Jumat, 02 Januari 2015

Cerita Liputan Nias: Menuju Pulau Nias

Akhir Maret lalu saya kebagian liputan ke Pulau Nias bersama tiga rekan lainnya, Adam, Dian dan Renti. Kami dibagi dua tim, masing-masing membahas tema yang berbeda. Saya dan renti akan meliput mengenai wisata Pantai Sorake dan Lagundri, sedang Adam dan Dian akan liput Bahasa Nias.

Liputan kali ini terasa sangat menantang. Ini lah liputan saya yang terjauh sebagai Pers Mahasiswa, sebelumnya liputan terjauh saya adalah di Parapat. Selain lokasi yang jauh asyiknya tema liputan kali ini juga memacu adrenalin untuk segera ke sana.

Suasana di dalam Kapal "selam" hahaha...
Kami berangkat minggu pertama April, perkiraan kami Jumat malam sudah kembali berada di Medan. Menuju Pulau Nias sebenarnya bisa via udara atau darat plus laut. Jika lewat udara bisa dari Bandara Kuala Namu menuju Bandara Binaka di Gunungsitoli, dengan alasan tertentu kami memilih rute darat.

Dari Medan menuju Sibolga, perjalanan darat ini kami lewati dengan menaiki mobil travel. Minggu malam pukul sebelas lebih kami mulai perjalanan. Kata teman-teman, dari Medan ke Sibolga menghabiskan waktu sekitar sembilan jam, namun jika berangkat malam bisa sampai Sibolga lebih cepat, hanya enam jam.

Diawal perjalanan kami sempat bercerita mengenai kepergian kami. Ternyata beberapa dari kami pergi tanpa bilang ke orangtua, saya lah salah satunya. Pun begitu dengan kuliah, terpaksa beberapa mata kuliah minta tolong pada teman terdekat untuk titip absen. Namun berhubung semuanya  udah semester akhir tak banyak mata kuliah yang harus dititip absen.

Jalan-jalan sore di Kota Gunungsitoli
Kami pun sempat merasa sedih dengan rekan dan teman seorganisasi yang kami tinggalkan sementara waktu. Kami semua yang pergi adalah tiga kepala bagian dan saya sendiri sebagai pemimpin umum, empat dari enam orang pengurus inti organisasi harus pergi sementara waktu, tinggal lah dua pengurus lain.  Sempat terbayang jika terjadi apa-apa dengan kami. Hmmmmm…

Esoknya pukul tujuh pagi kami sudah sampai di Sibolga. Langsung saja kami minta antar ke pelabuhan untuk naik kapal menuju Pulau Nias. Dari informasi yang kami dapat kapal hanya berangkat dua kali sehari, pagi dan malam. Jadi kalau ketinggalan kapal pagi kami harus menunggu kapal malam. Mengingat waktu yang sedikit kami harus dapatkan kapal pagi!

Saya juga dapat informasi dari paman yang tinggal di Teluk Dalam, Nias. Tiap senin ada kapal jet yang berangkat pagi, kapal lebih cepat sampai namun biayanya juga lebih mahal. Perjalanan dengan kapal biasa menghabiskan waktu enam hingga tujuh jam, namun jika dengan kapal jet bisa sampai ke pelabuhan di Gunugsitoli hanya empat jam.

Sembari sarapan kami mendiskusikan kapal mana yang akan dinaiki. Sebelumnya sopir mobil travel yang kami tumpangi mengenalkan kami pada salah seorang yang punya tiket kapal jet menuju Gunungsitoli, harganya ternyata lebih mahal dari info yang diberi paman saya sebelumnya.

Sore hari disalah satu pantai di Gunungsitoli
Awalnya kami tak mau dengan rekomendasi itu, namun setelah diskusi dan mendengar pendapat penduduk sekitar kami putuskan untuk naik kapal jet yang ditawari tadi. Ditambah lagi penyeberangan untuk esok hari telah di-booking semua oleh TNI dan Polri. Mereka akan bertugas mengamankan pemilihan umum di Nias. Oh ya kala itu bertepatan dengan pemilihan calon legislatif.

