashim memandikan jenazah anak buahnya yang kristiani di pelataran masjid. Conor juga coba jelaskan bagaimana paham jihad yang sebenarnya, melalui tokoh bernama Ahmad, seorang penganut Islam yang taat dan bersedia berjihad, ia bekerja di bawah perintah Malik (diperankan oleh Mickey Rourke). Terjadi pertentangan antara mereka ketika Malik melibatkan orang-orang yang tak bersalah dalam aksinya. “Jihad tidak mengijinkan keterlibatan orang-orang yang tidak bersalah,” begitu ucap Ahmad. 

Puncak cerita terasa dikala diculiknya keluarga Letnan Hashim oleh Malik. Jake tahu itu, ia menawarkan diri untuk bekerjasama dengan Hashim guna menangkap Malik. Disinilah Jake jelaskan semua hasil penyelidikannya selama ini. Rupanya motif pengeboman Keraton Yogyakarta tempo hari lalu bukanlah didalangi oleh teroris melainkan usaha Malik guna memuluskan langkahnya mencuri kalung berlian turunan kerajaan Majapahit yang dipakai oleh Sultana ketika pengeboman terjadi, Malik kerjasama dengan Perdana Menteri Keraton yang ingin mengkudeta kedudukan Sultana untuk menjadi Sultan Hamengkubuwono XXI. 

Kembali nilai budaya keraton sangat terasa di sini, semua yang tinggal dilingkungan keraton memakai sarung dan baju batik. Coba sedikit modern, mereka dilengkapi dengan senjata api bukan senjata tradisional seperti keris. 

Candi Borobudur menjadi latar tempat yang sempurna untuk mengakhiri cerita ini. Di tengah perayaan umat Budha yang berkumpul di pelataran candi, Malik muncul sambil membawa Sultana yang ternyata masih hidup. Semua yang hadir di sana terkejut melihat Sultana yang masih sehat. Sultana dan Malik mendaki puncak Borobudur yang diikuti oleh Jake dan Letnan Hashim. Terjadi baku tembak di puncak Borobudur yang akhirnya dimenangkan oleh Jake dan Letnan Hashim, sayangnya ending yang muncul di sini tak kllimaks dan bisa ditebak.  

Secara keseluruhan Conor sukses membuat kita kembali merenungi budaya sendiri agar tak punah ditelan kemajuan zaman. Kita boleh gunakan teknologi secanggih apapun tapi jangan lupakan warisan budaya kita. Pesan tersebut sangat terasa ketika salah seorang prajurit keraton yang gunakan Ipad untuk melacak keberadaan Letnan Hashim dan Jake namun mereka tetap gunakan kostum tradisional yaitu pakaian adat jawa. Dengan kualitas pengambilan gambar yang nyaris menyamai film Holywood harusnya bisa memacu semangat anak negeri untuk hasilkan film dengan genre serupa sayangnya dalam film ini hanya budaya Jawa yang ditampilkan sehingga takutnya memberi kesan bahwa Indonesia hanyalah Pulau Jawa saja. Kesan itu makin terasa dengan adanya poster yang bertuliskan Pemerintah yang kuat untuk Jawa yang lebih baik.

Pun penggunaan bahasa Inggris di hampir semua adegan dan percakapan bahkan di lingkungan Keraton, ada baiknya tetap gunakan bahasa Jawa jika mengambil gambar di Keraton sehingga kesan mengangkat budaya akan makin terasa di film ini.

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com