Jadi lah setelah sarapan kami bersiap menuju kapal. Kami berpikir kapal yang akan kami tumpangi merupakan kapal besar, namun rupanya bukan begitu. Kapal tidak besar, tidak pula kecil, hanya mampu memuat maksimal seratus orang. Kapalnya hampir mirip kapal selam, tak ada bangku di atapnya. Kursi untuk penumpang dan nakhoda ada di dalam badan kapal. Pintu masuknya kecil, hanya muat untuk satu orang jadi harus antri.

Selama perjalanan juga tak bisa keluar, hasilnya kami hanya bisa menikmati perjalanan dari dalam kapal sesekali menengok birunya Samudera Hindia dari jendela kapal yang berdiameter setengah sentimeter.

Padahal ekspektasi saya di awalnya adalah bisa menikmati kencangnya angin laut dari atap kapal. Tak apa lah, kapal ini memang sengaja di-set begitu karena memang mengutamakan kecepatan berlayarnya. Begitu saya coba menghibur hati.

Oh iya ada kejadian yang cukup membuat kami ketar-ketir. Rupanya orang yang memesan tiket untuk kami tidak memesan tiket secara resmi. Bisa dibilang kami adalah penumpang gelap, tanpa tiket! Pantas saja harganya lebih mahal. Kami sempat merasa aneh karena tak diberi tiket, padahal penumpang lain mengantongi tiketnya masing-masing. Setelah deal dengan  harga tiket kami langsung diantar ke kapal dan langsung dipersilakan memilih kursi untuk duduk.

Suasana pelabuhan di Gunungsitoli
Namun si pemesan tiket ini menjamin bahwa kami akan berangkat dengan selamat, saya sempat berpikir kami akan diusir dari kapal. Kemudian dia memberikan nomor ponselnya pada saya. “Kalau ada apa-apa hubungi saja nomor itu,” begitu katanya.

Kapal akan berangkat pukul sembilan, menjelang pukul Sembilan petugas kapal mulai berkeliling memeriksa tiket, kami pucat karena tak mengantongi tiket. Saya hanya mengantongi nomor si pemesan tiket tadi dan namanya. Ia juga berpesan “Sebut saja nama saya ke petugas nanti.”

Kekhawatiran kami baru sirna setelah si pemesan tadi datang ke kapal untuk memeriksa kami. Waktunya pas ketika si petugas hampir menanyai kami. Kami langsung bilang ke petugas pesan yang dititipkan tadi. Si petugas kemudian mengkonfirmasi pada si pemesan tiket. Setelah itu baru lah kami bisa tenang. Fiiuhhhh….

Setelahnya perjalanan laut selama lebih kurang empat jam kami lalui. Tak ada yang mabuk laut walaupun ini pertama kalinya kami naik kapal.
Selfie di atas becak 

Pukul setengah dua kami sudah sampai di pelabuhan. Kami dijemput Rahmat. Ia adik dari senior kami Kartini, yang bersedia memberikan tumpangan tempat tinggal selama kami liputan di Nias.  Ada juga dua orang lagi yang kami kenal, Vindo dan Firman, sama-sama berkuliah di USU.

Akhirnya kami menuju rumah Rahmat menggunakan becak. Dari pelabuhan ke rumah Rahmat tidaklah jauh, hanya sepuluh menitan, mungkin kurang.

Sesampainya di rumah, kami berkenalan dengan orangtua Rahmat. Rupanya Vindo dan Firman juga menginap di sana. Kami dipersilakan untuk makan siang, rupanya makanan sudah siap saji, tinggal disantap. Wah baik sekali.

Sorenya kami dibawa Firman dan Vindo ke pantai terdekat. Sebelumnya Adam dan Dian coba ke Museum Nias untuk membuat janji dengan narasumber.

We Are Here in Nias
Hari Senin, hari pertama di Nias begitu mengesankan, penduduk Nias sangat ramah. Begitu juga orangtua Rahmat kami dilayani dengan sangat baik, bak tamu hotel bintang lima. Setelah makan malam kami mendiskusikan perjalanan esok menuju Lagundri dan Sorake di Teluk Dalam kemudian istirahat.



Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com